Denmark Jadi Negara Paling Bahagia Sedunia

Gulalives.com, JAKARTA – Negara yang disebut dengan negeri Dinamit, Denmark menjadi negara yang dinilai paling bahagia di seluruh dunia, menggeser Swiss yang pada tahun lalu menempati urutan pertama. Negara lain yang berada dalam 10 besar di antaranya adalah Australia, Selandia Baru, dan Belanda.

Dilansir Gulalives.com dari laman VOA, Jumat (18/3/2016), Denmark pada Rabu, 16 Maret 2016 kemarin di Roma, Italia, didapuk badan PBB atau Perserikatan Bangsa-Bangsa, SDSN (Sustainable Development Solutions Network)sebagai negara paling bahagia di antara 156 negara anggota PBB.

Denmark Negara paling bahagia. (Foto: Spiele)
Denmark Negara paling bahagia. (Foto: Spiele)

Di tempat kedua dan 10 besar disusul Swiss, Islandia, Norwegia, Finlandia, Kanada, Belanda, Selandia Baru, Australia dan Swedia. Sementara 10 negara terbawah atau paling melarat, ditempati Madagaskar, Tanzania, Liberia, Guinea, Rwanda, Benin, Afghanistan, Togo, Suriah dan Burundi di urutan buncit.

Sementara, Indonesia menempati urutan 79 dari 157 negara dan berada di bawah sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara. Sejumlah negara tetangga seperti Malaysia (47), Singapura (22), Thailand (33), dan bahkan Filipina (82) menempati urutan yang lebih tinggi dalam indeks tersebut.

Kondisi negeri Denmark. (Foto: IST)
Kondisi negeri Denmark. (Foto: IST)

Di sisi yang berseberangan, negara-negara terbawah pada umumnya merupakan negara yang dilanda perang atau keamanan yang tidak stabil seperti Suriah dan Afghanistan. Indeks UNSDN mengukur kebahagiaan suatu negara dalam skala 0 sampai 10 dengan mempertimbangkan faktor-faktor berupa perdapatan per kapita, dukungan sosial, usia harapan hidup sehat, kebebasan menentukan pilihan, kedermawanan, dan persepsi korupsi.

Namun demikian, uang bukan satu-satunya penentu kebahagiaan. Warga Filipina yang rata-rata mendapatkan penghasilan lebih rendah dibanding Indonesia ternyata bisa hidup lebih bahagia karena dinilai lebih dermawan dan bebas menentukan pilihan hidup.

Suasana sore di Kopenhagen. (Foto: IST)
Suasana sore di Kopenhagen. (Foto: IST)

Amerika Serikat berada di peringkat 13, Inggris di 23, Perancis 32, dan Italia 50. Indonesia ada di nomor 79. “Ada pesan kuat untuk negara saya, Amerika Serikat, yang sangat kaya, dan semakin makmur dalam 50 tahun terakhir, tapi tidak bertambah bahagia,” ujar Profesor Jeffrey Sachs, kepala SDSN dan penasihat khusus Sekjen Ban Ki-moon.

Meski perbedaan antara negara-negara yang rakyatnya bahagia dan mereka yang tidak bahagia tidak dapat diukur secara ilmiah, “kita dapat memahami mengapa dan melakukan sesuatu untuk itu,” ujar Sachs, salah satu penulis laporan tersebut kepada Reuters, dalam sebuah wawancara di Roma.

Lalu lintas di Denmark. (Foto: IST)
Lalu lintas di Denmark. (Foto: IST)

“Pesan untuk Amerika Serikat jelas. Untuk masyarakat yang hanya mengejar uang, kita mengejar hal-hal yang salah. Struktur sosial kita memburuk, kepercayaan sosial memburuk, kepercayaan terhadap pemerintah memburuk,” ujarnya.

Bertujuan untuk “menyurvei landasan ilmiah untuk mengukur dan memahami kesejahteraan subyektif,” laporan tersebut, yang merupakan edisi keempat, memeringkat 157 negara berdasarkan tingkat kebahagiaan menggunakan faktor-faktor seperti produk domestik bruto (PDB) dan tahun-tahun hidup sehat dalam angka harapan hidup.

Warga Denmark tertawa bahagia. (Foto: VOA)
Warga Denmark tertawa bahagia. (Foto: VOA)

Laporan ini juga memasukkan faktor “memiliki seseorang yang diandalkan di saat sulit” dan kemerdekaan dari korupsi dalam pemerintahan dan usaha. “Ketika negara-negara hanya mengejar tujuan-tujuan individual, seperti pembangunan ekonomi dengan mengabaikan tujuan sosial dan lingkungan, hasilnya bisa sangat merugikan kesejahteraan manusia, bahkan berbahaya untuk kelangsungan hidup,”menurut laporan tersebut.

Laporan pertama dikeluarkan tahun 2012 untuk mendukung pertemuan PBB mengenai kebahagiaan dan kesejahteraan. Lima negara — Bhutan, Ekuador, Skotlandia, Uni Emirat Arab dan Venezuela — sekarang telah menunjuk Menteri Kebahagiaan yang bertugas mendorongnya sebagai tujuan kebijakan publik.

“Banyak negara dalam tahun-tahun belakangan ini mencapai pertumbuhan ekonomi namun disertai peningkatan ketidaksetaraan yang tajam, penyingkiran sosial yang mengakar, dan kerusakan besar terhadap lingkungan,” pungkasnya. (DP)

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY