Mengapa Lebih Banyak Wanita yang Mengajukan Gugatan Cerai daripada Pria?

indianexpress.com

Gulalives.co – Kita sama-sama tahu jika membangun rumah tangga harmonis bukanlah hal yang mudah. Dan semua orang yang menikah, tentu tidak dengan niat sengaja untuk kembali berpisah di kemudian hari. Namun, tetap ada di antara kita yang nyatanya harus mengalami perceraian. Dan penelitian mengatakan bahwa gugatan cerai lebih banyak dilayangkan oleh wanita, daripada pria. Lantas, apa alasan dan penyebabnya?

Related image
shutterstock.com

Dilansir dari laman Psychology Today, Gad Saad, PhD, seorang ilmuwan dari John Molson School of Business di Kanada, menemukan bahwa sebanyak 68,9% kasus perceraian diajukan oleh pihak wanita.

Hal ini terungkap setelah mengamati ulasan survei di tahun 2000, yakni mengenai kasus-kasus perceraian di Amerika Serikat yang diterbitkan dalan jurnal American Law and Economics Review.

Namun, apa yang membuat wanita lebih dominan melayangkan gugatan cerai daripada pria? Peneliti sepakat bahwa ada beberapa alasan kuat kenapa lebih banyak wanita yang mengajukan gugatan cerai, antara lain karena ada begitu banyak kemungkinan terjadi masalah dalam sebuah rumah tangga.

Mulai dari masalah sepele, hingga masalah yang bisa membuat perang dingin terjadi. Tapi apa hal yang memicu seorang wanita minta cerai dari suaminya, tidak selalu karena alasan perselingkuhan.

Tak jarang masalah kecil yang terjadi berulang kali, perlahan menggerogoti batin wanita, sehingga rasa sakit hati, kecewa, dan marah yang selama ini ia pendam, akhirnya membuat ia yakin untuk berpisah.

Apalagi kalau suaminya, mungkin merasa isu tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Contoh, wanita yang merasa suaminya tidak pernah ada di rumah karena terlalu sibuk kerja atau tidak ingin terlibat dalam mengurus anak. Bagi suami ini wajar, bagi istri? Coba bicarakan pada pasangan kalian masing-masing.

Baca Juga: Sebenarnya, Bisakah Kita Menghindari Perceraian?

Beberapa lainnya mungkin tidak merasa ragu untuk meninggalkan suaminya karena adanya perbedaan prinsip dalam membesarkan anak, masalah finansial, atau ketika mereka ketahuan terjerat masalah hukum di tengah perjalanan rumah tangga.

Wanita juga bisa memilih untuk mengajukan gugatan cerai karena merasa selalu “bertepuk sebelah tangan” dalam mengarungi rumah tangga. Padahal kita tahu jika pernikahan adalah hubungan di mana kebersamaan harus terjalin dengan baik.

Menjalin rumah tangga butuh kerja sama yang sebanding dari kedua belah pihak. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Tapi kadang harapan tidak berjalan sesuai dengan realita. Menurut sebuah studi terbitan Journal of Family Issues, pria jauh lebih jarang melakukan pekerjaan rumah daripada istri.

Nyatanya hal ini bisa membuat pihak istri merasa diperlakukan tidak adil. Sebab mereka harus mengurus rumah, merawat anak, sekaligus menjadi istri yang baik, tapi suami? Tidak bersedia ikut andil dalam hal-hal yang sebenarnya juga merupakan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Tidak jarang lho wanita merasa tidak puas dengan ekspektasi kehidupan rumah tangganya, karena merasa dikekang oleh suaminya sendiri. Contoh, tidak boleh bekerja setelah menikah dan harus mengurus rumah.

Padahal di awal pernikahan tidak ada perjanjian demikian. Maka, kekangan tersebut dapat menjadi pemicu ketidakpuasan batin bagi sebagian besar wanita.

Beda halnya jika hal ini sudah dibicarakan sejak awal, atau merupakan keinginan si istri sendiri. Sebenarnya, kuncinya adalah membicarakan hal ini dengan baik dan terbuka, serta menghargai pandangan masing-masing.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Michael Rosenfeld, seorang dosen sosiologi di Stanford University, menemukan bahwa selain rasa ketidakpuasan dan kekangan yang lama-lama membuat wanita gerah, satu alasan besar yang mendorong wanita akhirnya mengajukan gugatan cerai adalah perlakuan kasar dari suami.

Baik secara fisik, verbal (dengan kata-kata), psikologis dan emosional (manipulatif alias “gaslighting”), atau bahkan kekerasan seksual (pemerkosaan dalam perkawinan).

Semua termasuk ke dalam kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tentu tidak bisa ditoleransi sama sekali. Termasuk juga kekerasan fisik dan seksual pada anak-anak, ya.

Perceraian adalah keputusan kedua pasangan untuk masa depan hubungan mereka. Namun, perlu pertimbangan matang-matang sebelum mengambil jalan ini. Pernikahan bukan permainan, dan perceraian bukan jalan coba-coba. Maka, untuk mempertahankan hubungan dan menghindari perceraian, kamu dan pasangan perlu menyimak ini baik-baik:

  • Tingkatkan komunikasi satu sama lain, yakni dengan mengutarakan serta mendengarkan perasaan satu sama lain.
  • Berkompromi dan tidak saling menyalahkan.
  • Bila perlu, luangkan waktu untuk menenangkan diri
  • Belajar untuk saling memaafkan kesalahan satu sama lain, dan tidak mengulanginya di kemudian hari.
Related image
boldsky.com

Ingat, bagaimana niat awal kalian menikah? Saling cinta? Ibadah? Atau karena apa? Tanyakan pada hatimu yang terdalam, dan jangan berdusta pada dirimu sendiri. Perceraian bukanlah hal yang baik, maka jangan asal ucap dan layangkan gugatan cerai. Pikirkan matang-matang, sebelum mengambil keputusan besar nan berat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here