brilio.net

Gulalives.co – Selain digunakan sebagai media berekspresi, media sosial juga menjadi cara baru tiap orang bebas berkomunikasi. Berbagi pengalaman, hingga mengatur janji untuk temu kangen dengan teman lama pun teman baru, bisa dilakukan dengan mudah lewat media sosial. Namun, sama seperti pisau bermata dua, media sosial juga memiliki dampak negatif. Kalau kamu pengguna media sosial yang aktif, kamu harus tahu bahaya media sosial, mulai dari membuat seseorang jadi lupa caranya bersosialisasi, hingga menimbulkan masalah jika digunakan dengan tidak bijak.

Stres

Related image
ilovezrenjanin.com

Orang yang menggunakan media sosial untuk melampiaskan segalanya, mulai dari layanan konsumen hingga politik, mempunyai kelemahan, yakni seringkali unggahan kita menggambarkan seseorang sedang alami stres. Pada 2015, peneliti pada Pew Research Center di Washington DC berupaya untuk mengetahui apakah media sosial lebih cenderung menyebabkan stres, bukan malah menguranginya?

Dalam survei yang melibatkan 1.800 orang ini, perempuan disebutkan lebih mengalami stres dibandingkan laki-laki. Ditemukan Twitter menjadi “penyumbang penting” karena meningkatkan kesadaran mereka akan tekanan yang dialami orang lain. Namun, Twitter juga bertindak sebagai mekanisme penanggulangan, (semakin banyak perempuan menggunakannya, semakin berkurang stres mereka).

Efek yang sama tidak ditemukan pada pria, yang disebutkan peneliti, bahwa mereka lebih memiliki hubungan yang berjarak dengan media sosial. Secara keseluruhan para peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan media sosial terkait dengan stres “dengan tingkat yang lebih rendah”.

Kehilangan Kendali Diri

Related image
maschun.com

Banyak orang menggunakan media sosial sebagai sarana berekspresi. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang salah. Berubah menjadi masalah, saat orang itu menggunakan media sosial sebagai sarana untuk berekspresi tanpa batas, hingga lupa aturan. Karena bahaya media sosial, mereka berpikir semua orang bebas berekspresi, padahal tidak seutuhnya bebas.

Karena sudah banyak kejadian orang kehilangan ‘hidupnya’ gara-gara kena bahaya media sosial, seperti yang dipecat dari pekerjaan karena Twitter, dipenjarakan karena menghina di Instagram, foto syur beredar di internet, dan lain sebagainya. Penggunaan media sosial yang tidak bijak akan selalu mengakibatkan penggunanya kehilangan kendali diri, sehingga akan merugikan dirinya sendiri, terlebih di lingkungan sosial.

Kehilangan Jati Diri

Image result for depresi
halallifestyle.id

Dengan adanya media sosial, banyak ruang yang bisa membuat orang semakin mudah mengekspresikan diri. Dampaknya, kita jadi mengenal istilah selebtweet, selebgram, artis Snapchat, dan lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa media sosial bisa memberikan jati diri baru bagi seseorang.

Tapi bagi mereka yang mulai kehilangan kontrol dan semakin dekat dengan bahaya media sosial, perlahan dia akan mulai kehilangan jati diri sesungguhnya karena bahaya media sosial itu sendiri. Lama kelamaan artis media sosial itu akan mulai mendapatkan tekanan dari netizen yang terus menyoroti kehidupannya. Muncul juga haters yang kalau komentar justru lebih pedas dari cabai rawit merah.

Kehilangan Privasi

Related image
itpakistan1.blogspot.com

Disadari atau tidak, salah satu bahaya media sosial yang paling menonjol adalah hilangnya privasi para pengguna. Dengan kemudahan berbagi, sebagai pengguna media sosial, mereka pasti sering membagikan cerita tentang apa yang dialami, entah itu foto, atau bahkan lokasi di mana mereka berada. Dan, sadar atau tidak, semua itu justru mengancam keselamatannya di dunia nyata.

Dengan memanfaatkan semua informasi yang kamu bagikan di media sosial, orang yang tidak bertanggungjawab akan dengan mudah berbuat jahat di dunia nyata. Bahkan jika kamu tidak telaten, hacker akan mengincar semua data yang ada di media sosial kamu, dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang bisa menyeretmu ke dalam masalah.

Gangguan Tidur

Image result for gangguan tidur
liputan6.com

Jika dulu manusia menghabiskan waktu mereka di malam hari dalam kegelapan, sekarang kita justru dikelilingi cahayaan buatan, sepanjang siang hingga malam hari. Para peneliti telah menemukan bahwa cahaya buatan ini dapat menghambat produksi hormon melatonin pada tubuh yang memudahkan seseorang untuk tertidur.

Dan cahaya biru yang dipancarkan layar telepon pintar pun laptop, dianggap sebagai biang keladinya. Dengan kata lain, kalau kamu berbaring di atas bantal pada malam hari dengan mengecek media sosial, tidur kamu pun akan gelisah.

Para peneliti dari Universitas Pittsburgh bertanya pada 1.700 orang dengan rentang usia 18 sampai 30 tahun, mengenai kebiasaan menggunakan media sosial, dan pola tidur mereka. Para peneliti menemukan, adanya sebuah kaitan gangguan tidur, dan menyimpulkan cahaya biru merupakan salah satu penyebabnya.

Seberapa sering mereka login, dan bukan berapa waktu yang dihabiskan di situs media sosial, tapi diperkirakan merupakan penyebab dari gangguan tidur, yang menunjukkan sebuah sikap “pengecekan (media sosial) yang obsesif”, seperti dijelaskan oleh peneliti.

Para peneliti mengatakan masalah ini dapat disebabkan oleh gairah psikologis seseorang sebelum tidur, dan cahaya terang dari perangkat kita, bisa menghambat ritme. Tapi mereka tidak bisa memastikan, apakah media sosial menyebabkan gangguan tidur, atau justru mereka yang terganggu tidurnya menghabiskan waktu lebih lama di media sosial.

Kecanduan

Image result for kecanduan media sosial
bosmurah.com

Pada 2011, Daria Kuss dan Mark Griffiths dari Universitas Nottingham Trent di Inggris menganalisa 43 studi sebelum ia mengkaji masalah ini, dan menyimpulkan bahwa kecanduan media sosial merupakan gangguan mental yang “mungkin” membutuhkan perawatan profesional.

Mereka menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan, berkaitan dengan adanya masalah dalam sebuah hubungan, pencapaian akademik yang buruk dan kurang berpartisipasi dalam komunitas, yang tidak terkait dengan internet.

Disimpulkan juga jika mereka yang lebih rentan kecanduan akan media sosial, adalah mereka yang memiliki ketergantungan pada alkohol, orang yang sangat tertutup, dan mereka yang menggunakan media sosial sebagai kompensasi karena kurangnya hubungan di kehidupan nyata.

Kehilangan Teman

Image result for depresi
saliha.id

Saking asiknya dengan media sosial, beberapa orang pun menjadi kecanduan dengan smartphone. Hidupnya seolah tak bisa lepas dari smartphone, sekalipun saat sedang berkumpul dengan teman. Dampaknya, secara perlahan teman-teman di sekitarnya pun mulai menjauhi, karena merasa tidak dianggap keberadaannya. Kamu termasuk yang sering asik dengan media sosial saat sedang kumpul dengan teman? Duh, stop deh kebiasaan jelek satu ini.

Depresi

Related image
vemale.com

Sebuah studi serupa yang dilakukan pada 2016 melibatkan 1.700 orang menemukan risiko depresi dan kecemasan mencapai tiga kali lipat di antara orang-orang yang paling banyak menggunakan platform media sosial. Penyebabnya antara lain, yakni perkiraan mereka, rundungan siber, memiliki pandangan terdistorsi mengenai kehidupan orang lain, hingga merasa menghabiskan waktu di media sosial merupakan sebuah pemborosan waktu.

Para saintis juga mengkaji bagaimana bahaya media sosial dapat digunakan untuk mendiagnosa depresi, bisa membantu orang untuk mendapatkan perawatan lebih dini. Para peneliti untuk Microsoft, mensurvei 476 orang dan menganalisa profil Twitternya untuk mencari kata-kata depresif, gaya bicara, hubungan dan emosi lainnya. Lalu mereka mengembangkan pengklasifikasian, yang secara akurat dapat memprediksi depresi sebelum menimbulkan gejala pada tujuh dari 10 kasus.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Rasa Depresi yang Kamu Alami! Karena Berbeda Gejalanya, Berbeda Pula Cara Mengatasinya

Penyakit Hati

Image result for penyakit hati
moslemlifestyle.com

Dalam sebuah studi yang melibatkan 600 orang dewasa, sekitar sepertiganya mengatakan media sosial telah membuat mereka merasakan emosi negatif, kebanyakan frustasi, dan iri merupakan salah satu perasaan yang kerap timbul. Hal ini dipicu oleh kecenderungan mereka membandingkan kehidupan pribadi dengan orang lain, dan penyebab utamanya adalah foto orang lain yang sedang liburan. Perasaan iri hati menyebabkan sebuah “pusaran kecemburuan”.

Para peneliti dari Universitas Michigan dan Universitas Wisconsin-Milwaukee, bertanya pada 380 mahasiswa untuk melihat pada foto-foto dan tulisan dari Facebook dan Twitter yang dapat “menimbulkan iri hati”, termasuk unggahan tentang barang-barang mahal, bepergian untuk liburan dan bertunangan. Namun, tipe iri hati yang ditemukan para peneliti merupakan “iri jinak”, yang mereka sebut jika hal ini menyebabkan orang akan bekerja lebih keras untuk bisa mendapatkan hal serupa.

Kesepian

Related image
dev.youthmanual.com

Sebuah studi dari Journal of Preventive Medicine Amerika, mensurvei 7.000 orang yang berusia 19 sampai 32 tahun, dan menemukan bahwa mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial, memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami keterkucilan sosial, yang meliputi rendahnya rasa sosial, kurangnya hubungan dengan sesama, dan menjalani hubungan dengan lebih berarti. Para peneliti menyebutkan, jika menghabiskan waktu lebih banyak di media sosial, dapat menggantikan interaksi tatap muka, tapi juga dapat membuat orang merasa terasing.

“Paparan terhadap penggambaran yang sangat ideal tentang kehidupan rekan sebaya memunculkan perasaan iri hati dan keyakinan yang keliru bahwa orang lain lebih bahagia dan memiliki kehidupan yang lebih sukses, yang mungkin meningkatkan perasaan keterkucilan sosial.”

Tak ada yang salah dengan penggunaan media sosial, selama kamu tak menggunakannya secara berlebihan, dan menempatkan diri seolah tak bisa hidup tanpa media sosial. Serem, kan?

LEAVE A REPLY