Gulalives.com, BOGOR – Usaha boleh gulung tikar, namun semangat untuk bangkit terus berkobar. Mungkin jiwa ini yang belum banyak dimiliki oleh para pebisnis. Berbeda dengan Leony Agus Setiawati, owner produk busana muslim Azka Syah. Pelan-pelan ia mulai menata rapi management bisnisnya. Apa yang terjadi? Bendera usaha Leony semakin berkibar.

Tahun 2008, Azka Syah diganjar penghargaan UKM Berprestasi dari Bupati Bogor. Di tahun yang sama, brand ini mendapat peringkat IV Kontes Pemanfaatan TIK (Teknologi Ilmu Komputer) oleh UKM dari Kementerian Negara KUKM RI. Setahun kemudian, Leony didapuk sebagai juara 1 ”Young Entrepeneur Awards” Kategori Utama dari Bisnis Indonesia. Tahun 2010, desain busana sulam etniknya meraih juara ke-2 Tingkat Nasional Lomba Fashion Show Busana Muslim pada Festival Maulid Nusantara di kota Palu. Masih di tahun itu, ibu 3 anak itu didaulat sebagai Ibu Inspirator Pengembangan Perekonomian Masyarakat di event UMMI AWARD.

Usai Bangkrut, Azka Syah Raih Belasan Penghargaan. Apa Rahasianya 2

Prestasi demi prestasi terus datang silih berganti. Tahun 2011, Azka Syah menerima penghargaan Dedikasi Pemberdayaan Kelompok Perajin Produk Fesyen Muslim dari Kementerian KUKM RI. Tahun 2012, ibu dosen Kewirausahaan ini menyabet titel Perempuan Hebat dari ANTV. Tahun 2013, brand ini diganjar Tegar Beriman Award dari Kabupaten Bogor. Di tahun yang sama, Leony menerima Anugerah Wirausaha Indonesia dari Bussiness Opportunity. Setahun berselang, Azka Syah menyandang predikat UKM Mandiri Terbaik Bidang Kerajinan dari YDBA (Astra). Tahun 2015, UKM ini lolos uji sertifikasi ISO 9001 : 2008 dari LIPI dan Indag Bogor.

Pertanyaannya, bagaimana Leony bisa menemukan solusi ketika tahun 2004 usahanya bangkrut?

” Kondisi terberatnya adalah ketika orang-orang terdekat kita bilang untuk berhenti. Di depan, saya lihat ada 2 opsi. Belok kiri dan berhenti total atau belok kanan dan berusaha untuk jalan terus sambil introspeksi diri. Saya ikut banyak pelatihan terutama membangun mental. Ternyata, kelemahan saya ada sekodi (20 macam). Di antaranya, jiwa kepemimpinan saya masih kurang dan usaha saya belum punya SOP yang baku. Pengusaha itu level stres nya ada 2: Kalo pembeli lagi rame stres karena capek, kalo pembeli sepi juga stress karena bingung. Di saat kering itu saya coba berbenah dan komit untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama,” beber Leony.

Usai Bangkrut, Azka Syah Raih Belasan Penghargaan. Apa Rahasianya 3

“Tahun 2005 dengan modal 1 juta rupiah, saya kembali membuka usaha. Uang 700 ribu buat beli mesin jahit bekas dan 300 ribu lagi untuk beli bahan kiloan. Saya ketemu ide mengembangkan sulam tangan untuk desain busana muslim. Saya cari tukang potong, tukang jahit, tukang seterika, dan 2 orang penyulam. Saya manfaatkan ruang di garasi rumah,” sambungnya.

Leony juga mulai mengalihkan cara pandang bisnisnya ketika ada kejadian yang membuat miris. “Suatu pagi, ada tetangga datang ke rumah meminta pekerjaan. Seorang ibu yang punya 4 anak yang masih kecil-kecil. Suami ibu ini kerjanya di Bandung. Saya terima ibu itu untuk memasang kancing baju. Sebelum berangkat ke luar, saya kasih upahnya dan menyediakan nasi serta lauk di atas meja untuk ibu itu. Sore harinya, tukang setrika saya bilang kalau ibu tadi nangis-nangis sambil bercerita kalo hari itu dia baru ketemu nasi. Upah yang saya beri tadi ia belikan ke beras dan lauk untuk makan anak-anaknya di rumah. Saya tercengang dan salut dengan kegigihan ibu itu. Meski kekurangan uang, ia nggak mengeluh ke suaminya, tapi ia juga nggak meminta-minta. Ia memilih bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Dari situ muncul tantangan bagaimana saya bisa memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar perumahan agar bisa menghasilkan pendapatan yang bagus,” lontar istri M. Anwar Sanusi itu.

Selain memberdayakan ibu-ibu di sekitar komplek perumahannya di Ciomas, Leony juga menyisihkan sebagian omzet usahanya untuk kepentingan CSR. Di antaranya program ketahanan pangan, pinjaman tanpa bunga dan agunan untuk usaha mikro dan keluarga, perbaikan sarana lingkungan dan ibadah, beasiswa untuk siswa duafa berprestasi & guru tahsin, sunatan masal untuk anak yatim dan dhuafa, TPA untuk anak-anak karyawan, learning centre, pinjaman tanpa bunga untuk melanjutkan pendidikan bagi karyawan, biaya nikah gratis untuk karyawan, kerjasama pengobatan gratis dengan instansi kesehatan, sumbangan pakaian stok untuk rumah yatim dan instansi keagamaan, dan subsidi asuransi kesehatan bagi karyawan. Sungguh mulia (VD)

LEAVE A REPLY