Cara Jitu Noni Purnomo Mengemudikan Bisnis Blue Bird

Noni Purnomo, CEO Blue Bird Group

Gulalives.com, JAKARTA – Bisnis taksi Blue Bird diawali dengan sederhana, tak seperti yang kita saksikan sekarang ini. Perusahaan transportasi raksasa ini dibangun dari dua mobil. Seorang perempuan, dan keluarga yang mendukung.

Kerajaan bisnis Blue Bird dimulai oleh Mutiara Djokosoetono pada 1965 setelah suaminya meninggal dan ia harus menciptakan penghasilan. Dan sekarang cucu perempuannya, Noni Purnomo berada di belakang kemudi perusahaan transportasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini.

Noni Purnomo, CEO Blue Bird. Foto: Forbes
Noni Purnomo, CEO Blue Bird. Foto: Forbes

“Ada beberapa cerita yang terus diungkapkan beliau berulangkali,” kata Noni tentang nenek tercintanya. “Pada satu waktu, kita harus bisa melihat ke bawah dan ke atas. Berarti pada suatu waktu, ada begitu banyak orang lain yang kurang beruntung dibandingkan kita.”

“Itu berarti kita harus mensyukuri apa yang kita miliki sekarang.. Pada saat yang sama, kita harus bisa belajar karena ada begitu banyak orang lain yang lebih sukses dari kita. Itu berarti, Anda harus selalu berusaha untuk menjadi lebih baik,” kata Noni yang kini menjabat sebagai CEO/Presiden Direktur Blue Bird.

Blue Bird saat ini tercatat sebagai operator taksi terbesar di Indonesia, dengan lebih dari 30.000 kendaraan yang mengangkut lebih dari 8,5 juta penumpang setiap bulan.

Noni Purnomo, CEO Blue Bird. Foto: Forbes
Noni Purnomo, CEO Blue Bird. Foto: Forbes

Noni Purnomo bertanggung jawab atas seluruh portofolio lahan transportasi Blue Bird ini. Selain mengangkut orang, taksi Blue Bird kini mengangkut segala macam barang, mulai dari es krim hingga peralatan elektronik. Namun, Noni mengaku, ada saat-saat dia merasa jenis kelaminnya adalah halangan untuk sukses.

“Orang-orang berpikir bahwa saya tidak akan mampu melakukan hal-hal yang seorang pria bisa lakukan. Misalnya, ketika saya lulus dengan gelar sarjana di bidang teknik industri. Saya bergabung dengan perusahaan dan mulai bekerja di departemen pemeliharaan,” ujarnya.

“Dan tentu saja karyawan di bidang mekanik menatap saya seperti hendak mengatakan, apa yang bisa kamu lakukan? Tapi kemudian, saya bergaul dengan mereka (pekerja mekanik) dan saya mencoba untuk belajar sesuatu dari mereka. Saya mengajukan pertanyaan. Awalnya, itu adalah tentang penghormatan. Kita tidak bisa berharap untuk dihargai jika kita tidak bisa menghormati orang lain,” imbuh Noni.

Noni Purnomo, CEO Blue Bird
Noni Purnomo, CEO Blue Bird

Karir Noni mengalami peningkatan. Perempuan ini menghabiskan waktunya dengan bekerja di berbagai departemen yang berbeda. Dan ini diakui bukanlah hal yang mudah.

Noni mengatakan, terlibat dan menjadi bagian dari bisnis keluarga berarti jam kerja yang panjang, dan harapan harus bekerja lebih keras daripada karyawan lainnya. Pada waktu bersamaan, dia harus menjalani kehidupan pribadi. Noni menikah dan memiliki anak.

“Sepuluh tahun yang lalu, saya pengusaha idealis yang ingin memiliki dan melakukan tiga hal sekaligus di saat bersamaan,” akunya. “Itu adalah bisnis, keluarga dan kehidupan pribadi. Bahkan orang yang tangguh pun tak bisa mempertahankan peran itu dalam 24 jam sehari.”

“Jadi 10 tahun yang lalu, setiap kali salah satu peran itu tidak berjalan sesuai rencana, saya merasa frustrasi. Kemudian saya menyadari bahwa sebenarnya apa yang harus saya lakukan adalah mengelola harapan saya sendiri,” urai Noni.

Noni Purnomo, CEO Blue Bird
Noni Purnomo, CEO Blue Bird

“Itu hal pertama yang harus saya lakukan. Jadi saya tahu bahwa kadang-kadang saya tidak bisa memegang tiga peran pada saat yang bersamaan. Kadang-kadang saya harus memilih dan memprioritaskan mana dulu yang harus saya tangani, dan mana yang harus saya selesaikan belakangan,” imbuhnya.

Sekarang, Noni Purnomo mengaku dia berusaha menetapkan batas-batas untuk kerja dan waktu untuk keluarganya.

“Ketika saya meninggalkan rumah, saya merasa bersalah. Tapi ketika saya meninggalkan kantor saya juga merasa bersalah. Jadi Anda tahu, saya tidak bisa pergi ke mana pun. Jadi saya membuat aturan, untuk keluarga dan anak. Mereka tahu jam kerja saya, kecuali dalam kondisi darurat, maka jangan mengganggu saya, Biarkan saya fokus bekerja,” ujar bos Blue Bird Group ini.

“Hal yang sama juga berlaku untuk orang kantor. Setelah jam kerja, kecuali jika keadaan darurat, jangan mengganggu saya. Jadi saya menetapkan batas-batas tersebut. Tapi saya harus terlebih dulu menerima jika ternyata tidak merasa nyaman dengan hal itu. Dan jika saya tak bisa berdamai dengan kondisi tersebut, maka saya tak bisa bekerja,” pungkas pemilik nama lengkap Noni Sri Aryati Purnomo ini. (VW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here