Prestasi Akademik Remaja Hobi Begadang Cenderung Turun. Foto: Legallyfabulous.blogspot

Gulalives.com, JAKARTA – Remaja rentan sekali mengalami masalah kurang tidur. Usia remaja, transisi dari anak-anak ke dewasa, memang usia yang ‘nanggung’. Di masa ini remaja tengah mencari jati diri.

Dikatakan kanak-kanak enggan, namun menuju kedewasaan juga belum. Jadi harap maklum kalau banyak remaja galau atau malah gampang emosian.

Remaja umumnya juga suka berkumpul dengan rekan sebaya dalam melakukan aktivitas. Bagi sebagian remaja, hidup aktif, dengan melakukan aktivitas ini itu tampaknya menjadi sarana untuk menunjukkan eksistensi. Pokoknya, remaja identik dengan kegiatan. Termasuk kegiatan yang jarang melibatkan aktivitas fisik, misalnya main gadget hingga malam.

Nah, hobi main gadget yang kadang tak kenal waktu ini bisa mengacaukan pola tidur. Poin yang harus digarisbawahi adalah, pola tidur bisa berhubungan erat dengan prestasi anak di sekolah. Kurang tidur dikaitkan dengan prestasi buruk di sekolah dan emosi yang tak stabil.

Remaja suka melakukan aktivitas berkelompok. Foto: netnanny
Remaja suka melakukan aktivitas berkelompok. Foto: netnanny

Simaklah sebuah penelitian di Amerika yang mengungkapkan bahwa 25 persen remaja di negeri itu baru pergi tidur pada pukul 23.30 malam waktu setempat. Anak yang tidur larut ini cenderung mempunyai prestasi akademik yang buruk, mengalami masalah emosi yang lebih besar dan lebih stres dibandingkan remaja lain yang pergi tidur lebih awal.

“Jika pola tidur remaja bertentangan dengan ritme sirkadian alami, dampaknya terlihat pada fungsi kognitif dan regulasi emosional dan konsekuensi potensi kesehatan mereka,” ujar Dr. Judith Owens, direktur dari Sleep Medicine di Children’s National Medical Center di Washington DC yang tidak terlibat dalam penelitian.

Berdasarkan survei terhadap remaja di seluruh Amerika pada 1990-an dan kelanjutan survei tersebut pada mereka yang mulai dewasa, para peneliti di University of California, Berkeley, menganalisis penyebab remaja semakin sedikit waktu tidurnya dan efek jangka panjang yang mungkin terjadi.

Menurut laporan yang dimuat di Journal of Adolescent Health, diperkirakan antara 45 persen dan 85 persen dari anak-anak yang duduk di kelas enam hingga 12, tidur kurang dari waktu yang direkomendasikan untuk mereka, yakni sembilan jam setiap malam.

Pemakaian gadget berpotensi ganggu pola tidur remaja. Foto: redorbit
Pemakaian gadget berpotensi ganggu pola tidur remaja. Foto: redorbit

Hampir separuh dari remaja tersebut, yakni 44 persen, mengaku kesulitan untuk tetap terjaga selama jam sekolah, ungkap para penulis hasil riset.

Dalam riset ini, Lauren Asarnow dan rekan-rekannya menggunakan data dari National Longitudinal Study of Adolescent Health, sebuah data jangka panjang berkelanjutan yang dimandatkan oleh Kongres Amerika. Langkah ini dimulai dengan mewawancarai remaja di kelas tujuh hingga 12 di seluruh Amerika pada periode sekolah 1994-1995. Ada empat wawancara lanjutan setelah itu.

“Temuan ini menggarisbawahi pentingnya strategi intervensi yang menargetkan waktu tidur dalam upaya menurunkan ketidakseimbangan fungsional, meningkatkan kemampuan akademik dan menurunkan level emosi,” kata para peneliti.

Waktu pergi tidur sama pentingnya dengan jumlah waktu tidur bagi para remaja karena seperti yang lainnya, hal ini ada kaitannya dengan ritme sirkadian alami.

Remaja sekarang sulit dipisahkan dari gadget. Foto: Liputan6
Remaja sekarang sulit dipisahkan dari gadget. Foto: Liputan6

“Remaja tidak bisa benar-benar tidur sebelum jam 11 malam dan secara biologis terprogram untuk bangun sekitar pukul delapan pagi,” ujar Owens yang merupakan profesor pediatrik di George Washington University School of Medicine and Health Sciences.

Ia mengatakan remaja umumnya membutuhkan waktu tidur sembilan jam untuk bisa tampil secara optimal, demikian seperti dilaporkan Reuters.

Nah, buat kalian yang memiliki adik atau keponakan yang menginjak usia remaja, kasih saran deh agar dia memperhatikan jam tidurnya. Kurang tidur selain mempengaruhi prestasi akademik juga bisa membuat remaja uring-uringan, alias ‘baper’ kata anak zaman sekarang. (VW)