Cara Tepat Tangani Anak yang Lambat Berbicara

0
44 views
Ilustrasi ibu dan anak.

Gulalives.com, SEMARANG – Dear bunda, saat Anda mengetahui bahwa buah hati Anda mulai berada pada usia tiga tahun ke atas, anak mulai bergaul dengan teman sebayanya, sehingga kemampuan bicara menjadi hal utama dalam pergaulan.

Namun, jika anak Anda mengalami keterlambatan bicara, sebaiknya segera lakukan terapi. Tak perlu bingung, karena sejatinya kini ada terapi sederhana atasi anak lambat bicara.

Ibu dan anak. (Foto: IST)
Ibu dan anak. (Foto: IST)

Dilansir Gulalives.com dari berbagai sumber kesehatan, keterlambatan bicara pada anak bisa disebabkan berbagai faktor, yakni mengalami hambatan pendengaran. Bila anak mengalami kesulitan dalam pendengaran, secara otomatis menyebabkan anak kesulitan meniru, memahami, dan menggunakan bahasa. Masalah pendengaran pada anak biasanya disebabkan adanya infeksi telinga.

Selain itu, faktor kedua adalah adalah hambatan perkembangan otak. Adanya gangguan pada daerah oral-motor di otak mengakibatkan ketidakefisienan  hubungan di daerah otak yang berperan untuk menghasilkan bicara. Sehingga kondisi ini dapat menyebabkan anak kesulitan menggunakan bibir, lidah, dan rahang untuk menghasilkan bunyi.

Faktor lainnya adalah masalah keturunan. Nah, keterlambatan bicara juga bisa dipengaruhi oleh faktor keturunan. Meski belum ada penelitian yang bisa membuktikan kebenarannya, tapi biasanya anak yang terlambat bicara ternyata memiliki riwayat keluarga yang mengalami gangguan yang sama.

Ibu dan anak. (Foto: IST)
Ibu dan anak. (Foto: IST)

Kemudian, faktor lainnya adalah minimnya komunikasi. Interaksi dan komunikasi antara orangtua dengan anak bisa menstimulasi anak untuk memperbanyak kosa katanya. Sayangnya, beberapa orangtua tidak menyadari jika cara berkomunikasi mereka berpengaruh terhadap perkembangan anak.

Ada juga bisa dipengaruhi faktor televisi. Anak yang sering menonton televisi akan menjadi pendengar yang pasif, anak hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Menonton televisi juga bisa membuat anak menjadi traumatis karena menyaksikan tayangan yang berisi adegan perkelahian, kekerasan, dan seksual.

Lalu, bagaimana cara melakukan terapi?

Ibu dan anak. (Foto: IST)
Ibu dan anak. (Foto: IST)

Yang pertama, Matikan televisi saat tidak ditonton. Suara televisi mengganggu konsentrasi anak mendengar percakapan. Kemudian, ajari anak bahasa isyarat.

Langkah berikutnya, gunakan flash card bergambar sederhana, dan minta anak sebutkan dan mengulangi apa yang dilihatnya. Cara berlatih meniup sedotan misal meniup kapas di meja juga bisa digunakan. Cara sederhana ini membantu menguatkan otot wajah dan mulut yang banyak digunakan saat bicara.

Anak juga bisa dilatih dengan minum menggunakan sedotan. Pilihkan sedotan unik sehingga anak merasa tertarik melakukan aktivitas ini. Kemudian, taruh benda kesukaan di luar jangkauan, sehingga anak terpancing bicara meminta bantuan untuk mengambilnya.

Ajarkan anak meminta bantuan menggunakan bahasa isyarat dan ajarkan cara pengucapannya. Jangan lupa, selalu puji anak saat berusaha atau berhasil melakukan berbagai aktivitas tersebut.

Adakah cara lainnya?

Ilustrasi ibu dan anak.
Ilustrasi ibu dan anak.

Ya, ada. Bisa melakukan konsultasi dengan dokter/psikolog/psikiater tentang apa yang seharusnya dikuasai oleh anak pada usia tetetentu. Usahakan mencari the second opinion untuk memperkuat pernyataan dokter yang lain dan memperkaya informasi tentang kondisi anak kita yang sebenarnya.

Kemudian, sediakan waktu mengajak anak berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Hal ini akan merangsang anak agar lebih termotivasi untuk belajar bicara, karena bermain bersama anak-anak yang lain membutuhkan kemampuan komunikasi verbal.

Terus lakukan stimulasi dengan mengajak anak berkomunikasi meskipun anak belum mampu berbicara dengan baik. Masa BATITA adalah masa meniru, sehingga ketika orang tua intens mengajaknya berbicara pasti kosa kata anak semakin banyak pula. (DP)

 

LEAVE A REPLY