7 Strategi Jitu Mengajarkan Disiplin pada Anak

Lakukan beberapa strategi mengajarkan disiplin pada anak dalam kesehariannya (Foto: Homeworld)

Gulalives.com, JAKARTA – Orangtua perlu mengajarkan nilai kedisiplinan pada anak. Lakukan beberapa strategi mengajarkan disiplin pada anak dalam kesehariannya.

Sebagai anak berusia 2 tahun, Raffa, senang dengan pedang mainan dan berduel dengan Rania, kakaknya yang berusia 4 tahun. Seringkali, dia memukul kepala kakaknya sampai kemudian menangis. Sang ibunda pun datang berlari untuk melihat apa yang terjadi. Dia akan meminta Raffa untuk meminta maaf, serta memberikan Rania pelukan dan membuat dia tertawa untuk menenangkan perasaan sedihnya. Kalau Raffa menolak meminta maaf, sang ibunda akan menyuruh anaknya untuk berhenti bermain.

Sang ibunda tentu khawatir putranya tidak akan pernah lepas dari perilaku kasar. Bahkan, ada hari-hari ketika ibunya merasa sangat frustrasi dan berakhir dengan menangis. Dia hanya ingin Raffa bermain dengan baik, jadi dia melakukan yang terbaik untuk mengajarinya.

Bagi banyak ibu, mengajarkkan disiplin yang efektif adalah salah satu tugas paling sulit dan paling membuat frustrasi. Tampaknya, anak selalu menyalahi aturan yang ibu buat di setiap tahapan usia mereka. Perbedaan usia kakak-adik hanya memunculkan perilaku saling mengganggu.

Sebenarnya, apa arti “disiplin” bagi balita? Sebagian anak menyamakannya dengan pukulan dan hukuman, tapi tentu bukan itu yang akan kita ajarkan. Seperti banyak ahli parenting melihatnya, disiplin adalah tentang pengaturan aturan untuk menghentikan si kecil terlibat dalam perilaku yang agresif (memukul dan menggigit), berbahaya (berlarian di jalanan), dan tidak pantas (melemparkan makanan).

Disiplin juga mematuhi aturan yang disertai konsekuensi ketika ia melanggarnya. Berikut adalah tujuh strategi yang dapat membantu Moms dalam mengajarkan disiplin, dengan kata lain menetapkan batas dan menghentikan perilaku buruk, pada anak, diulas Parents:

1. Tetapkan batasan

(Foto: Parents)
(Foto: Parents)

Kalau Moms selalu mengatakan, “Tidak, tidak, tidak”, anak hanya akan memahami kata tersebut dan tidak akan mengerti prioritas Moms. Ditambah, Moms tidak mungkin dapat menindaklanjuti semua larangan.

Karena itu, tentukan apa yang penting bagi Moms, tetapkan batasan yang sesuai, lalu tindaklanjuti dengan konsekuensi yang sesuai. Sikap Moms bisa mereda pada hal-hal kecil yang mengganggu, tapi tidak masuk ke dalam kategori “tidak peduli”. Dia mungkin sedang merasa senang saat bersikeras dengan keinginannya, Moms patut memahami sesuai tahap perkembangan usianya.

Sebagai contoh, Anna membiarkan putrinya yang berusia 2,5 tahun bermain hingga membuat berantakan kamar tidurnya sebelum tidur siang. Anna menemukan buku-buku dan pakaian yang tersebar di lantai ketika putrinya bangun dari tidur siang. Putrinya pun kembali bermain. Anna mengatakan padanya untuk tidak membuat berantakan, tapi putrinya tidak mendengarkan.

Alih-alih berkata, “Tidak, tidak, tidak”, Anna meminta putrinya untuk membersihkan mainan tepat setelah tidur siang. Anna juga memberi pujian untuk putrinya yang mau berbagi mainan dengan adiknya. Penguatan positif akan mendorong anak untuk melakukan lebih dari perilaku yang baik, dan mengurangi perilaku buruk.

2. Tahu pemicu sikap anak

(Foto: Parentingfunda)
(Foto: Parentingfunda)

Beberapa perilaku dapat dicegah sepanjang Moms bisa mengantisipasi apa yang akan memicunya, dan Moms membuat rencana permainan di awal. Strategi ini bekerja untuk Ayu, setelah anaknya yang berusia 2 tahun bersorak sambil menyeret tisu toilet di lorong rumahnya. Anaknya cekikikan sambil membentangkan gulungan tisu toilet di belakangnya.

Dua kali Aryo, anaknya, melakukan tindakan tersebut. Dua kali pula Ayu melarangnya, tapi Aryo tidak mau mendengarkan. Saat Aryo melakukannya untuk ketiga kali, Ayu pun memindahkan tisu toilet ke rak kamar mandi yang lebih tinggi sehingga Aryo tidak bisa mencapainya.

Untuk balita, menarik tisu toilet benar-benar kesenangan yang tak tertahankan. Akan terasa lebih mudah bagi Moms untuk membiarkannya daripada bertengkar tentang hal itu.

Kalau anak usia 18 bulan Moms rentan untuk menyambar kaleng dari rak-rak toko kelontong, bawa beberapa mainannya ke dalam keranjang saat Moms berbelanja. Saat anak usia 2 tahun Moms tidak ingin berbagi boneka binatang miliknya dengan teman-temannya di rumah, pindahkan mainan tersebut dari area bermain sebelum teman-temannya tiba. Dan, kalau anak usia 3 tahun Moms senang menggambar di dinding, simpan krayon di luar jangkauannya dan jangan biarkan dia mewarnai tanpa pengawasan Moms.

Sebagian anak bertindak ketika mereka merasa lapar, lelah, atau frustrasi dengan keadaan tertentu. Pastikan anak menyantap makanan ringan yang sehat, cukup tidur (minimal 10 jam di malam hari, ditambah 1-2 jam tidur siang), dan bermain di luar rumah untuk membakar energi tubuhnya.

3. Bersikap konsisten

(Foto: Huffingtonpost)
(Foto: Huffingtonpost)

Antara usia 2 dan 3 tahun, anak-anak bekerja keras untuk memahami bagaimana dampak perilaku mereka terhadap orang-orang di sekitarnya. Jika reaksi Moms terhadap situasi terus berubah, misal suatu hari membiarkan anak bermain bola di dalam rumah tapi di hari lain tidak demikian, Moms membuat dia bingung.

Tidak ada rumus berapa banyak insiden telah terjadi ataupun teguran sebelum anak berhenti melakukan kenakalan tertentu. Namun, jika Moms selalu merespons dengan cara yang sama, dia akan memahami pola atau aturan tersebut, setelah sekitar empat atau lima kali ditegur.

Konsistensi adalah kunci, seperti dilakukan Orly ketika putrinya, Sasha, yang berusia 18 bulan melewati fase menggigit. Setiap kali menggigit jari ibunya, Orly berteriak, “Tidak, Sasha! Jangan gigit, ibu sakit,” kemudian menyerahkan mainan sebagai hiburan Sasha. Orly merasa tidak berdaya untuk mengingatkan putri kecilnya, yang sering kaget dengan teriakannya.

Moms, pada usia 2 tahun, banyak anak belajar bagaimana membuat orangtua mereka tidak berdaya mendisiplinkannya hanya bertingkah lucu. Jangan biarkan taktik anak mengecohkan Moms untuk tidak bersikap disiplin, seberapa lucu atau pintarnya mereka.

4. Jangan emosional

(Foto: Parentminds)
(Foto: Parentminds)

Tentu, sulit untuk tetap tenang ketika anak usia 18 bulan Moms menggigit ekor kucing atau anak 3 tahun Moms menolak untuk menggosok gigi malam sebelum tidur selama berhari-hari. Namun, jika Moms berteriak penuh emosional, pesan yang ingin Moms sampaikan tidak akan sampai dengan efektif.

Ketika seorang anak dibanjiri dengan suasana hati negatif dari orangtuanya, dia akan melihat emosi dan tidak akan mendengar apa yang Moms katakan. Ambil napas dalam-dalam, hitung sampai tiga, lalu sejajarkan pandangan Moms dengan mata anak. Jadilah cepat, tegas, dan serius ketika Moms memberikan teguran.

5. Sampaikan pesan yang singkat dan sederhana

(Foto: Peachyproductsdirect)
(Foto: Peachyproductsdirect)

Jika Moms seperti kebanyakan ibu baru, Moms cenderung menyampaikan alasan kepada anak ketika dia melanggar aturan. Moms memberikan penjelasan rinci bahwa apa yang dia lakukan adalah salah seraya mengeluarkan ancaman bahwa dia akan kehilangan haknya jika tidak berhenti nakal. Namun, sebagai strategi disiplin, banyak bicara bisa terlihat terlalu emosional bagi anak.

Anak usia 18 bulan belum memiliki kemampuan kognitif untuk memahami kalimat-kalimat kompleks sedangkan usia 2-3 tahun dengan keterampilan bahasa yang lebih maju masih kekurangan rentang perhatian untuk menyerap apa yang Moms katakan. Sebaliknya, berbicara dalam kalimat pendek, mengulangi beberapa kali, dan gabungkan penekanan pesan dengan ekspresi wajah Moms. Misalnya, jika anak usia 18 bulan Moms memukul lengan, katakanlah, “Tidak, Farhan! Jangan pukul Ibu! Itu menyakitkan! Jangan memukul. Jangan memukul.”

Sementara, seorang anak berusia 2 tahun dapat memahami sedikit lebih banyak. Misalnya, “Evan, jangan melompat di sofa. Jangan melompat! Melompat berbahaya, kamu bisa jatuh. Jangan melompat!”. Dan, anak usia 3 tahun dapat memproses sebab dan akibat, jadi Moms bisa menegaskan antara perilaku dan konsekuensi. Misalnya, “Ashley, gigimu harus disikat. Kamu bisa menyikatnya atau Ibu yang menyikatnya untuk kamu. Kamu yang memutuskan.”

6. Berlakukan time-out

(Foto: Popsugar)
(Foto: Popsugar)

Jika teguran berulang, pengalihan, dan hilangnya hak tidak menghilangkan kenakalan anak, pertimbangkan untuk menempatkan dia dalam time-out atau berhenti bermain selama satu menit per tahun usianya. Ini adalah alat kedisiplinan yang sangat baik untuk anak-anak yang sudah sangat sering dilarang.

Sebelum memberlakukan time-out, tunjukkan wajah serius Moms dan berikan peringatan dengan nada suara keras. Misalnya, “Ibu hitung sampai tiga. Kalau kamu belum berhenti, Ibu akan beri time-out. Satu, dua, tiga!”. Kalau dia tidak mendengarkan, bawa ke tempat tenang dan aman dimana Moms sudah menunjuknya untuk time-out, lalu atur waktunya dengan timer. Ketika time out sudah selesai, minta dia untuk meminta maaf dan memberikan pelukan untuk menyampaikan bahwa Moms tidak marah. Usia balita tidak suka dipisahkan dari orangtua dan mainan mereka, sehingga hukuman time-out sudah cukup untuk menghentikan aksi mereka.

7. Tetap positif

(Foto: Sciencedaily))
(Foto: Sciencedaily))

Tidak peduli bagaimana Moms frustrasi dengan kenakalan anak, jangan melampiaskan hal tersebut di depannya. Sebagai perumpamaan, jika karyawan mendengar bahwa atasan mereka di tempat kerja mengatakan, “Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan karyawan saya. Mereka menjalankan perusahaan, dan saya merasa tidak berdaya untuk melakukan sesuatu”, karyawan akan kehilangan rasa hormat kepada atasannya.

Ini hal yang sama ketika anak-anak mendengar orangtua mereka berbicara tentang mereka dengan cara putus asa atau negatif. Mereka tidak akan memiliki citra yang baik dari Moms sebagai “atasan” mereka, dan mereka cenderung akan mengulangi kenakalannya. Namun, sangat normal kalau Moms merasa jengkel dari waktu ke waktu. Jika Moms mencapai titik tersebut, beralih ke pasangan, dokter anak, atau teman terpercaya Moms untuk meminta dukungan dan saran.

Usia & Tahapan

Mengajarkan kedisiplinan secara efektif dimulai dengan pemahaman terhadap perkembangan usianya. Berikut ini sebagai panduan:
– Pada usia 18 bulan, anak merasa penasaran, takut, impulsif, aktif, dan tidak memahami konsekuensi dari tindakannya. Sebagai gambar, anak 18 bulan seperti berjalan menyusuri lorong jauh dari ibunya, tetapi sesekali tetap melihat apakah ibunya ada di sana, dan kemudian berjalan lagi. Meskipun dia membangun kosakata dan dapat mengikuti petunjuk sederhana, dia tidak dapat secara efektif mengkomunikasikan kebutuhannya atau memahami teguran panjang. Dia mungkin menggigit atau memukul untuk menunjukkan ketidaksenangannya atau mendapatkan perhatian orang di sekitarnya.

Konsekuensi dari perilaku negatifnya harus diberikan segera. Jika Moms menunggu bahkan 10 menit untuk bereaksi, dia tidak akan ingat bahwa yang dia lakukan salah atau mengkaitkan tindakan dengan konsekuensinya.

Consequences should be swift, as a 2-year-old is unable to grasp time. But since she still lacks impulse control, give her another chance soon after the incident, says Claire Lerner, LCSW, director of parenting resources with Zero to Three, a nationwide nonprofit promoting the healthy development of babies and toddlers.

– Pada usia 2 tahun, anak menggunakan keterampilan motoriknya yang berkembang untuk menguji batas, dengan berlarian, melompat, melempar, dan mendaki. Dia berbicara beberapa kata pada suatu waktu, dan menjadi frustrasi ketika tidak bisa mendapatkan keinginannya yang terkadang berakhir dengan amukan. Dia juga egois dan tidak ingin berbagi.

Konsekuensi yang diberikan harus cepat karena usia 2 tahun tidak dapat memahami waktu. Karena dia masih kekurangan kontrol impuls, beri kesempatan lain segera setelah kejadian.

– Pada usia 3 tahun, anak semakin cerewet. Dia menggunakan bahasa untuk berdebat dengan sudut pandangnya. Dia suka bersama anak-anak lain dan memiliki energi tak terbatas, ia mungkin memiliki waktu yang sulit bermain dengan tenang di rumah.

Mengambil kelas gym atau karate untuk anak 3 tahun akan memberinya kontak sosial yang dia butuhkan untuk melepaskan energi. Pada usia ini, anak-anak membutuhkan hal tersebut sama banyaknya dengan kasih sayang dan makanan. Dia juga tahu konsep benar dan salah, memahami sebab dan akibat, dan mempertahankan informasi selama beberapa jam.

Untuk anak usia ini, konsekuensi yang diberikan dapat ditunda untuk hasil lebih maksimal. Dia juga dapat menerima penjelasan yang lebih rinci. Misalnya, jika ia melemparkan makanan ke adiknya, ingatkan dia tentang aturan “tidak melempar” dan jelaskan bahwa jika dia melakukannya lagi, dia tidak akan bisa menyaksikan serial kartun kesukaannya.

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY