10 Ungkapan Jangan Pernah Katakan pada Anak

Terdapat setidaknya 10 ungkapan sehari-hari yang jangan pernah orangtua katakan pada anak (Foto: Popsugar)

Gulalives.com, JAKARTA – Orangtua harus menjaga ucapan saat bersama anak. Terdapat setidaknya 10 ungkapan sehari-hari yang jangan pernah orangtua katakan pada anak.

Moms, jangan lagi menggunakan kalimat “Tunggu sampai ayahmu pulang” atau “Ibu berharap kamu bisa seperti kakakmu” kepada anak-anak. Simak beberapa ungkapan lain yang sepatutnya orangtua hindari saat bersama anak-anak, diulas Parents:

1. “Kerja bagus”

(Foto: Coolmompicks)
(Foto: Coolmompicks)

Penelitian telah menunjukkan bahwa melontarkan pujian seperti “Anak baik” atau “Kamu pintar” setiap kali anak berhasil menyelesaikan tanggung jawab akan berdampak buruk. Hal tersebut menyebabkan dia bergantung pada kalimat tersebut daripada memotivasi dirinya sendiri.

Simpan pujian Moms sampai benar-benar diperlukan. Dan, berikan pada tanggung jawab yang sespesifik mungkin. Alih-alih “Permainan super”, katakanlah, “Itu bagus, nak. Ibu suka bagaimana kamu bekerjasama dengan tim kamu tadi”.

2. “Latihan bikin hasil pekerjaan kamu sempurna”

(Foto: Yahoo)
(Foto: Yahoo)

Memang benar bahwa lebih banyak waktu anak-anak mencurahkan perasaan dan idenya, maka kemampuannya akan menjadi lebih tajam. Namun, ungkapan tersebut memberikan tekanan hingga dia merasa harus selalu menang atau unggul. Tersirat pesan bahwa kalau anak membuat kesalahan, itu disebabkan dia tidak berlatih keras.

Moms mungkin pernah melihat seorang anak memukuli atau menyakiti dirinya. Dalam hati, anak tersebut bertanya, “Apa yang salah denganku? Aku berlatih, berlatih, berlatih, dan aku masih bukan yang terbaik.” Lebih baik dorong anak untuk bekerja keras karena kemampuannya akan berkembang dan dia merasa bangga dengan kemajuan tersebut.

3. “Kamu akan baik-baik saja”

(Foto: Dailymail)
(Foto: Dailymail)

Ketika anak memegang lututnya sambil menangis setelah jatuh dari sepeda, naluri Moms mungkin akan meyakinkan dia bahwa dia tidak terluka parah. Namun, mengatakan bahwa ia baik-baik saja hanya akan membuatnya merasa lebih buruk.

Tidak mengapa anak menangis. Tugas Moms adalah untuk membantu dia memahami dan menangani emosinya, bukan menghilangkannya dengan kalimat penghibur hati. Coba beri dia pelukan dan berempati dengan apa yang baru saja dia alami. Misalnya dengan mengatakan, “Ibu lihat kamu jatuh dari sepeda, itu benar-benar sakit. Ibu dulu juga pernah mengalaminya sewaktu kecil.” Kemudian, tanyakan apakah ia ingin perban atau ciuman (atau keduanya).

4. “Cepatlah!”

(Foto: Calgaryherald)
(Foto: Calgaryherald)

Anak-anak tengah menyantap sarapannya tanpa disuapi, bersikeras mengikat sendiri tali sepatu meskipun belum cukup mahir, dan hasilnya, mereka terlambat ke sekolah. Ini sudah kesekian kali, Moms pun merasa mulai putus asa.

Jangan membawa anak pada keadaan yang menciptakan stres tambahan, misalnya melontarkan ungkapan “Cepatlah” dengan nada tinggi. Moms bisa menggunakan ungkapan tersebut, tapi dengan cara yang lebih halus dan mengirimkan pesan bahwa Moms dan dia adalah sebuah tim yang tidak ingin terlambat ke sekolah. Misalnya, jadikan kegiatannya di pagi seperti sebuah permainan atau lomba. Katakan, “Ayo, kita lomba siapa yang bisa duluan pakai sepatu!”. Anak akan lebih bersemangat, dan tanpa sadar mempercepat kegiatannya.

5. “Ibu sedang diet”

(Foto: Sheknows)
(Foto: Sheknows)

Moms sedang dalam program penurunan berat badan? Pastikan simpan untuk diri sendiri. Kalau si kecil melihat Moms menimbang berat badan setiap hari dan mendengar Moms berbicara tentang “menjadi gemuk,” dia mungkin mengembangkan citra tubuh yang tidak sehat.

Moms lebih baik mengatakan, “Ibu makan sehat supaya ibu enggak mudah sakit.” Sempurnakan juga upaya sehat Moms dengan olahraga. “Ibu perlu olahraga” bisa terdengar seperti keluhan, tapi lebih baik ucapkan “Cuaca di luar cerah, ibu akan berjalan-jalan”. Ungkapan tersebut dapat menginspirasi dia untuk bergabung dengan Moms.

6. “Kita tidak mampu membeli itu”

(Foto: Wisegeek)
(Foto: Wisegeek)

Sangat mudah untuk menggunakan ungkapan tersebut ketika anak memohon dibelikan mainan terbaru. Namun, hal ini mengirimkan pesan bahwa Moms tidak dapat mengendalikan keuangan keluarga, yang dapat terlihat menakutkan bagi anak-anak. Bagaimana kalau di kesempatan lain, anak melihat Moms membeli perabotan rumah yang mahal?

Pilih alternatif untuk menyampaikan ide yang sama, seperti “Kita tidak akan membeli mainan itu karena kita akan menyimpan uang untuk membeli hal-hal yang lebih penting.” Kalau dia bersikeras membahas lebih lanjut, Moms memiliki jendela kesempatan yang baik untuk memulai percakapan tentang anggaran dan bagaimana mengelola uang.

7. “Jangan bicara dengan orang asing”

(Foto: Parenting)
(Foto: Parenting)

Ini adalah konsep yang sulit bagi anak-anak untuk memahaminya. Bahkan jika seseorang tidak dikenal, dia mungkin tidak menganggapnya sebagai orang asing jika orang tersebut baik kepadanya. Plus, anak-anak dapat memahami aturan ini dengan cara yang salah, misalnya dengan menolak bantuan polisi atau pemadam kebakaran karena mereka tidak mengenal para petugasnya.

Alih-alih memberi peringatan padanya tentang orang asing, lebih baik buat skenario tentang apa yang akan anak Moms lakukan jika seorang pria yang tidak dia kenal menawarkan permen dan perjalanan pulang sekolah?. Minta dia menjelaskan apa yang akan dia lakukan, sambil membimbingnya pada tindakan yang tepat. Karena sebagian besar kasus penculikan anak melibatkan seseorang yang tidak mereka kenal, Moms bisa mengajarkannya “mantra keselamatan”. Bunyinya, “Kalau ada yang membuat kamu merasa sedih, takut, atau bingung, kamu harus memberitahu ibu segera.”

8. “Hati-hati”

(Foto: Inhabitots)
(Foto: Inhabitots)

Mengatakan ini saat anak berada di taman bermain benar-benar membuatnya lebih mungkin akan jatuh. Kata-kata Moms mengalihkan perhatiannya dari apa yang dia lakukan, jadi dia kehilangan fokus.

Kalau Moms merasa cemas dengan permainan yang dia mainkan, mendekatlah ke tempat dia berada. Jika dia jatuh, tunjukkan sikap tenang sebisa yang Moms lakukan.

9. “Tidak ada makanan penutup kecuali kamu habiskan makan malam”

(Foto: Nydailynews)
(Foto: Nydailynews)

Menggunakan ungkapan ini dengan tujuan meningkatkan perhatian anak justru mengurangi kenikmatannya menyantap makanan. Hasilnya justru berkebalikan dari apa yang ingin Moms capai.

Ganti pesan Moms dengan kalimat, “Pertama, kita habiskan makan malam, lalu kita bisa menyantap makanan penutup.” Dengan perubahan kata-kata yang meskipun halus, memiliki dampak yang jauh lebih positif pada anak.

10. “Biarkan Ibu membantu”

(Foto: Louisvillerealestateblog)
(Foto: Louisvillerealestateblog)

Ketika anak sedang berjuang untuk membangun menara blok atau menyelesaikan teka-teki, adalah hal wajar untuk ingin memberinya bantuan. Salah!

Kalau Moms membantunya terlalu cepat, hal itu justru dapat melemahkan kemandirian anak karena dia akan selalu mencari orang lain untuk sebuah jawaban.

Sebaliknya, ajukan pertanyaan-pertanyaan arahan untuk membantunya memecahkan masalah. Misalnya, “Menurut kamu, potongan besar atau kecil itu harus ada di bawah menara, kenapa? Kita coba dua potongan itu, yuk!”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here