10 Cara Mendidik Anak Perempuan dalam Islam

0
5 views
republika.co.id

Gulalives.co – Sebenarnya, memiliki anak perempuan pun laki-laki itu sama saja. Semuanya adalah karunia Allah SWT. Masing-masing dari mereka juga mempunyai kelebihannya sendiri. Namun, untuk kamu yang melahirkan anak perempuan, jangan bersedih.

Image result for anak perempuan muslimah
kaumhawa.com

Jangan menganggap bahwa perempuan itu lemah. Karena sebaliknya, anak perempuan justru anugerah terindah yang bisa menjadi penolong bagi orang tuanya kelak. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadist shahih:

“Barang siapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, kelak mereka akan menjadi penghalang dari api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Seorang perempuan yang masih kecil, bisa menjadi penyelamat orang tuanya di akhirat kelak. Ketika perempuan sudah menikah dan menjadi ibu, maka surga berada di bawah telapak kakinya.

Jadi, kita tidak boleh meremehkan perempuan. Namun, rasul juga mengatakan bahwa penduduk neraka terbanyak adalah perempuan. Karena, sifat perempuan memang mudah terjerumus ke dalam hal-hal buruk.

Kalau keluargamu ingin menjadi penghasil generasi perempuan yang sholehah, maka sebagai orang tua, kamu harus bisa mendidik anak-anak perempuan dengan benar sesuai syariat agama. Seperti cara rasulullah mendidik anak perempuan yang bisa kita teladani, yakni:

Mengajarkan Ilmu Tauhid

Dasar dari agama islam adalah ilmu tauhid, yakni konsep tentang ketuhanan. Maka itu, hal pertama yang wajib orang tua ajarkan pada anak perempuannya adalah tentang Allah. Bahwa Allah itu Tuhan yang menciptakan manusia, dan Allah itu Maha Esa. Ajarkan anak untuk mengucapkan Lailaha illaallah.

Caranya dengan mengulang-ngulang terus bacaan syahadat tersebut, setiap hari hingga anak mulai familiar mendengarkannya. Pada akhirnya, anak pasti akan ikut mengucapkannya. Setelah itu, kamu bisa menambahkan kosakata baru yakni Muhammad Darrasullullah, Muhammad adalah rasul utusan Allah SWT.

Dijelaskan dari Ibn Abbas, Rasullullah SAW bersabda: “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah. Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman)

Bersikap Lemah Lembut

Rasulullah memberikan contoh pada kita untuk bersikap lemah lembut pada anak-anak perempuan. Tidak ada salahnya membiarkan anak bermain boneka atau mainan lainnya di dalam rumah, selama itu tidak menyalahi syariat agama.

Beliau juga sering menggendong anak perempuannya, mengusap kepalanya, memanggilnya dengan lembut, dan medoakan mereka. Jangan berbuat kasar pada anak perempuan, apalagi memukulnya.

Sebab, perbuatan ini hanya akan membuat anak menjadi semakin membangkak. Jika memang anak melakukan kesalahan, sebaiknya berikan nasehat secara baik-baik.

Memberikan Pendidikan Umum dan Pemahaman Tentang Fiqih Wanita

“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa. Maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku.” Kemudian Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau.” (HR Muslim 2631)

Hadist di atas menjelasakan bahwa orang tua wajib mengayomi anak perempuannya. Menganyomi dapat diartikan memberikan pendidikan yang layak, baik itu pendidikan agama pun umum (seperti ilmu bahasa, matematika, sains, atau sosial).

Meski, pada akhirnya seorang perempuan menjadi ibu rumah tangga, tapi perempuan tetap berhak memperoleh pendidikan bagus. Sebab, perempuan adalah tiang-nya negara. Apabila perempuan tersebut bagus pendidikannya dalam ilmu agama dan umum, maka ia juga bisa membentuk generasi rabbani yang cerdas.

Tak perlu ragu lagi untuk memberikan pendidikan tentang permasalahan kewanitaan pada buah hati sejak ia berusia dini (kurang lebih 8 tahun). Karena, hal ini sangat penting.

Tujuannya agar anak tidak memperoleh informasi yang salah dari pihak lain. Orang tua boleh mengajarkan tentang masalah haid, pernikahan atau lainnya. Belajar untuk bersikap terbuka pada anak, tapi tetap tidak keluar dari batas usianya.

Mengajarkan Akhlak Mulia

Rasulullah shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Rasulullah SAW merupakan manusia yang memiliki akhlak paling terpuji. Tentunya, hal ini menjadi tuntunan atau contoh bagi umat islam. Rasul juga kerapkali mengajarkan pada anak-anaknya tentang cara berperilaku yang baik pada sesama. Biasanya hal ini diajarkan oleh rasul lewat kisah-kisah nabi dan penyampaian ayat-ayat Al-Qur’an.

Baca Juga: Cara Sederhana Mengenalkan Allah pada Anak

Mengajarkan Cara Bergaul

Seorang anak perempuan juga harus diberikan bekal pendidikan tentang tata cara bergaul sejak kecil. Baiknya, sebagai orang tua, kita bisa menjelaskan tentang batasan-batasan bergaul dengan laki-laki.

Sebagaimana yang telah dilakukan oleh rasul, beliau mengajarkan anak perempuannya untuk tidur terpisah dengan anak laki-laki mereka, sejak usia si anak mencapai 10 tahun. Beliau juga memberikan penjelasan tentang pentingnya perempuan untuk menjaga pandangannya, dan berpenampilan agar tidak menyerupai laki-laki.

Jangan lupa juga untuk memberikan contoh pada anak untuk beradab yang baik, dan sesuai syariat agama. Mulai dari adab berpakaian, adab makan, adab berbicara dengan orang lain, adab tidur, dan lain sebagainya. Karena, dengan demikian ajaran-ajaran tersebut akan tertanam di pikiran anak hingga ia dewasa nanti.

Mengajarkan Doa-doa Harian

Anak juga perlu diajarkan tentang doa-doa harian. Seperti doa sebelum dan sesudah makan. Doa tidur, doa bercermin, doa keluar rumah, masuk kamar mandi dan lain sebagainya.

Ajarkan pula kalimat Bismillah pada anak, saat ia hendak melakukan sesuatu. Kemudian ketika urusan itu selesai, berikan contoh untuk mengucapkan Alhamdulillah. Tak lupa juga, ajari anak mengucapkan insya Allah ketika akan membuat janji. Karena, dengan begini, anak akan terbiasa dan mempraktekkannya hingga dewasa.

Mengajarkan Ilmu Agama

Jangan menunggu dewasa untuk mengajarkannya agama. Meski saat usianya masih balita, orang tua harus mulai menanamkan nilai-nilai agama. Seperti mengajari anak membaca Al-Qur’an. Kamu bisa menyekolahkan anak di TPQ atau madrasah mengaji, ketika usianya menginjak 2-3 tahun.

Sedangkan, untuk shalat dan puasa, walaupun kewajibannya dilakukan ketika mereka sudah baligh, tapi lebih baik kita mengajarkannya sejak mereka kecil. Kita bisa mulai mengajarinya tentang kiblat, tata cara berwudhu, dan gerakan solat, saat usianya menginjak 4-7 tahun.

Sedangkan, untuk belajar berpuasa, bisa kita mulai saat usianya menginjak 7 tahun. Tidak perlu puasa hingga maghrib dulu, cukup semampunya. Bisa dimulai hingga dzuhur, kemudian lanjut ke ashar hingga seterusnya.

Perintah untuk mengajarkan shalat juga dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad)

Sedangkan, perintah mendidik anak-anak untuk berpuasa dicontohkan oleh Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz, salah satu perempuan shalehah sahabat rasul. Ia berkata: “Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mengajarkan Perilaku Baik

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali” (Q.S Luqman: 14)

Rasulullah SAW juga mengajarkan pada anak-anaknya tentang tata cara berperilaku yang baik pada kedua orang tua. Karena, memang inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Bagaimana anak bersikap pada bapak ibunya, haruslah sopan, bertutur kata lembut, menunjukkan wajah ceria, dan patuh pada perintahnya.

Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam cara bicara maupun duduk daripada Fathimah.” ‘Aisyah berkata lagi, “Biasanya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Fathimah datang, beliau mengucapkan selamat datang padanya, lalu berdiri menyambutnya dan menciumnya, kemudian beliau menggamit tangannya hingga beliau dudukkan Fathimah di tempat duduk beliau. Begitu pula apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang padanya, maka Fathimah mengucapkan selamat datang pada beliau, kemudian berdiri menyambutnya, menggandeng tangannya, lalu menciumnya.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 725)

Mengajarkan Tata Cara Berpakaian

Diriwayatkan dari Aisyah ra: bahwa Asma’ binti Abi Bakar menemui Rasulullah SAW dengan kondisi ia berpakaian pendek, maka berpalinglah Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Asma’, sesungguhnya wanita, apabila telah baligh, tidak pantas terlihat kecuali ini dan ini (beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya).” (HR. Abu Daud)

Hadist di atas secara gamblang menjelaskan bahwa rasul mengajarkan pada umatnya yang perempuan, termasuk anak-anaknya untuk berpakaian secara Islami, yakni menutup aurat. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Ahzab: 59)

Mengajarkan Tentang Pekerjaan Rumah Tangga

Sejatinya, kodrat setiap perempuan saat dewasa adalah menjadi seorang istri. Dan istri yang baik adalah mereka yang mampu menjalankan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, merawat anak, membersihkan rumah, dan lain sebagainya.

Related image
darunnajah.com

Maka itu, sejak kecil anak harus dibiasakan dengan pekerjaan rumah. Sedikit demi sedikit, seperti mulai mengajarinya menyapu lantai. Karena, hal ini dapat membuatnya siap menjalani kewajibannya, setelah dipinang seorang lelaki yang menjadi suaminya.

Semoga, anak kita adalah penerus yang soleh dan solehah, ya. Aamiin.

LEAVE A REPLY