Jangan Sepelekan Gigitan Kutu, karena Dampaknya bisa Bertahan Selama Bertahun-tahun

0
85 views
self.com

Gulalives.co – Kamu salah satu orang yang selama ini berpikir jika gigitan kuku bukanlah hal mengerikan? Mulai sekarang, jangan sepelekan lagi masalah satu ini, ya. Karena, dampak dari sebuah gigitan serangga kecil ini bisa bertahan selama bertahun-tahun, lho. Pernah dengar penyakit bernama Lyme disease? Mungkin memang bukan penyakit yang familiar untuk orang Indonesia, ya. Tapi kamu harus tahu jika inilah penyakit yang ditularkan melalui gigitan kutu, dan disebabkan oleh bakteri Borrelia burgdorferi.

Related image
americanhunter.org

Hal ini memang tidak menjadi sorotan bagi masyarakat Indonesia, tapi bukan berarti penyakit ini tidak berbahaya. Di Eropa dan Amerika Utara contohnya, infeksi kutu kaki hitam ini menjadi hal yang lumrah di masyarakat.

Penyakit yang disebabkan oleh gigitan kutu ini mengakibatkan masalah mental serius. Seekor kutu harus menempel di kulit selama 24 hingga 48 jam untuk menyebarkan infeksi.

Gejala awal yang sering terjadi untuk penyakit ini adalah ruam merah yang melingkar pada sekitar gigitan kutu, serta gejala seperti flu. Orang yang tinggal atau sering menghabiskan waktu di sekitar hutan, pun memiliki hewan peliharaan, sangat mungkin untuk terkena penyakit ini.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Psychiatry, menemukan bahwa pengidap penyakit Lyme stadium akhir, dapat mengalami masalah neurologis dan kejiwaan, termasuk gangguan memori, depresi, disleksia, kejang, kecemasan, serangan panik, hingga psikosis.

Selain itu, ditemukan juga fakta bahwa penyakit Lyme yang berlangsung dalam waktu lama dan tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya, akan menyebabkan masalah mental yang berhubungan dengan perubahan suasana hati, gangguan tidur, perilaku kompulsif obsesif, serta ADD atau ADHD.

Pengidap yang sudah diobati dengan antibiotik pada gejala awal penyakit Lyme, biasanya bisa sembuh total. Namun, ada beberapa dari mereka yang sudah menyelesaikan pengobatan dan masih tetap merasakan gejala seperti:

  • Lelah luar biasa,
  • Sulit berkonsentrasi, dan
  • Rasa sakit pada sendi.

Kondisi ini disebut dengan Post-Treatment Lyme Disease Syndrome atau PTLDS. Sebenarnya, hal ini masih menjadi tanda tanya di dunia kedokteran. Sebab, penyebab dari PTLDS masih sangat rancu. Ada yang berargumen bahwa PTLDS disebabkan oleh sisa dari infeksi Lyme. Tapi ada juga yang berargumen bahwa gejala ini ditimbulkan dari infeksi bakteri lain.

Meskipun belum ditemukan titik terang mengenai penyebab dari PTLDS, nyatanya pengobatan antibiotik dalam jangka waktu lama dinilai dapat memberikan secercah harapan bagi pengidap penyakit Lyme. Penggunaan obat-obatan ini dinilai dapat memberikan efek, meski secara perlahan, karena dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Baca Juga: 4 Cara Ampuh Membasmi Kutu Busuk di Rumah!

Tujuh puluh persen lebih pengidap PTLDS menilai bahwa mereka memiliki kualitas hidup yang rendah, bahkan lebih rendah dibandingkan pengidap diabetes dan depresi.

Bukan hanya efek fisik (kelelahan, sakit pada otot dan sendi, sakit kepala, dan gangguan pada jantung) yang ditimbulkan dari penyakit ini, tapi juga gangguan tidur, depresi, dan ketidakseimbangan proses kognisi, kerap menghantui mereka.

Related image
sorianoticias.com

Menurut survei yang dilakukan oleh organisasi Lyme disease, efek yang mengganggu fungsi normal dari pengidapnya ini menyebabkan sekitar 40 persen pengidap PTLDS tidak dapat bekerja lagi.

Masih mau menyepelekan gigitan serangga satu ini?

LEAVE A REPLY