Ilustrasi Kelumpuhan Tidur

Gulalives.com, JAKARTA – Pernahkah mom dan ladies tiba-tiba terbangun dari tidur, namun tak bisa bergerak? Saat bersaman, seolah-olah ada mahluk menyeramkan duduk dan menindih dada. Itulah kelumpuhan tidur atau sleep paralysis. Bahasa awamnya tindihan.

Kelumpuhan tidur adalah perasaan sadar namun tidak bisa bergerak. Ini terjadi ketika seseorang melewati tahapan antara terjaga dan tidur. Selama transisi ini, dia tidak dapat bergerak atau berbicara selama beberapa detik hingga beberapa menit. Beberapa orang juga merasakan tekanan atau tersedak.

Seperti dikutip dari webmd.com. kelumpuhan tidur menemani gangguan tidur lainnya, seperti narkolepsi. Narkolepsi merupakan kebutuhan kuat untuk tidur, yang disebabkan oleh adanya masalah dengan kemampuan otak untuk mengatur tidur.

Para peneliti tidur menyimpulkan, dalam banyak kasus, kelumpuhan tidur hanyalah tanda tubuh seseorang tidak bergerak lancar melalui tahapan tidur. Jarang terjadi kelumpuhan tidur dipicu oleh masalah kejiwaan yang mendalam.

Selama berabad-abad, gejala kelumpuhan tidur dijelaskan dalam banyak cara dan sering dikaitkan dengan kehadiran mahluk jahat, seperti setan atau roh gentayangan. Dalam novel klasik Romeo dan Juliet karya Shakespeare, gangguan ini dikaitkan dengan kedatangan sosok menyeramkan yang hendak menculik orang yang tidur.

Kapan kelumpuhan tidur terjadi? Gangguan ini biasanya terjadi satu atau dua kali dalam tidur. Jika terjadi saat seseorang jatuh tertidur, itu disebut hypnagogic paralysis atau tidur predormital. Jika hal itu terjadi saat seseorang bangun, itu disebut postdormital hypnopompic atau kelumpuhan tidur.

Apa yang terjadi dengan hypnagogic sleep paralysis? Ketika seseorang jatuh tertidur, tubuhnya perlahan-lahan rileks. Biasanya ini jarang disadari sehingga seseorang tidak melihat perubahan. Namun, jika tetap sadar saat tertidur, dia melihat bahwa tubuhnya tidak bisa bergerak atau berbicara.

Selanjutnya, apa yang terjadi dengan hypnopompic sleep paralysis? Selama tidur, secara bergantian seseorang mengalami REM (rapid eye movement/ gerakan mata cepat) dan NREM (non-rapid eye movement/ gerakan mata tidak cepat).

Satu siklus REM dan NREM berlangsung 90 menit. Tidur NREM terjadi lebih dulu, dan memakai 75% dari waktu tidur secara keseluruhan. Selama tidur NREM, tubuh cenderung rileks. Pada akhir NREM, terjadi pergeseran menuju tidur REM. Biasanya, mimpi terjadi pada siklus ini. Tubuh sangat santai dan otot ‘dimatikan’ selama tidur REM.

Jika seseorang tersadar sebelum siklus REM selesai,maka dia akan melihat bahwa tubuhnya tidak bisa bergerak atau berbicara. Inilah saat kelumpuhan tidur terjadi. (AA)

LEAVE A REPLY