Oleh : Arif Setyawan Mahasiswa STEI SEBI 2016
Sejak di perkenalkannya suatu industry keuangan yang bernama perbankan, Masyarakat dalam melaksanakan kegiatan perekonomiannya tidak lepas dari jasa-jasa yang di berikan oleh industry perbankan seperti transaksi pengiriman atau penerimaan uang, tabungan, dll. Dalam prakteknya di kalangan umum terkenal dua sistem yang di gunakan oleh Industri perbankan yaitu Perbankan Konvensional dan Perbankan Syari’ah. Perbankan konvensional merupakan industry keuangan bank yang menggunakan sistem konvensional, sedangkan perbankan syari’ah merupakan industry keuangan yang menggunakan sistem syari’ah (Islam). Dalam pelaksanaannya ke dua industry perbankan ini jelas sekali berbeda, hal itu karena asas/filosofi yang digunakan oleh ke dua perbankan itu tidak sama. Namun terjadi suatu masalah di kalangan masyarakat khususnya masyarakat umum mengenai persepsi mereka terhadap ke dua industry perbankan tersebut. Masyarakat umum beranggapan bahwa ke dua industry keuangan tersebut sama saja tidak ada beda, hanya beda nama saja. Itulah mengapa penting sekali memberi pemahaman terhadap khalayak umum mengenai perbankan dan sistemnya agar cita-cita ekonomi yaitu keadilan dan kesejahteraan umum dapat tercapai.
Menurut A. Abdurrahman (2001) dalam Ensiklopedia Ekonomi dan Keuangan Perdagangan. Bank adalah suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai macam jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga, membiayai usaha-usaha perusahaan dll. Menurut UU No 14 Tahun 1967 Pasal 1
Tentang pokok-pokok perbankan. Bank adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Singkatnya adalah Bank adalah suatu lembaga keuangan yang menjadi penghubung antara surplus unit (Kelebihan dana) dan deficit unit (Kekurangan dana).
Perbankan konvensional adalah lembaga keuangan bank yang menggunakan sistem abunga sebagai cara memperoleh profit (keuntungan) dalam pelaksanaannya. Bunga adalah suatu tambahan beban yang di berikan kepada nasabah terhadap pinjaman yang di berikan kepadanya. Tambahan ini dikarenakan beberapa alasan diantaranya yaitu : sebagai pengganti karna penyusutan nilai uang di masa yang datang. Sebagai contoh: Pak isman membutuhkan dana Rp. 5.000.000 untuk membuka usaha. Lalu pak isman meminjam uang ke bank konvensional untuk modal awalnya. Maka bank memberikan pinjaman kepadapak isman dengan syarat pengembaliannya harus bertambah menjadi Rp. 5.500.000. tambahan 500.000 yang di berikan bank selaku peminjam dinamakan dengan bunga. Untuk memperoleh keuntungan bank konvensional menggunaka skema bunga (interest).
Perbankan syariah adalah lembaga keuangan bank yang menerapkan nilai- nilai islam sebagai aturan pelaksanaannya. Untuk memperoleh keuntungan perbankan syari’ah menggunakan sistem bagi hasil (Mudharabah) sebagai cara dalam memperoleh keuntungannya. Porsi Bagi hasil ini disepakati oleh ke dua belah pihak yaitu peminjam dan yang meminjam. Sebagai contoh: pak isman butuh Rp. 5.000.000 untuk modal awal usahanya maka beliau mengajukan kepada
bank syari’ah dana tersebut yang kemudian pengembaliannya sesuai keuntungan yang di peroleh (profit and loss sharing), sesuai aturan islam bahwa pemilik modal porsinya 60% dan pelaku bisnis 40%. Antara nasabah dengan bank saling memiliki tanggung jawab dan beban sehingga terdapat keadilan di dalamnya.
Tidak bisa dikatakan sama antara sistem perbankan konvensional dengan syari’ah karena skema dalam memperoleh keuntungannya jelas berbeda. Perbankan konven menggunkan Bunga sedangkan Perbankan syari’ah menggunakan Mudharabah (Bagi hasil). Islam mengharamkan Riba dan memasukannya sebagai salah satu dari dosa besar, sehingga bagi siapapun pelakunya akan mendapat dosa. Diriwayatkan oleh jabir, ia berkata, “Rasulullah mengutuk orang yang makan harta riba, pemberi harta riba, penulis akad riba, dan saksi transaksi harta riba, mereka semuanya sama”. (HR. Muslim).
Sesuai consensus ulama sedunia bahwa apa yang disebut oleh ilmuan ekonomi barat soal Bunga itu sejatinya sama dengan riba yang dilarang dalam islam. Dalam akad pinjam-meminjam islam mengharamkan seseorang mengambil keuntungan kepada si peminjam, karena ini merupakan suatu bentuk kedzoliman. Seseorang yang berhutang pasti dikarenakan factor ketidak mampuan sehingga ia harus mencari bantuan orang lain yang mampu. Islam mengajarkan untuk saling
membantu sesama dan tidak boleh mengambil harta orang lain dengan cara yang bathil. Penetapan Bunga atas dana pinjaman yang diberikan merupakan suatu bentuk pengambilan harta orang lain secara bathil. Hal itu sejalan dengan penjelasan di atas tadi bahwa orang yang sulit tidak boleh di manfaatkan. Itulah mengapa praktek Bunga pada bank tidak mencerminkan keadilan, sehingga tidak  bisa dijadikan sarana untuk mencapai tujuan dari adanya ilmu ekonomi.
Di lain sisi dari pada praktek perbenkan konvensional, perbankan syari’ah menggunaka sistem yang berlandaskan aturan-aturan Al-quran dan As-sunnah. Islam mengharamkan riba namun menghalalkan jual beli sebagaimana yang termaktum dalam surat al-Baqarah ayat 275. Perbankan syariah tidak menggunakan akad pinjam-meminjam karena dalam islam pada akad pinjam meminjam tidak dibolehkan adanya penambahan dalam pengembaliannya. karena itu perbankan syari’ah menggunakan akad jula-beli dalam hubungan antara nasabah dengan bank.
Allah SWT telah melarang kepada umat manusia agar tidak melakukan praktik riba dalam muamat. Setidaknya ada 4 tahapan Allah sampai mengharmkan riba di dalam al-quran. Dan di era modern ini riba hadir dengan bentuk dan format baru yaitu industry perbankan konvensional. Sebagai umat muslim khususnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim, wajib hukumnya bagi kita mentaati perintah-perintah Allah SWT. Bila perbankan kini menjadi suatu
kebutuhan bagi umat karna transaski pembayaran, maka bukan menolak industry perbankan hanya saja kita harus menggunakan sarana yang tidak bertentangan oleh aturan Allah SWT. Kini telah ada industry perbankan syari’ah maka kita harus memilihnya sebagai sarana pemenuh kebutuhan kita dalam transaksi- transaksi muamalah sehingga terhindar dari dosa riba.
REFERENSI ARTIKEL
Abdullah, Thamrin. Bank & Lembaga keuangan, Jakarta, PT Raja Grafindo
Persada 2012.
Lewis, K. Mervyn. Islamic Banking, Massachuset, Edwar Eiger, 2001.
Sutedi, Adrian. Perbankan syari’ah, Jakarta: Ghalia Indonesia 2009.

LEAVE A REPLY