Tuhan telah menciptakan buah dengan aneka warna. Ada yang kuning, jingga, merah, hijau, ungu, juga cokelat. Tekstur kulitnya pun beraneka rupa. Ada yang licin, bergaris-garis, berbuku-buku, bahkan ada yang berduri. Ada yang keras, ada yang lembut, ada yang tebal, juga ada yang tipis dan baik dikonsumsi. Semuanya tentu diciptakan tidak dengan sia-sia.

Di Indonesia, sangat banyak tersedia pasokan buah. Selain harganya lebih murah, jika diproduksi dengan baik, buah lokal memiliki waktu panen yang jauh lebih dekat ke waktu santap ketimbang buah impor. Hal itu membuat kesegaran, nutrisi, dan enzimnya masih tersedia dengan baik bagi tubuh. Tampilan buah impor yang menarik tidak berarti kualitasnya lebih baik. Pengolahan pascapanen berupa pengawetan menjadikan buah impor kurang baik dikonsumsi. Selain lebih sehat, dengan mengonsumsi buah lokal, kita turut memakmurkan petani dalam negeri. Pemerintah pun kini mendukung produksi buah dalam negeri dengan melarang impor beberapa jenis buah. Sayangnya, lahan untuk bertani buah kini semakin sempit, berganti dengan bangunan rumah, vila, dan sejenisnya.

Jika dikonsumsi secara rutin dengan cara benar, buah dapat menjadikan kerja pencernaan sangat ringan karena buah telah memiliki enzim yang mampu mengurai molekulnya sendiri dalam sistem cerna sekaligus menyumbangkan enzim bagi tubuh. Buah juga pemasok energi yang sangat cepat karena kandungan gulanya mudah diserap tubuh tanpa memberikan beban berlebihan bagi pankreas.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

 

Lain Warna Lain Guna

Warna-warna buah bukan hanya mempercantik tampilan, tetapi juga menunjukkan zat yang terkandung di dalamnya. Laman Smallcrab.com menguraikan perbedaan warna pada buah-buahan.

Pada buah berwarna merah, seperti semangka, stroberi, tomat, dan jambu biji merah, terdapat zat antosianin dan likopen. Antosianin berguna untuk mencegah infeksi dan kanker kandung kemih, sementara likopen menghambat fungsi kemunduran fisik dan mental agar orang tidak cepat pikun. Likopen juga mencegah bermacam-macam penyakit kanker.

Melon jingga, pepaya, jeruk yang berwarna jingga, dan buah-buahan yang memiliki daging buah berwarna jingga mengandung betakaroten. Betakaroten berfungsi menghambat proses penuaan sel. Sel-sel di dalam tubuh kita semakin lama semakin tua. Nah jika sudah telanjur tua, menjadi tugas betakaroten meremajakannya kembali. Selain itu, sebagian betakaroten di dalam tubuh berubah menjadi vitamin A yang akan memacu sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh tak mudah terserang penyakit, dan mencegah berbagai penyakit mata.

Buah berwarna kuning, di antaranya belimbing, nanas, dan pisang, kaya akan kalium. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kalium bermanfaat mencegah stroke dan jantung koroner. Kalau Anda suka makan nanas, apalagi dijus, selain rasanya segar, ternyata juga membantu menyembuhkan diare dan mempercepat penyembuhan radang. Jenis sayuran yang berwarna kuning diyakini ampuh memerangi katarak, serangan jantung, dan stroke.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

 

Alpukat, melon, dan anggur hijau, sebagian buah yang berwarna hijau, banyak mengandung asam alegat. Zat ini sangat ampuh menggempur bibit sel kanker jenis apa pun. Asam alegat juga membantu menormalkan tekanan darah. Selain itu, buah berwarna hijau juga mengandung kalium.

Buah yang berwarna putih, antara lain sirsak, duku, kelengkeng, dan leci, memiliki kandungan serat dan vitamin C yang sangat tinggi. Memang tidak begitu banyak mengandung antioksidan, tapi serat juga sangat dibutuhkan tubuh. Manfaat langsung serat itu membuat kita nyaman saat buang air besar.

 

Konsumsi sebelum Makan

Jika dulu buah dijadikan makanan penutup alias pencuci mulut, kini banyak orang justru memperlakukan buah–juga sayuran–sebagai makanan utama. Hal itu disebabkan semakin banyak yang menyadari bahwa buah ternyata juga mengandung energi yang dibutuhkan tubuh, bukan sekadar aneka vitamin dan mineral.

Erikar Lebang, praktisi food combining, dalam Erykar.com, memaparkan bahwa memakan buah dalam keadaan perut kosong akan membuat fungsinya maksimal. Makan buah setelah makan berat sangat mengganggu kesehatan. Buah yang dikonsumsi setelah makan akan berubah menjadi racun tak berguna dan merusak apa yang telah dimakan.

Konsumsi buah dalam keadaan perut kosong tidak menimbulkan masalah bagi asam lambung karena sifat buah adalah pembentuk basa. Namun, bila alam bawah sadar telah memiliki ketakutan tinggi terhadap buah, bisa memicu sakit perut atau biasa disebut psikosomatis.

Buah menjadi sulit cerna saat dikonsumsi bersamaan dengan makanan padat lainnya. Kandungan fruktosanya cenderung merusak makanan lain. Selain itu, kandungan asam karbonat/vitamin C pada buah mengganggu kerja enzim cerna amilase (karbohidrat) dan pepsin (protein).

shutterstock_99323570

 

Baik untuk Sarapan

Orang-orang tua dulu sangat tidak menganjurkan memakan buah di pagi hari. Alasannya nanti bisa sakit perut. Namun, sebagian ahli kesehatan kini berpendapat sebaliknya. Memakan buah di pagi hari justru sangat disarankan. Bahkan beberapa kalangan menganjurkan sarapan buah saja supaya pencernaan kita tidak bekerja terlalu berat di pagi hari.

Erikar menyebutkan buah memiliki sifat mudah mengenyangkan, namun karena ringan dan cepat terurai, buah juga mudah membuat lapar kembali. Itu sebabnya sarapan buah dilakukan secara berulang antara pagi hingga menjelang makan siang agar aktivitas kita tidak terganggu rasa lapar. Satu butir apel atau pir mampu mengusir rasa lapar hingga tiba waktu menjelang makan siang. Buah yang berserat, matang sempurna, dan berair ideal untuk sarapan.

Makan buah di pagi hari harus dilakukan dengan perlahan agar buah tersentuh air liur dan tecerna sempurna sehingga tidak menimbulkan lonjakan gula darah dalam tubuh. Variasikan menu agar mendapat manfaat maksimal.

Pisang dan mangga sebaiknya tidak dimakan sebagai buah yang pertama dimakan pada pagi hari. Setelah itu tidak terlalu masalah. Hindari buah beralkohol seperti durian, nangka, dan cempedak karena tidak sesuai dengan kriteria buah baik santap di pagi hari.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

 

Kandungan Gizi

Seperti dikabarkan Healthyeating.org, buah merupakan sumber penting berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh, termasuk potasium, serat, vitamin, dan asam folat selain berbagai vitamin dan mineral. Zat-zat gizi tersebut sangat vital bagi kesehatan dan mempertahankan kebugaran tubuh.

Potasium alias kalium dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke. Potasium juga bisa mengurangi risiko pembentukan batu ginjal dan memperlambat pengurangan massa tulang akibat pertambahan usia. Potasium banyak terdapat pada buah, antara lain, pisang, jeruk, alpukat, kurma, dan wortel.

Kalium, seperti diberitakan Manfaatnyasehat.com, merupakan satu dari berbagai jenis mineral yang ada di dalam tubuh. Kalium menduduki tempat ketiga jumlah mineral terbanyak dalam tubuh. Seseorang yang kekurangan kalium akan sering mengalami sakit kepala, insomnia, lemah otot, dan gangguan pada saraf. Kelebihan kalium pun akan merugikan, yakni mengakibatkan kelainan detak jantung, mati rasa, muntah-muntah, dan sesak napas.

Serat, seperti diuraikan dalam Livescience.com, merupakan nutrisi yang sangat penting untuk pencernaan, menjaga berat badan, gula darah, dan kolesterol. Serat juga kerap dihubungkan dengan panjang umur dan mengurangi risiko penyakit kanker. Jeruk, pir, alpukat, pisang, apel, tomat, dan beri-berian merupakan beberapa buah yang mengandung serat.

Ada dua jenis serat, yakni serat yang larut dan tidak larut dalam air. Di dalam tubuh, serat yang larut menjadi zat seperti gel, sementara serat yang tidak larut cenderung mempertahankan bentuknya di dalam tubuh. Keduanya memiliki kelebihan. Serat yang larut membantu mengurangi tingkat gula darah, juga menurunkan kolesterol. Adapun serat yang tidak larut mempercepat perjalanan makanan melalui sistem pencernaan sehingga bisa mempertahankan keteraturan dan mencegah sembelit. Buah seperti apel dan bluberi mengandung serat yang larut, sementara tomat mengandung serat yang tidak larut.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

 

Mineral berperan penting dalam pembentukan enzim yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan berbagai proses biokimia. Mineral membantu proses sintesis hormon-hormon penting serta mengontrol detak jantung bersama dengan fungsi lain yang diperlukan dalam menjaga kesehatan tubuh kita. Kebutuhan mineral harus dipenuhi dalam jumlah yang normal sehingga tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan seimbang. Beberapa mineral dibutuhkan oleh tubuh, seperti natrium, zat besi, selenium, kalium, kalsium, klorida, magnesium, dan seng. Masing-masing memiliki fungsi berbeda. Buah jeruk, blackberry, pir, pisang, anggur, delima, alpukat, kiwi, jambu, dan semangka mengandung mineral penting yang dibutuhkan tubuh manusia.

Vitamin, seperti disebutkan dalam laman Idmedis.com, adalah senyawa organik yang sangat dibutuhkan tubuh dan memiliki peran penting dalam mengatur proses metabolisme tubuh. Secara umum, vitamin tidak dapat diproduksi oleh tubuh kita. Masing-masing vitamin memiliki fungsi dan tugas yang spesifik, termasuk mengatur pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan.

Ada banyak vitamin di dunia ini, namun yang paling dikenal adalah A, B, C, D, E, dan K. Vitamin A, D, E, dan K larut dalam lemak, sementara vitamin B dan C larut dalam air. Tubuh yang kekurangan salah satu vitamin akan terganggu kesehatannya.

Vitamin A berperan dalam pelihatan dan merupakan salah satu komponen penyusun pigmen mata. Selain itu, vitamin A ikut berperan dalam menjaga kekebalan tubuh, pertumbuhan, perkembangan, dan sangat baik untuk menjaga kesehatan kulit. Kekurangan Vitamin A dapat mengakibatkan gangguan pelihatan dan penurunan daya tahan tubuh. Pisang dan pepaya merupakan sebagian buah yang mengandung vitamin A.

Vitamin B (kompleks) ada 12 macam. Vitamin ini larut dalam air, juga sangat rentan rusak dan hancur, terutama oleh alkohol dan sumber makanan yang telah diolah melalui proses pemasakan. Buah-buahan yang mengandung satu atau beberapa macam vitamin B di antaranya melon, apel, pisang, kurma, jeruk, jambu biji, dan beri-berian.

Vitamin B1 atau tiamin membantu mengubah glukosa menjadi energi. Kekurangan vitamin ini dapat berpengaruh pada fungsi kardiovaskuler, otot, dan usus, serta degenerasi sistem saraf yang ditandai dengan mudah bingung, mudah marah, buruknya koordinasi lengan dan kaki yang, mudah lesu, dan mudah lelah. Vitamin B2 alias riboflavin membantu kesehatan pelihatan dan kulit. Kekurangan vitamin ini mengakibatkan peradangan dan sensitivitas terhadap cahaya.

Vitamin B3 atau niasin sangat baik untuk membantu mengubah karbohidrat, lemak, dan alkohol menjadi energi. Niasin juga diperlukan untuk kesehatan kulit, sistem pencernaan, dan saraf. Namun, jika dikonsumsi berlebihan, vitamin ini justru akan berpotensi menimbulkan kerusakan hati dan gatal-gatal. Vitamin B5 atau asam pantotenik bisa membantu proses metabolisme karbohidrat, protein, lemak, dan alkohol. Selain itu, vitamin B5 berfungsi memproduksi sel darah merah dan hormon steroid. Vitamin B6 alias piridoksin juga bermanfaat dalam proses metabolisme protein dan karbohidrat serta pembentukan sel darah merah dan beberapa zat kimia penting pada otak. Piridoksin juga memengaruhi fungsi imunitas dan aktivitas hormon steroid.

Vitamin B9 alias asam folat memiliki manfaat utama untuk kelancaran metabolisme dan perkembangan sel tubuh. Asam folat membantu tubuh membentuk sel-sel darah merah. Pada trimester pertama kehamilan, wanita membutuhkan asam folat dalam jumlah memadai untuk mencegah kelainan saraf pada bayi yang baru lahir. Pepaya, anggur, pisang, melon, stroberi, alpukat, dan tomat merupakan beberapa buah yang mengandung asam folat. Asam folat disebut sangat sensitif terhadap cahaya, oksigen, dan suhu tinggi. Karena itu, disarankan untuk mengonsumsi sayur-sayuran yang mengandung asam folat dalam bentuk mentah.

Vitamin B12 atau kobalamin berfungsi untuk memproduksi dan menjaga sel mielin yang menyelubungi sel-sel saraf, membentuk sel darah merah, dan memecah asam lemak dan amino untuk menghasilkan energi. Kekurangan vitamin B12 banyak dialami orang tua dan bayi menyusui dengan gejala antara lain rasa lelah dan lesu, kurang nafsu makan, serta depresi.

 

Vitamin C atau asam askorbat memiliki banyak manfaat bagi tubuh, di antaranya sebagai pembentuk kolagen, yakni protein penting penyusun jaringan kulit, sendi, tulang, dan jaringan penyokong organ lain. Selain itu Vitamin C merupakan antioksidan alami yang bisa menangkal berbagai radikal bebas yang masuk ke tubuh kita sehingga bisa meminimalisasi risiko terjadinya berbagai penyakit degenaratif, seperti kanker serviks dan kanker payudara. Kekurangan vitamin ini bisa menyebabkan gusi berdarah dan beberapa penyakit infeksi, namun jika kelebihan dapat mengganggu fungsi ginjal dan saluran pencernaan. Vitamin C banyak terdapat pada, di antaranya, jeruk, tomat, dan semangka.

 

Cara Konsumsi

Erikar menyarankan untuk mencuci bersih buah sebelum dikonsumsi, terutama yang disajikan utuh, seperti anggur, stroberi, dan cherry. Agar kotoran bisa larut dengan baik, cucilah di bawah air mengalir atau air masak yang diberi sedikit garam. Bisa juga dengan mencampurkan cuka apel dalam wadah air yang akan digunakan untuk mencuci.

Ada dua cara mengonsumsi buah, yakni dengan dipotong dan dilembutkan menggunakan juicer atau blender. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Membuat jus buah sendiri, agar lebih praktis, juga tetap memiliki kebaikan. Sebaiknya hindari jus buah kemasan.

Seperti diberitakan Naturesto.com, ketika buah dan sayuran dimasak atau dihaluskan menggunakan blender, jumlah kandungan seratnya tidak berubah. Yang berubah hanya ukurannya. Perubahan ukuran ini akan berpengaruh pada efek yang ditimbulkan di lambung. Dalam keadaan halus, misalnya setelah diblender, serat hanya akan mampir sebentar di lambung. Itu sebabnya rasa kenyang yang ditimbulkan juga tidak lama. Berbeda dengan jika serat masih dalam potongan besar-besar. Jika ukurannya lebih besar, serat akan tinggal lebih lama di lambung sehingga efek kenyang yang ditimbulkan juga lebih lama.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

 

Itu sebabnya, jika kita menginginkan efek kenyang lebih lama, kita sebaiknya mengonsumsi serat buah dan sayur dalam keadaan utuh, bukan serat halus setelah diblender. Fungsi serat sebagai pengenyang seperti ini diperlukan, misalnya, oleh mereka yang sedang menjalani diet agar tidak banyak makan karena cepat lapar.

Dalam keadaan tertentu, ada kalanya konsumsi serat yang sudah dihaluskan lebih dianjurkan daripada serat dalam bentuk utuh. Ini misalnya terjadi pada masa bayi, pada orang yang mengalami gangguan gigi-geligi, atau kasus kesulitan menelan. Pada kondisi itu, konsumsi buah dan sayuran lebih dianjurkan dalam keadaan halus, misalnya diblender lebih dulu.

Sebaiknya, kata Erikar, buah dikonsumsi dalam keadaan matang pohon karena enzim cernanya telah lengkap sehingga tidak perlu lagi dicerna oleh lambung. Buah matang pohon memiliki kandungan gula buah yang sederhana, tidak demikian halnya dengan buah mengkal.

Tertarik hidup sehat?

LEAVE A REPLY