Apa yang akan Terjadi Jika Istri Bekerja Sementara Suami Mengurus Anak?

0
274 views
Sumber: whattheflicka.com

Gulalives.com, JAKARTA – Waktu telah berubah. Pendidikan dan karir tidak hanya menjadi milik kaum pria. Kini, banyak wanita memiliki pendidikan dan karir yang bagus. Wanita dengan mudah menempati posisi strategis di perusahaan, dimana menghabiskan waktu untuk travel ke luar kota, kerja larut malam, hingga lembur.

Di sisi lain, kini pria dengan mengambil peran sebaliknya yang biasa mereka lakukan. Mereka tidak berkeberatan untuk tinggal di rumah dan mengurus anak sementara istri bekerja. Mungkin kondisi tidak memungkinkannya untuk bekerja seperti PHK, pendidikan rendah, atau bahkan faktor kemalasan mencari nafkah.

Berdasarkan studi terbaru, terjadi peningkatan jumlah pria yang tinggal di rumah untuk mengurus anak dan memasak. Bahkan, membeli bahan makanan untuk sebulan menjadi tugas suami. Era modern semakin membuat posisi pria dan wanita lebih luwes, bahkan bisa dibilang menjadi tren jika perempuan mencari nafkah.

Lalu, apa yang akan terjadi jika wanita pergi mencari kerja sementara suami memasak di rumah? Berikut ini ulasannya seperti yang dikutip dari situs Boldsky.

1. Harus siap menghadapi cibiran masyarakat

Sumber: www.flickr.com
Sumber: www.flickr.com

Pria yang memilih untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak, membersihkan dan mengurus anak harus siap menghadapi komentar miring masyarakat. Mungkin jika hidup di perkotaan dan luar negeri, komentar miring tidak terlalu deras berdatangan. So, haruskah suami mengurus rumah tangga kalau dia masih mampu mencari nafkah?

2. Suami jadi takut istri

Sumber: www.youtube.com
Sumber: www.youtube.com

Pria akan bersedia mengikuti semua aturan dan komitmen dari wanita. Inilah yang terjadi jika perempuan bekerja dan laki-laki memasak. Meskipun suami melakukan secara sungguh-sungguh, tetap saja posisi pria seperti di bawah ketiak istri.

3. Tak punya tempat berkeluh kesah

Sumber: kristinavaraksina.photoshelter.com
Sumber: kristinavaraksina.photoshelter.com

Istri di rumah biasanya tidak akan melewatkan pekerjaan rumah tangga. Sementara suami, jika mengurus rumah akan sangat sibuk memasak dan melakukan tugas rumah tangga dan harus bekerja sendirian. Mereka tidak memiliki orang lain untuk bersandar ketika menghadapi rutinitas yang membuat frustasi.

4. Suami bisa jadi ‘bos’ yang galak di rumah

Sumber: www.legalcheek.co
Sumber: www.legalcheek.co

Pria bisa jadi ‘bos’ yang galak jika bekerja di rumah. Pasalnya, laki-laki suka hal-hal perfeksionis. Ketika rumah berantakan misalnya, dan sang istri mengomentari, maka ia tidak akan menerimanya secara sportif dan mudah tersinggung.

5. Tak dapat gaji dari apa yang dilakukannya di rumah

Sumber: boldsky.com
Sumber: boldsky.com

Sebagian kita bekerja keras sehingga mendapatkan bayaran atau upah yang sesuai. Namun apa yang terjadi jika istri bekerja dan suami memasak? Suami dipaksa menyaksikan kenyataan pahit kehidupan, karena tidak memiliki penghasilan. Ini menjadi kenyataan pahit karena mereka tidak mendapatkan pujian atas kerja keras mereka.

6. Tidak ada waktu libur

Ingin Liburan
Tanda-tanda ingin berlibur Sumber: berlibur.co.id

Seorang istri mungkin melahirkan bayi dan mendapatkan cuti selama 3 bulan untuk beristirahat. Suami, tidak pernah mendapatkan libur jika ia mengurus rumah. Ia harus mengurus rumah tangga dan bekerja sepanjang malam untuk membantu isitrinya.

7. Suami jadi ibu, istri memilih berkarir

Sumber: www.dailyrepublic.com
Sumber: www.dailyrepublic.com

Apa jadinya jika hal ini terjadi? Pria pasti akan merasa tertekan jika harus memasak, menjadi orang tua dan pengurus rumah tangga. Di sisi lain, wanita lebih memilih karir yang menantang dibanding menjadi ibu di rumah.

 

Pada era modern, sering kita dapati suami memilih tidak bekerja pada saat istri mapan dalam mencari nafkah. Dalam Islam, kewajiban suami dalam mencari nafkah tetap tidak berubah. Kewajiban memberi nafkah ada di pundak laki-laki. Seorang suami harus berusaha sekuat kemampuannya untuk memberi nafkah kepada istrinya. Meski kondisi sedang sulit, kewajiban ini tidak lantas gugur dengan sendirinya.

Meskipun begitu, wanita sangat boleh bekerja asalkan suami setuju. Namun, wanita dianjurkan tidak melakukan pekerjaan berat maupun yang berisiko. Hal ini bukan untuk menghalangi atau membatasi. Anjuran itu terkait pula dengan tugas alamiah wanita, seperti melahirkan, menyusui, dan menjaga keluarga.

Meski bekerja, istri tidak boleh mengabaikan tugas utamanya untuk mengurus keluarga. Jangan sampai kesibukan bekerja menyebabkan suami dan anak-anaknya telantar. [LP]

LEAVE A REPLY