Begini Perkembangan Teknologi Exoskeleton di Kostum Iron Man

Gulalives.com, JAKARTA—Sejak dirilis pada 2008, Iron Man menjadi film yang ditunggu-tunggu penggemarnya. Salah satu yang membuat kagum di karakter besutan Marvel itu adalah kecanggihan kostum yang dikenakan tokoh Tony Stark (diperankan Robert Downey, Jr.). Kostum besi itu membuat Tony memiliki kekuatan super.

Penasaran ingin tahu rahasia kekuatan super kostum tersebut? Rahasianya ternyata ada pada teknologi Exoskeleton yang digunakan. Teknologi ini berusaha melipatgandakan kekuatan si pemakainya. Jika Robert Downey, Jr. mampu mengangkat batu seberat 1 ton, maka ketika dia memakai baju Iron Man, dia bisa mengangkat batu berton-ton dalam satu waktu.

Tahun 1960

Teknologi exoskeleton tak jadi begitu saja. Teknologi ini mulai dikembangkan pada 1960. Ide awal Exoskeleton dipaparkan oleh para peneliti dari Cornell Aeronautical Laboratories of Buffalo, New York dalam sebuah makalah berjudul Man Amplifiers tahun 1960. Setahun kemudian, mereka mendapat
hibah untuk mewujudkan gagasan tersebut.

Pada 1965, terwujudlah exoskeleton pertama yang disebut Hardiman. Ini bukan nama yang diambil dari bahasa Jawa, namun singkatan dari nama proyek mereka, “Human Augmentation Research and Development Investigation” dan Man dari MANipulator. Terkadang ditulis sebagai HardiMan, Hardi-Man, Hardi Man, atau Hardiman I.

Pada saat itu, para peneliti telah berhasil membuat sistem tangan dan kaki yang digerakkan menggunakan listrik dan tekanan hidrolik. Namun Hardiman memiliki banyak kelemahan. Hardiman tidak bisa beroperasi dalam waktu yang lama (hanya mampu dua kali memindahkan benda), tidak
bisa berjalan dengan seimbang, pergerakannya lebih lambat dibandingkan tanpa menggunkannya, dan sistem kontrolnya yang belum sempurna sehingga mesin ini melakukan gerakan-gerakan membahayakan tanpa terkendali. Keterbatasan lainnya adalah ukuran tangan yang besar
dengan berat 750 kg namun hanya mampu mengangkat beban seberat 340 kg hingga dinilai tidak praktis. Karena alasan-alasan inilah penelitian dihentikan pada tahun 1970.

Tahun 1990
Teknologi Exoskeleton memasuki babak baru ketika seorang professor robotik di Universitas Tsukuba Jepang, Yoshiyuki Sankai, membuat prototipe Hybrid Assistive Limb (HAL) pada 1990. Militer Amerika Serikat dan Korea Selatan bermaksud untuk menjadi penyuntik dana untuk penelitian dan pengembangan proyek ini namun ditolak. Dia tidak ingin teknologinya digunakan untuk militer. HAL dimanfaatkan untuk memudahkan para perawat dalam mengangkat dan membawa pasien.

HAL bekerja dengan cara mengirimkan sinyal saraf dikirim dari otak ke otot melalui neuron motorik, memindahkan sistem muskuloskeletal, pada saat penggunanya mencoba menggerakan bagian tertentu dari tubuhnya. Ketika ini terjadi, sinyal bio kecil dapat dideteksi pada permukaan kulit. HAL menangkap sinyal-sinyal tersebut melalui sensor yang melekat pada kulit pemakainya. Berdasarkan sinyal yang ditangkap tadi, unit energi bergerak bersama untuk mendukung dan memperkuat gerakan
pemakainya. HAL terdiri dari sistem kontrol yang diaktifasi oleh pengguna, dan sistem kontrol robot otomatis untuk mendukung gerakan otomatis. HAL sudah menggunakan baterai sebagai sumber daya penggeraknya.

Generasi terakhir teknologi ini adalah HAL-5 yang tidak hanya berhasil membangun sistem tangan dan kaki tetapi juga batang tubuh. Ini memungkinkan HAL digunakan oleh para manula dan orang cacat untuk memudahkan mereka melakukan kegiatan sehari-hari. Di bidang medis, robot juga ini digunakan sebagai alat terapi gerak. Universitas Tsukuba dan perusahaan Cyberdyne mulai melakukan uji coba di rumah sakit dan berencana melanjutkannya hingga tahun 2015.

Tahun 2000

Di negara Barat, Exoskeleton kembali dikembangkan pada 2000 dan fokus pada penerapan di bidang militer dengan sebutan Human Universal Load Carrier(HULC). HULC dinilai sebagai babak ketiga teknologi Exoskeleton, yang juga merupakan cikal-bakal teknologi Iron Man.

Tujuan awal HULC adalah untuk memudahkan para tentara membawa beban berat. Namun pengembangan HULC menghasilkan banyak terobosan di bidang Exoskeleton. Tentara tidak hanya mampu meletakkan beban di bagian belakang tubuhnya, tetapi juga di bagian depan tubuh. Pemakaiannya juga dapat melakukan gerakan seperti merangkak, berjongkok, dan memiliki kekuatan yang cukup untuk bertahan selama delapan jam berbaris sebelum harus diisi ulang.

Tahun 2009

Pada 2009, tentara Amerika memprakarsai program Pasukan Masa Depan 2030. Penelitian terus berlanjut dan pada 5 Mei 2013, Komandan Pasukan Operasi Khusus Amerika Serikat (USSOCOM), William H. McRave, mengumumkan proyek Tactical Assault Light Operator Suit (TALOS). Proyek ini menarik perhatian publik karena disebut-disebut akan mewujudkan kostum super power Iron Man yang ringan, antipeluru, dan memiliki kekuatan serta kemampuan lainnya di atas umumnya manusia.

TALOS akan memanfaatkan pemanas dan pendingin terintegrasi untuk mengatur suhu baju, serta penanaman sensor untuk memonitor suhu inti tubuh, suhu kulit, detak jantung, posisi tubuh, dan tingkat hidrasi pengguna.

Tambahan Antena dan komputer yang ditanam dalam setelan akan memberikan informasi real time medan perang, dan akan mudah dioperasikan oleh pengguna. Bahkan versi akhir dari TALOS mungkin
mampu memberi oksigen atau mengendalikan pendarahan dari pengguna yang terluka. Salah satu tantangan TALOS menurut McRaven adalah bagaimana cara memberi sumber daya untuk menghidupkan baju tersebut.(*/MK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here