Gulalives.com, JAKARTA – Februari 2017 mendatang, Indonesia kembali menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Umat Islam, sebagai pemilh terbesar dalam agenda politik itu, tentu harus bijak dan hati-hati sebelum menjatuhkan pilihan.

Pilkada Februari 2017 merupakan pilkada serentak jilid II, setelah jilid I digelar pada Desember 2015. Ada enam posisi penting yang bakal diperebutkan pada pilkada tersebut. Yakni, gubernur dan wakil gubernur, walikota dan wakil walikota, serta bupati dan wakil bupati.

Masing-masing posisi itu merupakan jabatan penting, yang realisasinya bergantung kepada hasil pilihan pemilih. Tak mungkin seseorang berada di posisi tersebut tanpa suara dari pemilih.

Umat Islam sebagai pemilh terbesar dalam agenda politik itu, tentu harus bijak dan hati-hati sebelum menjatuhkan pilihan. Agar tak salah pilih, sebaiknya bersandar kepada tuntunan agama.

Setiap pemilih muslim, wajib memilih pemimpin muslim. Ini perintah Allah. Bukan hanya dijalankan, perintah itu wajib ditegakkan. Bukan kah salah satu ukuran ketakwaan seorang muslim adalah menjalankan semua perintahNya.

Pemimpin dan kepemimpinan menjadi perkara penting dalam Agama Islam. Begitu pentingnya, hingga sangkut paut tentangnya diatur dalam Alquran dan hadits.Bahkan, Alquran mewajibkan setiap muslim patuh kepada pemimpin. Namun, tentunya kepatuhan itu hanya dilakukan sejauh sosok pemimpin dan kepemimpinannya memenuhi kaidah Islam.

Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu…” (An-Nisa’: 59)

Hadits Nabi Muhammad juga mengatur arti penting pemimpin dan kepemimpinan. Begitu pentingnya seorang pemimpin, Rasulullah SAW selalu memerintahkan umatnya untuk senantiasa berada dalam sebuah kepemimpinan. Bahkan ketika safar sekalipun, jika jumlahnya lebih dari tiga orang, beliau menganjurkan untuk mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin. Beliau bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ

“Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” (HR Abu Dawud)

Seprti dikutip dari kiblat.com, bagi umat Islam, mengangkat pemimpin merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Keberadaannya memiliki peran yang cukup fundamental dalam kehidupan umat. Syariat Islam tidak akan tegak secara kaffah kecuali di bawah perlindungan sebuah kepemimpinan. Karena dalam Islam, kita tidak hanya diperintahkan shalat, puasa, sedekah dan sebagainya yang bisa dilakukan secara individual.

Lebih daripada itu, Islam juga menuntut kita untuk mengamalkan perintah-perintah lain secara kaffah. Misalnya perintah untuk menegakkan zakat, haji, amar ma’ruf nahi munkar, jihad penegakkan hudud, qishash dan lain sebagainya. Semua syariat tersebut tentu tidak mungkin diwujudkan dengan sempurna kecuali dilakukan secara berjamaah dan diarahkan oleh seorang pemimpin.

Agar tujuan kepemimpinan tersebut bisa terwujud, maka syarat pertama yang mutlak harus dimiliki adalah Islam. Pemimpin tidak boleh dari selain Muslim, karena tidak mungkin seseorang bisa mewujudkan tujuan kepemimpinan kecuali ia beragama Islam.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali [pemimpin] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?” (An-Nisa’: 144)

Pentingnya memilih pemilih muslim juga pernah ditegaskan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Saat menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat,Din Syamsuddin menyatakan. umat Islam wajib memilih pemimpin yang sholih. Ini adalah sikap MUI yang jelas dan benar.

Dalam ayat-ayat kitab suci Al-Quran, seperti dikutip dari republika.com, umat Islam wajib memilih pemimpin yang menegakkan sholat, membayar zakat, dan tunduk pada aturan Allah SWT. Penegasan ini merupakan firman Allah SWT dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 55 dan 57.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (Al Maidah : 57). (AA/Senandung Bening)

LEAVE A REPLY