Ilustrasi Menonton Film

Gulalives.com, JAKARTA – Siapapun berhak menonton film, termasuk para tuna netra. Gedung bioskop dan film bagus, sejatinya, dibuat untuk semua orang. Jika mereka yang berpenglihatan normal bisa menonton, seharusnya para tuna netra pun sama. Tidak ada alasan menutup hak mereka. Sekali lagi, tidak ada alasan.

Spirit itulah yang mendorong Srtandard Chartered Bank mengadakan program bioskop berbisik untuk para tuna netra. Sesuai namanya, selama film diputar, para tuna netra dibisiki oleh relawan tentang adegan yang sedang berlangsung. Bisikan ini berpadu dengan suara dialog dan ilustrasi musik dari layar film.

“Dari bisikan itu, saya bisa membayangkan adegan film,” ujar salah satu penonton tuna netra, Boy Jeffry, usai menonton.

Acara nonton bareng (nobar) bersama tuna netra ini berlangsung di Cinema XXI, Blok M Square, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10). Film yang dipilih adalah Jenderal Sudirman, karya sutradara Viva Westi. Sebanyak 70 tuna netra mengikuti acara ini. Mereka berasal dari Mitra Netra, komunitas tuna netra yang bermarkas di Lebak Bulus, Jakarta.

Selama pertunjukkan film berlangsung, masing-masing penonton didampingi oleh satu orang relawan. Tugas setiap relawan adalah membisiki adegan dan kejadian di layar film.

Sepanjang durasi film, para relawan tak henti membisikkan untaian cerita dan adegan. Tak cuma pasif mendengar bisikan, para penonton tuna netra juga aktif menanyakan kejadian di layar film. Ini isyarat, mereka benar-benar antusias mengikuti adegan demi adegan selama film diputar. “Filmnya bagus, saya tidak mau ketinggalan adegan,” tutur Boy.

Dari dialog para tokoh, efek suara (sound efeck), serta bisikan relawan, Boy mendapat gambaran rinci tentang film yang sedang ditonton. Dia dan tuna netra lainnya, memang, tidak bisa melihat adegan demi adegan. Namun, mereka bisa mendengar dan membayangkan. Hasilnya sama. Mereka puas dan merasa terhibur oleh film yang ditonton. Mereka juga bisa menyimpulkan, bahwa Jenderal Sudirman bukan film biasa.
“Ini film bagus. Semua adegan dari awal sampai akhir, saya suka,” kata Boy.

Ditanya adegan yang paling disuka, Boy menyebut dua adegan. “Yang pertama, adegan penolakan Jenderal Sudirman saat diminta Bung Karno pulang ke rumah, dan tidak usah perang di hutan. Ini sikap luar biasa. Sangat tegas. Bagi Jenderal Sudirman, perang dan membela negara jauh lebih penting daripada pulang ke rumah,” papar Boy.

Adegan berikutnya yang sangat disuka oleh Boy adalah keberanian para anak buah Jenderal Sudirman. “Kedua, saya suka adegan salah satu anak buah Jenderal Sudirman saat dikepung oleh tentara Belanda. Dari bisikan relawan dan suara dialog di film, saya tahu dia tidak takut dengan kepungan itu. Bahkan, memilih melawan. Adegannya bagus. Saya suka,” tutur Boy.
Usai menonton, Boy dan para tuna netra lain meninggalkan studio, dengan wajah berseri. Sambil berjalan pelan, dan masih dengan wajah berseri, mereka membincang ulang beberapa adegan. (AA)

LEAVE A REPLY