desa mina_www.mongabay.co.id

Jakarta, Gulalives.com – Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan mengapresiasi keberhasilan model kewirausahaan pakan ikan mandiri yang dikelola Koperasi Desa Mina Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Model kewirausahaan pakan ikan mandiri yang dihasilkan koperasi ini dapat menjadi contoh pengembangan perikanan pada lokasi-lokasi yang memilki karakteristik serupa,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), Achmad Poernomo di Jakarta, Jumat.

Koperasi Desa Mina ini juga dapat menjadi sentra pembelajaran bagi masyarakat lain yang ingin mengembangkan perikanan, ujarnya.

desa mina1_www.mongabay.co.id
desa mina1_www.mongabay.co.id

Achmad mengatakan, ketersediaan pakan ikan dengan harga terjangkau dan memenuhi kriteria SNI (Standar Nasional Indonesia) menjadi hal yang wajib bagi peningkatan produksi perikanan budi daya.

“Harga jual pakan mandiri di Koperasi Desa Mina lebih murah dari pakan komersial karena harganya hanya berkisar antara Rp6.500- 7.000/kg. Ini mampu menekan biaya operasional para pembudi daya ikan sebesar 25-35 persen,” katanya.

Meski murah, pabrik pakan ikan mandiri ini, ujarnya, mendapat dukungan dari formulator pakan ikan sehingga kualitas produksinya tidak kalah dan sesuai standar, ujarnya.

Hal itu, menurut dia, menunjukkan bahwa Program Iptekmas (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Masyarakat) dan Kimbis (Klinik Iptek Mina Bisnis) yang telah dilaksanakan Balitbang KP sejak 2011 telah menuai hasil.

Sementara itu, Peneliti Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Balitbang KP Budi Wardono mengatakan sebelum ada Klinik Iptek Mina Bisnis (Kimbis), kegagalan masyarakat dalam membudidayakan ikan di Desa Mina tinggi.

“Setelah ada asistensi dari Kimbis keberhasilan yang sebelumnya hanya 40 persen jadi meningkat menjadi 80 persen, kegagalannya turun dari 60 persen menjadi hanya 20 persen,” katanya.

Menurut dia, jika pada awalnya (2011) di Desa Genjahan Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul hanya ada 63 kelompok pembudi daya perikanan maka sekarang 2015 sudah meningkat menjadi sekitar 300 kelompok yang tersebar di 10 desa di lima kecamatan menjadi mitra Kimbis.

Achmad Poernomo juga mengatakan bahwa kebutuhan pakan ikan yang tumbuh sekitar 12-15 persen per tahun, memungkinkan pabrik pakan ikan mandiri berkontribusi terhadap industri pakan ikan nasional.

Jika peran pakan ikan mandiri bisa berkontribusi 5 -10 persen dari total kebutuhan pakan ikan, ujarnya, maka sangat banyak biaya produksi yang dapat dihemat para pembudidaya ikan.

LEAVE A REPLY