Bencana Alam bisa Menimbulkan Gangguan Jiwa?

0
4 views
learningenglish.voanews.com

Gulalives.co – Para korban bencana alam pasti dirundung kesedihan mendalam, akibat kehilangan keluarga, kerabat, dan lain sebagainya, hingga menyebabkan trauma yang bukan tidak mungkin bisa berujung pada gangguan jiwa.

Related image
independent.ie

Melalui penelitian terhadap korban gempa bumi Hanshin-Awaji, Jepang, pada 1995, Kato H dan rekan-rekannya menemukan fakta bahwa para korban yang selamat, akan menderita gangguan tidur, depresi, mudah marah, hingga mengalami hipersensitif.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Masahiro Kokai bersama tim penelitinya, yang diterbitkan dalam jurnal Psychiatry and Clinical Neurosciences (2004), yang bertajuk ‘Natural Disaster and Mental Health in Asia’.

Penelitian ini menemukan istilah morbiditas psikiatri, yang mengacu pada kerusakan fisik dan psikologis, akibat kondisi kejiwaan. Hasil dari penelitian pun menunjukkan bahwa gangguan kecemasan sebagai dampak langsung dari kejadian yang traumatis jamak ditemukan pada bulan pertama pasca gempa.

Umumnya, korban bencana mengalami depresi. Mereka biasanya akan menganggur sambil terus memikirkan beban untuk kembali membangun rumahnya dan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri di tempat relokasi.

Dan, dari berbagai jenis gangguan jiwa, Post-traumatic Stress Disorder (PTSD) merupakan salah satu jenis gangguan yang paling banyak dialami oleh korban bencana. PTSD adalah kondisi mental di mana seseorang mengalami serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu.

Mengerikannya bencana alam yang dialami dapat menjadi salah satu hal yang mungkin membekas di pikiran para korban. Itulah sebabnya banyak korban bencana alam yang rentan akan mengalami gangguan jiwa satu ini.

Meski dapat terjadi pada setiap orang, baik pria pun wanita, dewasa pun anak-anak, menurut penelitian, PTSD lebih banyak dialami oleh wanita.

Baca Juga: 10 Hal yang Menjadi Prioritas Pasca Gempa dan Tsunami Sulteng

Sebab, wanita umumnya lebih sensitif terhadap perubahan daripada pria, sehingga mereka akan mengalami emosi yang lebih intens. Selain wanita, PTSD juga rentan terjadi pada anak-anak. Jika tidak ditangani dengan baik, hal ini akan terus terbawa hingga usia dewasa.

Maka, sebelum mengalami PTSD, biasanya akan terjadi fase akut yang berlangsung mulai dari 3 hari hingga 1 bulan pasca trauma (gangguan stres akut). Nah, jika tidak ditangani dengan baik, gangguan stres akut tersebut dapat berlanjut menjadi PTSD.

Perlu diketahui juga, bahwa di dalam otak manusia terdapat bagian yang disebut amigdala. Amigdala merupakan pusat rasa takut. Ketika terjadi gangguan psikologis akibat suatu kejadian, amigdala akan teraktivasi dan mengirim sinyal ke berbagai otak lainnya.

Seperti ketika amigdala mengirim sinyal ke batang otak, terjadilah peningkatan denyut jantung (berdebar-debar), dan pembuluh darah perifer menciut, sehingga orang yang mengalaminya pun menjadi pucat.

Amigdala juga mengirim sinyal ke pusat yang mengatur pernapasan, sehingga napas orang yang mengalami trauma menjadi pendek atau cepat. Peristiwa rasa takut yang hebat akan disimpan ke bagian otak, yang disebut hipokampus.

Dan akan memunculkan berulang kali peristiwa traumatik tersebut, tidak sama dengan penyimpanan memori biasa. Memori bencana traumatik disimpan lebih dalam dan lama, sulit atau bahkan tidak mungkin hilang.

Psikiater atau psikolog memegang peranan penting dalam upaya mengenali secara dini permasalahan kesehatan mental akibat bencana, dan menentukan langkah penanganan selanjutnya yang tepat.

Related image
heraldnet.com

Namun, semoga saudara-sadara kita yang mengalami musibah, di manapun mereka, bisa kembali bangkit dari trauma, dan menjalani hidupnya jauh lebih baik dan lebih dekat lagi dengan Allah SWT. Aamiin.

LEAVE A REPLY