Hati-hati, Stres dapat Memicu Demensia

everydayhealth.com

Gulalives.co – Benarkah stres dapat memicu demensia? Para ahli dari Alzheimer’s Society di Inggris, telah melakukan penelitian lebih dalam, dan menemukan bukti ilmiahnya. Stres terjadi saat tubuh harus memberikan respon pada situasi yang dapat menimbulkan bahaya. Gejalanya:

Image result for stress women
zeenews.india.com
  • Jantung yang berdebar atau berdetak lebih cepat,
  • Berkeringat, dan
  • Otot yang tegang.

Gejala-gejala tersebut harusnya memudar, begitu bahaya berlalu. Tapi gejala tersebut justru terus berlanjut pada beberapa orang. Tentu saja stres yang berkepanjangan, bisa memberikan dampak serius dan memiliki efek negatif pada seseorang secara emosional, mental, serta fisik.

Baca Juga: Bagaimana Prosesnya Hingga Seseorang bisa Terkena Demensia?

Ada banyak alasan mengapa stres dapat memicu demensia. Karena stres mempengaruhi sistem kekebalan tubuh yang diketahui memainkan peran penting dalam perkembangan demensia itu sendiri.

Hormon kunci yang dilepaskan ketika seseorang mengalami stres adalah hormon kortisol. Hormon ini terbukti berkaitan dengan masalah memori.

Stres juga berkaitan erat dengan kondisi seperti depresi dan kecemasan, yang menurut para peneliti dari Alzheimer’s Society juga bisa meningkatkan risiko demensia. Beberapa penelitian menemukan bukti bahwa stres memiliki dampak langsung pada beberapa mekanisme yang mendasari demensia, saat dilakukan uji coba terhadap hewan.

Baca Juga: Jangan Sepelekan 7 Gejala Awal Demensia Ini

Para peneliti mengaku kesulitan dalam menyelidiki hal ini, karena tiap orang pasti mengalami stres dengan cara yang berbeda, dan kemampuan mereka untuk mengatasinya pun tak sama. Maka, tak mudah untuk mengukur secara tepat seberapa parah stres yang dirasakan oleh seseorang.

Karena ada juga faktor lain, memainkan perannya dan sulit untuk dipisahkan seperti perasaan cemas, depresi, dan kurang tidur, di mana semuanya dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia. Komplikasi ini berarti bahwa sulit untuk melakukan penelitian dengan kualitas tinggi, tentang benar atau tidaknya stres dapat memicu demensia.

Stres memang memiliki peran sebagai pemicu demensia, tapi sebenarnya bukan menjadi faktor utama. Karena masih banyak yang harus dipahami tentang hubungan antara stres dan risiko demensia.

Baca Juga: Ibu Alami Demensia, Begini Cerita Istri Omesh, Dian Ayu

Sebuah penelitian yang didanai oleh Alzheimer’s Society, menguji kebenaran tentang hal ini. Clive Holmes, ketua penelitian tersebut mengungkapkan bahwa memahami peran sistem kekebalan tubuh dalam risiko penyakit Alzheimer adalah penting.

Karena stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan perubahan pada sistem kekebalan tubuh. Ia juga mengungkapkan dalam penelitiannya, hal-hal seperti duka cita atau pengalaman traumatis, juga menjadi faktor yang dapat berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh.

Dalam penelitian tersebut, mereka memonitor 140 orang berusia di atas 50 tahun dengan masalah memori ringan, selama lebih dari 18 bulan. Di mana penelitian dilakukan untuk tingkat stres dan setiap gerakan dari gangguan kognitif ringan, hingga demensia.

Dan sekitar 60 persen dari mereka yang hidup dengan gangguan ini, terus mengembangkan Alzheimer. Hasil penelitian bahkan menunjukkan bahwa stres yang dialami perempuan paruh baya, 65 persen lebih mungkin berkembang menjadi demensia.

Ilmuwan dari Universitas Gothenburg di Swedia pun menemukan bahwa mereka yang mengeluh stres secara berulang, termasuk masalah iritasi, kecemasan, atau gangguan tidur juga dapat mengembangkan demensia di usia tua, dibandingkan dengan mereka yang terbebas dari kekhawatiran tersebut. Stres juga dapat memicu kondisi berbahaya lain seperti:

  • Penyakit jantung,
  • Diabetes,
  • Kanker, dan
  • Multiple sclerosis.
Image result for dementia in young women
dailycaring.com

Lantas, mengapa stres dapat menyebabkan tekanan darah tinggi yang meningkatkan risiko serangan jantung? Karena jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa lebih banyak darah ke seluruh tubuh. Selain itu, kolesterol tinggi juga merupakan kondisi yang terjadi karena stres. Sebab, kolesterol merupakan hasil sampingan dari kortisol.

Maka, jangan lupa bahagia, ya. Agar kita tidak bersahabat dengan stres.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here