Wanita rentan mengalami stres

Gulalives.com, JAKARTA – Kita sering banget mendengar istilah stres dalam kehidupan sehari-hari. “Aduh, besok mesti presentasi di hadapan Big Boss. Aku stres banget nih,” demikian kerap kita dengar teman yang mengeluhkan tekanan yang dialaminya.

Atau, ada teman lain yang mengeluhkan kelakuaan pasangannya, “Bayangkan, semua yang kulakukan tidak ada yang benar di matanya. Bikin aku stres dan sakit kepala!”.

Dalam hal yang lebih ekstrem, kehilangan pekerjaan atau seseorang yang dicintai juga bisa memicu stres.

Sebenarnya apa sih stres ini? Dalam konteks medis atau biologis, stres adalah faktor fisik, mental, atau emosional yang menyebabkan ketegangan tubuh atau mental. Tekanan dapat berasal dari eksternal (dari lingkungan, psikologis, atau situasi sosial) atau internal (sakit, atau dari prosedur medis).

Stres dapat menginisiasi tanggapan “lawan atau lari” (fight or flight), sebuah reaksi kompleks sistem neurologik dan endokrinologik, demikian dipaparkan laman kesehatan Medicinenet.com.

Stres dapat menyebabkan atau mempengaruhi banyak kondisi medis termasuk kondisi psikologis seperti depresi dan kecemasan. Masalah medis dapat mencakup melambatnya proses penyembuhan, sindroma iritasi usus besar (gangguan saluran cerna), tekanan darah tinggi, diabetes yang tidak terkontrol dan kondisi lainnya.

Jadi, secara singkat bisa dikatakan, stres merupakan respon normal terhadap berbagai keadaan yang harus dihadapi dalam hidup – sebuah situasi yang mengharuskan kita bertindak, menyesuaikan, serta menjaga segala sesuatu tetap seimbang.

Stres merupakan reaksi fisik dan psikologi yang normal terhadap banyak ‘tuntutan’ dan tekanan hidup yang selalu berubah dan tidak pernah berakhir. Karena stres merupakan reaksi yang normal, maka setiap orang pasti akan mengalaminya, baik itu orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak.

Ketika otak menghadapi sebuah situasi (tekanan, keadaan, tuntutan, atau apapun istilah yang anda gunakan), maka otak akan memberikan tanda kepada tubuh agar melepaskan banyak hormon, untuk memberikan tenaga atau energi kepada tubuh untuk bertindak menghadapi situasi tersebut. Ketika situasi tersebut telah berlalu, maka tubuh akan kembali pada kondisi rileks.

Pelepasan hormon sebagai ‘tenaga ekstra’ merupakan reaksi yang normal dan sangat berguna, terlebih jika berhubungan dengan fisik. Keadaan tersebut bisa memotivasi, meningkatkan kinerja dan kemampuan fisik seseorang, bahkan dapat menyelamatkan nyawa saat menghadapi situasi yang berbahaya.

Namun di masa sekarang dengan segala persoalan yang begitu kompleks, tekanan yang datang juga banyak yang berupa psikologis seperti tekanan pekerjaan, masalah sosial, keluarga, keuangan, dan lain sebagainya.

Kondisi stres yang bertubi-tubi secara pskologis dapat membuat tubuh kelelahan secara psikis dan menyebabkan seseorang tidak dapat berpikir jernih, serta bisa berdampak pada banyak hal lainnya, seperti interaksi sosial, kualitas hidup, kesehatan, dan sebagainya.

Karenanya, mengelola dan menangani stress merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Tujuannya agar tubuh dapat selalu memberikan respon yang terbaik pada banyak situasi, baik itu fisik maupun psikis.

Stres yang berlebihan dan tidak ditangani dengan baik bisa mengarah pada berbagai dampak buruk pada kehidupan seseorang, termasuk juga buruk bagi kesehatan. Stres yang dibiarkan berlarut-larut misalnya, bisa memicu depresi

Sejarah Singkat Stres

Kunci untuk memahami tentang aspek-aspek negatif dari stres adalah konsep milieu interieur (lingkungan internal tubuh), yang pertama kali dikemukakan oleh seorang fisiolog Perancis Claude Bernard.

Dalam konsep ini, ia menggambarkan prinsip-prinsip keseimbangan dinamis. Dalam keseimbangan yang dinamis, keteguhan, kondisi yang stabil di lingkungan tubuh internal adalah hal penting untuk kelangsungan hidup. Oleh karena itu, perubahan eksternal dalam lingkungan atau kekuatan eksternal yang mengubah keseimbangan internal, organisme dipaksa harus bereaksi dan kompensasi untuk bertahan hidup.

Contoh kekuatan eksternal ini seperti suhu, konsentrasi oksigen di udara, pengeluaran energi, dan adanya predator. Selain itu, penyakit juga menjadi stressor (penyebab stres) yang mengancam keteguhan dari lingkungan internal.

Ahli saraf Walter Cannon menciptakan istilah homeostasis untuk lebih menentukan keseimbangan dinamis yang telah dijelaskan Bernard. Ia juga orang yang pertama yang mencetuskan bahwa penyebab stres bisa menjadi emosional, juga fisik. Melalui percobaan, ia menunjukkan respons “lawan atau lari” dari manusia dan hewan ketika dalam posisi terancam.

Selanjutnya, Cannon menelusuri reaksi ini terhadap pelepasan neurotransmiter yang kuat dari bagian dari kelenjar adrenal, medula. Neurotransmiter adalah bahan kimia tubuh yang membawa pesan ke dan dari saraf. Adrenal medulla mengeluarkan dua neurotransmitter, epinefrin (juga disebut adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), sebagai respon terhadap stres.

Pelepasan neurotransmiter ini menyebabkan efek fisiologis yang terlihat pada respon melawan atau lari, misalnya, detak jantung yang cepat, dan meningkatnya kewaspadaan.

Hans Selye, ilmuwan lain yang dikenal melakukan studi terhadap stres, melanjutkan pengamatan Cannon. Dia melibatkan kelenjar pituitari, kelenjar kecil di dasar otak, sebagai bagian dari sistem respon stres tubuh.

Selye menggambarkan bagaimana kelenjar ini mengatur sekresi hormon (misalnya, kortisol) yang penting dalam respon fisiologis terhadap stres.

Dalam eksperimennya, Selye menginduksi stres pada tikus dalam berbagai cara. Dia menemukan respon psikologis dan fisik yang khas dan konstan untuk situasi buruk yang diberlakukan pada tikus. Pada tikus yang terkena stres konstan, ia mengamati pembesaran kelenjar adrenal, gangguan pada sistem pencernaan (gastrointestinal), dan lunglainya sistem kekebalan (imunitas) tubuh.

Ia menyebut tanggapan ini untuk menekankan adaptasi umum (penyesuaian) atau sindroma stres. Dia menemukan bahwa proses-proses ini adaptif (penyesuaian yang tepat, sehat) dan normal untuk organisme dalam menangkal stres, bisa menjadi seperti penyakit. Artinya, proses adaptif itu jika berlebihan bisa merusak tubuh.

Pengamatan ini adalah awal dari pemahaman tentang mengapa stres, benar-benar sangat stres, bisa berbahaya, dan mengapa kata stres identik dengan hal buruk.

Apa saja tanda dan gejala stres yang tidak ditangani dengan baik?

Stres yang berlebihan dapat mewujudkan dirinya dalam berbagai gejala emosional, perilaku, dan bahkan fisik. Gejala stres sangat bervariasi antara satu orang dengan lainnya.

Gejala somatik (fisik atau jasmani) umum yang sering dilaporkan oleh mereka yang mengalami stres berlebih meliputi gangguan tidur atau perubahan kebiasaan tidur, ketegangan otot, nyeri otot, sakit kepala, masalah pencernaan, dan kelelahan. Gejala dari banyak kondisi medis yang sebelumnya sudah ada juga bisa memburuk selama seseorang mengalami stress.

Gejala emosional dan perilaku yang dapat menyertai stres berlebih antara lain kegelisahan, kecemasan, perubahan kebiasaan makan (termasuk makan berlebihan atau kurang makan), kehilangan antusiasme atau energi, dan perubahan suasana hati – seperti mudah marah dan depresi.

Diketahui bahwa orang yang mengalami stres memiliki kecenderungan lebih besar untuk terlibat dalam perilaku yang tidak sehat, seperti penggunaan atau penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, merokok, dan membuat pilihan makan atau latihan yang buruk, ketimbang orang lain yang jarang stres. Perilaku tidak sehat ini dapat lebih meningkatkan keparahan gejala yang berkaitan dengan stres, yang imbasnya sering mengarah ke “lingkaran setan” tak berkesudahan.

Pengalaman stres bersifat sangat individual. Apa yang merupakan stres yang luar biasa untuk satu orang mungkin tidak dianggap sebagai stres bagi yang lain.

Seperti disinggung sebelumnya, stres berhubungan dengan faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi lingkungan fisik, termasuk pekerjaan, hubungan kita dengan orang lain, rumah, dan semua situasi, tantangan, kesulitan, dan harapan kita.

Faktor internal menentukan kemampuan tubuh kita untuk merespon, dan menangani, faktor eksternal yang merangsang stres. Nah, faktor internal yang mempengaruhi kemampuan kita untuk menangani stres termasuk status gizi, tingkat kesehatan dan kebugaran tubuh, kesejahteraan emosional, dan jumlah tidur dan istirahat yang kita dapatkan.

Stres telah mendorong perubahan evolusioner – pengembangan dan seleksi alam spesies dari waktu ke waktu. Dengan demikian, spesies yang bisa menyesuaikan diri dengan baik terhadap penyebab stres (stressor) telah bertahan dan berkembang seperti yang kita lihat sekarang ini.

Manusia adalah makhluk yang paling adaptif di planet karena evolusi otak manusia, terutama bagian yang disebut neo-cortex. Adaptasi ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan dan stres yang kita hadapi.

Oleh karena itu, kita – manusia, tidak seperti hewan lain, bisa hidup dalam iklim atau ekosistem, di berbagai ketinggian, dan menghindari bahaya predator. Selain itu, kita telah belajar untuk hidup di udara, di bawah laut, dan bahkan di ruang angkasa, di mana tidak ada makhluk hidup yang pernah selamat.

Pengaruhi Berat Badan

Penelitian menyebut, stres berhubungan dengan kenaikan berat badan. Ini mungkin yang kerap luput dari mereka yang berusaha enurunkan berat badan. Alasan ilmiah di balik kejadian ini adalah, stres dapat memperlambat metabolisme tubuh. Akibat metabolism tubuh yang melambat itu membuahkan kenaikan berat badan. Hal ini khususnya terjadi pada perempuan.

Mengapa bisa demikian? Karena saat stres, kadar hormon insulin, yang berperan menyimpan lemak tubuh meningkat. Selain itu, lemak tersebut lebih sulit diubah menjadi energi.

Hasil tersebut diketahui Profesor Jan Kiecolt Glaser dari Ohio State University yang melakukan riset terhadap 58 perempuan paruh baya yang diberikan makanan mengandung 930 kalori dan 60 gram lemak. Setelah tujuh jam, rata-rata perempuan yang stres membakar 104 kalori lebih sedikit dibandingkan perempuan yang tidak stres.

“Jika stres melanda dalam jangka lama, setahun misalnya, bisa meningkatkan berat badan bertambah hingga 5 kilogram,” ujar Glaser dalam penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal Biological Psychiat.y

Selain itu, stres yang dialami seseorang bisa menjadi depresi yang meningkatkan kenaikan tajam dalam lemak darah trigliserida, lemak yang meningkatkan risiko penyakit jantung.

Namun demikian, peneliti masih belum yakin apakah hal yang sama bisa terjadi pada pria. Mengingat, pria memiliki lebih banyak otot yang memengaruhi metabolisme tubuh.

Dalam penelitian terpisah, stres juga bisa memunculkan fenomena menarik. Saat mengalami tekanan emosional, perempuan ternyata lebih peka terhadap suara. Tak lain karena saat stres, pendengaran perempuan ikut terpengaruh.

Dalam penelitan yang dipublikasikan di jurnal PLoS ONE, Dan Hasson, profesor di departemen fisiologi dan farmakologi di Institut Karolinska, Swedia, mengungkapkan, saat stres, perempuan sangat peka terhadap suara, termasuk suara yang normal, seperti mainan, alat pemotong atau bahkan suara mesin mobil, bisa sangat tajam dalam telinga.

Dalam risetnya, para peneliti melibatkan 208 perempuan dan 140 laki-laki berusia rata-rata 23-71 tahun. Para peserta memiliki tingkat kelelahan emosional rendah, sedang atau tinggi terkait, mulai dari stres fisik, mental dan sosial.

Hasil studi menunjukkan perempuan dengan tingkat kelelahan emosional atau stres yang tinggi jauh lebih sensitif terhadap suara. Beberapa di antara mereka bahkan merasa percakapan normal sekalipun terdengar terlalu keras di telinga mereka.

Sebaliknya, peserta dengan kelelahan emosional yang rendah menjadi kurang sensitif terhadap suara ketika mereka mengalami stres. Para peneliti mengatakan bahwa ini merupakan reaksi normal terhadap stres.

“Bentuk serius dari hipersensitivitas suara dapat memaksa orang untuk mengisolasikan diri dan menghindari situasi dan lingkungan yang berpotensi membuat mereka sedih,” kata Hasson, yang juga berafiliasi dengan University of Stockholm, seperti dilansir Health.com.

Tak Selamanya Negatif

Yang perlu kita tahu, stres tidak selamanya berdampak negatif. Bahkan pada sejumlah orang stres dapat memunculkan ide kreatif. Banyak orang yang bisa bekerja lebih baik saat berada di bawah tekanan. Ini tak lepas dari peran hormon adrenalin, hormon yang membuat seseorang makin bersemangat. Hormin ini dilepaskan saat seseorang merasa stres.

Menurut spesialis jiwa dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Surjo Dharmono, SpKJ (K) tak selamanya stres bermakna negatif. Untuk kasus stres yang bisa dikelola dengan baik, justru hal itu bisa menjadikan kita lebih kreatif.  “Dalam bahasa yang lebih mudah, kita menyebutnya sebagai tantangan,” ujar Surjo.

Secara alamiah stres memang diciptakan untuk membuat fungsi-fungsi dalam tubuh bisa bekerja dengan lebih efektif dalam kondisi tertentu. Stres yang positif dengan takaran yang umumnya tidak terlalu berat seperti ini disebut sebagai eustress.

Stres bermakna negatif yang bersifat merusak dalam istilah kedokteran dikenal dengan istilah distress. Nah, distress ini  bisa memicu penderitaaan dalam bentuk gangguan kejiwaaan seperti depresi, panik, frustrasi dan kecemasan (anxietas).

Stres bermakna positif berubah menjadi menjadi negatif jika tak dikelola dengan baik. Contohnya jika ada tantangan, namun lingkungan memberikan lebih banyak ancaman dan dari individu yang bersangkutan tidak bisa menemukan jalan keluar.

Pentingnya Menangani Stres

Seseorang tidak dapat berada dalam kondisi stres terlalu lama, karena tubuh juga memerlukan kondisi rileks. Kondisi rileks akan menyegarkan tubuh, fisik maupun psikis, sehingga tubuh lebih siap menghadapi berbagai situasi.

Kondisi stres berkepanjangan, selain dapat memperburuk respon seseorang, juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan berkontribusi negatif terhadap kesehatan. Hal ini telah sedikit diulas tadi.

Poin utama dari menangani stres adalah mengangkat atau meringankan keadaan stres tersebut. Tujuannya adalah agar seseorang dapat menghadapi situasi dalam keadaan yang lebih tenang dan rileks, yang dapat meningkatkan kualitas respon seseorang.

Banyak metode yang dapat dilakukan untuk menangani stres, salah satunya adalah dengan melakukan teknik relaksasi, yang berguna untuk menghilangkan stres. Membuat tubuh menjadi lebih bersantai dan menghilangkan stres adalah langkah pertama yang umum dilakukan.

Setelah itu, dilanjutkan dengan mengenali situasi-situasi apa saja yang menyebabkan stres dan membuat strategi untuk menghadapi situasi tersebut dengan tepat.

Fakta Penting tentang Stres

1. Stres adalah bagian normal dari kehidupan, yang dapat membantu kita belajar dan tumbuh atau sebaliknya, dapat menyebabkan masalah yang signifikan.

2. Saat stress, tubuh merilis zat kimia saraf yang kuat dan hormon yang mempersiapkan kita untuk bertindak (melawan atau melarikan diri – ingat mekanisme fight or flight).

3. Jika kita tidak mengambil tindakan, respon stres dapat membuat atau memperburuk masalah kesehatan.

4. Stres dapat dikelola dengan mencari dukungan dari orang yang dicintai, olahraga teratur, meditasi atau teknik relaksasi lainnya, meluangkan waktu untuk diri sendiri, dan belajar strategi penanganan baru untuk menciptakan ‘tameng’ dalam kehidupan kita.

5. Melibatkan obat-obatan, obat nyeri, alkohol, merokok, dan makan dalam mengatasi stres sebenarnya bisa memperburuk kondisi ini dan dapat membuat kita lebih reaktif (sensitif) untuk lebih stres.

6. Sementara ada pengobatan yang menjanjikan untuk mengatasi stres, manajemen stres sebagian besar tergantung pada kemampuan dan kemauan seseorang untuk membuat perubahan yang diperlukan untuk gaya hidup sehat.

Tak seorang pun bisa lepas dari yang namanya stres. Bayi saja bisa stres apalagi manusia dewasa yang kompleks banget urusannya. Namun kita bisa memilih bagaimana ‘berdamai’ dengan stres ini. (VW)

LEAVE A REPLY