Gulalives.com,JAKARTA – Stigma bahwa properti dan konstruksi adalah dunia laki–laki diduga masih sangat kuat. Di era persamaan gender saat ini, dugaan tersebut serasa mengejutkan. Namun faktanya, kehadiran perempuan di industri properti dan konstruksi, memang masih minim. Organisasi Women In Property (WiP), yang bermarkas di Inggris menyebutkan, keterlibatan perempuan hanya 15% dari total ahli dan pekerja yang bekerja di sektor ini. Artinya, 85% masih didominasi oleh laki–laki. Apa yang salah ya?

Tak perlu sibuk mencari apa dan siapa yang salah. Paling bijaksana adalah menyikapi dan mencari solusinya. Dan WiP sudah punya solusinya. “Caranya, dapatkan mereka saat mereka masih muda,” ujar Ketua WiP Elspeth Burrage, seperti dikutip dari laman Women In Property. Mereka adalah para perempuan muda yang kini masih menggali ilmu di bangku sekolah dan perguruan tinggi.

Elspeth dan koleganya terus aktif mendekati kalangan bisnis dan organisasi industri untuk menyeimbangkan rasio keterlibatan perempuan dan laki – laki di properti dan konstruksi. “Kami bekerja sama untuk memperbaiki keseimbangan ini,” kata Elspeth.

Tak hanya itu. WiP juga menyediakan forum yang dinamis bagi perempuan. Saat bersamaan juga mendorong lahirnya para perempuan berbakat di sekolah-sekolah dan universitas. Keprihatinan akan minimnya kehadiran perempuan di industri properti dan konstruksi juga dirasakan oleh pemenang National Student Awards tahun ini, Jessica Dowdy. Tak hanya fakta di industri properti, Jessica juga prihatin atas realita di kampusnya.

“Sebagai seorang mahasiswa di sekolah independen semuanya perempuan, saya terkejut saat mengetahui bahwa saya adalah satu-satunya orang di sejarah sekolah yang memilih gelar berbasis konstruksi,” papar Jessica.
Saat ini, dia tercatat sebagai mahasiswa Manajemen Proyek Konstruksi di Oxford Brookes University.

WiP terus tertantang untuk terus membuka jalan bagi para perempuan muda yang tergerak ke industri properti. Semangat ini semakin terasa setelah munculnya survei Open Plan mengenai latar belakang tergeraknya para generasi muda itu ke dunia properti.

Temuan survei menyebutkan, sebagian dari mereka mencari tahu sektor properti karena ‘kecelakaan’, sebagian lain karena faktor keluarga. Survei juga menyebutkan tentang pemisahan secara tegas tentang aktivitas perempuan dan laki – laki di dunia properti. Di sekolah, para siswa laki – laki mendapatkan batu bata sebagai simbol pekerjaan keras mereka di properti. Sedangkan siswa perempuan diarahkan ke pekerjaan agen real estat.

Elspeth menilai, tidak ada yang salah dalam pembagian aktivitas tersebut. Namun, dia khawatir tindakan itu akan mengurangi pemahaman mereka tentang properti secara menyeluruh.

Semoga semakin banyak perempuan berbakat masuk ke sektor properti. (AA/SY)

LEAVE A REPLY