Perpisahan Orangtua bisa Menyebabkan Depresi pada Anak?

curiousmindmagazine.com

Gulalives.co – Ramainya berita tentang penyanyi Gisella Anastasia (Gisel) menggugat cerai suaminya, Gading Marten (Gading) di dunia maya. Membuat banyak mata terbuka pada dampak yang dirasakan anak akibat perpisahan orangtua.

Related image
huffingtonpost.ca

Gisel dan Gading sudah dikarunia seorang anak perempuan yang saat ini berusia tiga tahun. Meski masih belum diketahui alasan gugatan perceraian pasangan selebriti ini, perpisahan orangtua tetap bisa memberi dampak psikologis bagi anak.

Perpisahan orangtua memang kerap dijadikan jalan keluar terakhir yang dipilih, untuk menyudahi masalah dalam rumah tangga yang sulit dihadapi. Banyak pasangan yang memutuskan untuk bercerai, dengan alasan ingin menyembuhkan luka dan menghindari hubungan menjadi semakin tidak sehat. Namun, dalam perceraian, nyatanya perasaan anaklah yang paling terluka dan harus dikorbankan.

Baca Juga: Gisella Anastasia Gugat Cerai Gading Marten

Sebuah studi psikologi dari University of Virginia, menyebutkan bahwa perpisahan orangtua bisa menimbulkan efek negatif bagi anak. Dalam jangka pendek, perceraian orangtua bisa menyebabkan anak mengalami kecemasan, kemarahan, terkejut, dan merasa tidak percaya diri.

Sementara studi lainnya dari State University mengatakan, perceraian orangtua juga bisa memberi dampak pada prestasi akademik anak, di kemudian hari. Selain itu, ternyata ada beberapa dampak psikologis lain yang bisa terjadi pada anak yang harus menghadapi perceraian orangtuanya. Apa saja?

Cemas dan Depresi

Salah satu dampak yang bisa terjadi pada anak akibat perpisahan orangtua adalah perubahan pada kondisi mental. Anak yang harus menghadapi perceraian orangtua sering mengalami kecemasan, depresi, dan menjadi lebih mudah marah.

Selain itu, pasca orangtua bercerai, biasanya anak akan menjadi lebih sulit untuk bertemu dengan salah satu orangtua mereka. Tentu saja hal ini akan berdampak negatif pada psikologis dan perkembangan mental anak, bahkan pada beberapa kasus bisa menyebabkan hilangnya dukungan finansial dari orangtua.

Menjadi Sasaran Emosi

Perceraian juga bisa membuat anak menjadi sasaran emosi orangtua, terutama selama perpisahan masih dalam proses. Sebab, tanpa disadari orangtua mungkin akan membebankan ketidakbahagiaannya pada anak. Terkadang, perubahan emosi yang terjadi pun bisa saja dilampiaskan pada anak, sehingga tanpa sadar hal itu bisa melukai perasaan buah hati mereka.

Mudah Sakit

Selain masalah psikologis, perceraian orangtua juga ternyata berdampak pada kesehatan anak. Dilansir dari Universitas Carnegie Mellon, menyebutkan bahwa anak yang memiliki orangtua bercerai, akan cenderung lebih mudah mengalami sakit, terutama flu. Namun, hal itu ternyata tidak terlalu berpengaruh pada anak yang kedua orangtuanya masih menjalin komunikasi dengan baik, pasca bercerai.

Tidak Percaya pada Hubungan

Bahkan, dalam jangka panjang, perceraian orangtua ternyata juga bisa berdampak pada cara anak memandang hidup, terutama soal pasangan. Dampak perceraian orangtua ternyata bisa memengaruhi keinginan anak untuk menikah, atau cara pandangnya dalam menjalani sebuah hubungan di masa depan.

Anak korban perceraian cenderung tidak percaya dengan hubungan serius, dan menghindari pernikahan. Pada satu titik, hal ini bisa menyebabkan anak yang sudah beranjak dewasa menjadi kesepian dan mengalami gangguan psikologis serius.

Maka, saat memutuskan untuk berpisah, ada yang perlu orangtua pertimbangkan, mengenai beberapa hal yang anak-anak inginkan, seperti:

Related image
summitkids.com
  • Anak berharap kedua orangtua akan tetap terlibat dalam kehidupannya. Seperti tetap berkirim pesan, menelpon, saling mengunjungi, dan bercerita apa pun selayaknya anak dan orangtua. Karena, ketika salah satu sudah tidak mau terlibat, ia akan merasa diabaikan dan tidak lagi penting.
  • Dia tidak ingin kedua orangtuanya bertengkar, yang diinginkannya adalah saling menyetujui pendapat satu sama lain. Apalagi ketika kalian bertengkar tentang hal-hal yang berhubungan dengan anak, maka hal ini akan membuatnya merasa bersalah.
  • Dia ingin tetap menyayangi kalian berdua dan menikmati waktu bersama. Jadi, tetap beri dukungan dan nikmati waktu-waktu saat bersama anak.
  • Dia menginginkan komunikasi secara langsung, bukan melalui perantara.
  • Saat kamu sedang bersamanya dan membicarakan mantan pasangan yang juga orangtuanya, jangan menceritakan hal-hal buruk, karena ini akan membuat anak memiliki rasa benci. Entah dia akan berpihak pada kamu, atau justru pada mantan pasanganmu. Tetap netral adalah sikap yang tepat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here