Stasiuan luar angkasa

Gulalives.com, JAKARTA – Apa yang ada di benakmu jika mendengar kata bakteri? Pastinya hal-hal yang berbau kotor dan menjadi penyebab sejumlah penyakit bukan? Ada temuan mengejutkan bahwa bakteri ini ternyata juga ditemukan di luar Bumi yang kita huni.

Bakteri sendiri adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan di Bumi.

Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat di bidang pangan, pengobatan, dan industri. Nah, yang akan dibahas di sini adalah bakteri penyebab infeksi dan penyakit. Percayakah kamu jika bakteri ditemukan bahkan di stasiun luar angkasa sekali pun.

“Di mana ada manusia, di situ pasti ada bakteri, di ruang angkasa sekali pun,” kata badan antariksa Amerika Serikat, NASA, sebagaimana dikutip Xinhua. “Temuan dalam studi ini membantu NASA menetapkan landasan bagi pemantauan kebersihan stasiun antariksa yang pada saatnya akan membantu tugas menangani kesehatan astronot di masa mendatang.”

Adalah bakteri patogen, termasuk yang berkaitan dengan radang atau iritasi kulit, ditemukan bisa hidup di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), demikian sebuah studi oleh NASA.

Gravitasi yang sangat rendah diketahui mempengaruhi bakteri, dan pendapat saat ini adalah gravitasi sangat rendah tidak mendukung kelangsungan hidup bakteri secara umum. Tapi sebagian spesies yang mampu bertahan hidup mungkin akan menjadi lebih ganas.

Berbagai penelitian sebelumnya mengenai stasiun antariksa menggunakan teknik mikrobiologi tradisional yang membudidayakan bakteri dan jamur di laboratorium, untuk menilai susunan komunitas mikroba.

Saat ini, Kasthuri Venkateswaran dari Laboratorium Propulsi Jet NASA (JPL) bersama koleganya, menggunakan teknologi pengurutan DNA untuk dengan cepat dan tepat mengidentifikasi mikroorganisme yang ada di stasiun antariksa. Tim ini membandingkan sampel dari satu filter udara dan satu kantung vakum dari stasiun antariksa dengan debu dari dua ruang kebersihan JPL yang sepenuhnya bersih dan terkendali.

Hasil penelitian itu memperlihatkan bakteri yang berkaitan dengan kulit manusia, Actinobacteria, adalah bagian yang lebih besar dari komunitas mikroba di stasiun antariksa dibandingkan di ruang bersih. Menurut tim peneliti, kondisi ini dapat disebabkan oleh aturan kebersihan yang lebih ketat dan mungkin diterapkan di Bumi.

Mereka juga menemukan Corynebacterium dan Staphylococcus, dua jenis lain patogen yang kebanyakan tidak berbahaya di Bumi tapi dapat mengakibatkan infeksi yang menimbulkan radang atau iritasi kulit di stasiun antariksa. Namun para peneliti itu tidak menangani bahaya dari patogen itu di lingkungan tertutup atau risiko infeksi kulit pada astronot.

“Mempelajari komunitas mikroba di stasiun antariksa membantu kami dalam lebih memahami keberadaan bakteri di sana, sehingga kami dapat mengidentifikasi spesies yang berpotensi merusak peralatan atau menimbulkan bahaya bagi kesehatan para astronot,” kata Venkaterswaran. “Itu juga membantu kami mengidentifikasi daerah yang memerlukan pembersihan lebih teliti,” tambahnya.

Menurut badan antariksa AS, penelitian semacam itu juga akan penting bagi misi antariksa jangka panjang, seperti perjalanan pesawat ulang alik NASA ke Planet Mars. (TR)

LEAVE A REPLY