Gulalives.com, JAKARTA – Penyakit kulit berupa gatal tampaknya sudah akrab dengan kita. Siapa sih yang belum pernah mengalami gatal? Hampir tak ada. Bahkan bayi pun bisa mengalami gatal-gatal.

Pernah nggak menandai, saat kita stres, umumnya timbul keinginan menggaruk parah – katakanlah area tangan atau kaki- karena terasa gatal? Memang, gatal kronis ternyata ada hubungannya dengan stres yang tengah dialami seseorang.

Yang bikin sebal adalah rasa gatal ini jika semakin digaruh malah makin gatal. Yang akhirnya menimbulkan luka, atau bahkan berbekas baret di kulit.

Meskipun banyak penyebab gatal kronis, sebuah studi membuktikan bahwa stres bisa memicu gatal-gatal.

Penelitian yang diterbitkan di Jurnal Patologi Amerika pada November 2008 menunjukkan bahwa stres dapat menuntun terjadinya respon peradangan gatal kronis. Walaupun studi ini dilakukan pada tikus, nampaknya jenis yang sama reaksi peradangan juga mungkin dipercepat oleh stres pada manusia, meskipun penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk mengonfirmasi ini.

Bagaimana stres bisa memicu penyakit kulit gatal?

Tampaknya stres membawa perubahan pada sel-sel kekebalan yang ditemukan pada kulit yang menyebabkan mereka untuk menjadi aktif, membentuk respon imun yang hiperaktif yang menghasilkan gatal kronis.

Penyakit kulit gatal. Via : kicantik.com
Penyakit kulit gatal. Via : kicantik.com

Meskipun sel-sel kekebalan melayani fungsi penting dengan melindungi kulit dari menyerang patogen seperti bakteri dan ragi, ketika respon kekebalan tubuh kita menjadi terlalu kuat, maka membuahkan berkembangnya iritasi pada kulit, peradangan, dan gatal-gatal.

Sebuah contoh dari kondisi kulit yang terkait dengan respon kekebalan terlalu aktif adalah psoriasis, yang telah lama dikaitkan dengan stres.

Dengan memahami mekanisme stres menyebabkan kondisi kulit yang terkait dengan gatal kronis, para peneliti berharap untuk dapat melakukan terapi langsung dengan mengurangi respon hiperaktif yang ditimbulkan oleh sel-sel kekebalan di kulit sebagai respon terhadap stres.

Menariknya, steroid topikal (obat steroid yang dioleskan pada kulit) yang sering digunakan untuk mengobati berbagai kondisi kulit berhubungan dengan efek gatal, memberikan dukungan lebih lanjut terhadap peran sistem kekebalan tubuh dalam memicu gatal kronis.

Luka Bisa Menimbulkan Penyakit Kulit Gatal

Selain stres, luka di kulit juga bisa menimbulkan rasa gatal. Dalam sebuah penelitian terhadap sel saraf pada tikus, para peneliti menemukan hubungan antara gatal dengan rasa nyeri terkait dengan luka bakar.

Para peneliti menggunakan tikus untuk menguji sel-sel saraf yang mengalihkan sakit dari luka bakar. Ketika sel-sel saraf kehilangan kemampuan untuk menyampaikan sinyal, tikus menunjukkan reaksi berkurang terhadap panas tapi mulai timbul rasa gatal terus menerus, ujar para peneliti.

“Temuan ini mengaitkan bersama antara rasa sakit dari luka bakar dengan mengatur kepekaan terhadap gatal, dan studi ini sangat mengejutkan dan menarik,” kata penulis studi, Klas Kullander, dari Uppsala University di Swedia, dalam studi yang diterbitkan di jurnal Neuron.

Rasa gatal yang ekstrem adalah komplikasi umum menyusul terjadinya luka bakar atau operasi. Rasa gatal yang umum dapat disebabkan oleh eksim dan gangguan kulit lainnya. Studi lanjutan tentang penyebab gatal dapat mengarah pada pengembangan pengobatan baru, sebut tim peneliti.

“Dalam lebih banyak studi dan dilakukan dalam jangka panjang, diharapkan dapat sepenuhnya menjelaskan serabut saraf apa yang menimbulkan gatal itu sendiri, dan kemudian kita akan mampu memadamkan gatal itu pada sumbernya,” kata Kullander.

Penyakit Kulit Gatal Bisa Menimbulkan Ganguan Psikologis

Penyakit kulit gatal. Via : dedaunan.com
Penyakit kulit gatal. Via : dedaunan.com

Penyakit kulit gatal kronis terkadang sangat mengganggu dan bisa merusak penampilan fisik seseorang. Peneliti menemukan penyakit gatal ini bisa mengganggu psikologis penderitanya.

Kondisi fisik kulit seperti jerawat yang parah, psoriasis, eksim atau gatal akibat alergi memiliki risiko tinggi terhadap gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan dan stres pada beberapa individu.

Menurut riset yang melibatkan 2.200 orang dewasa di Jepang yang berusia 18 tahun ke atas dan didapatkan sekitar 3 persen mengeluh mengalami gatal kronis di kulit. Hasilnya, tingkatan stres lebih tinggi terjadi pada orang dewasa yang memiliki masalah kulit tersebut.

Penelitian ini diketuai oleh Dr Yosuke Yamamoto dari Kyoto University di Japan. Hasil dari penelitian ini juga telah dilaporkan dalam Archives of Dermatology.

Partisipan diharuskan mengisi buku harian selama satu bulan dan menjawab kuesioner Perceived Stress Scale untuk mengukur tingkat stres. Dalam hal ini juga dilihat seberapa sering partisipan merasa gugup dan stres selama 1 bulan itu. Buku harian itu sendiri berguna untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh partisipan termasuk rasa gatal di kulitnya.

“Secara keseluruhan, partisipan dengan kulit yang gatal memiliki skala stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan partisipan lainnya. Semakin sering gatal itu muncul, maka semakin tinggi skalanya,” ujar Dr Yamamoto, seperti dikutip dari Health24.

Hasil lain yang ditemukan adalah, jika gejala tersebut tidak terkontrol dengan baik dan frekuensi kekambuhannya tinggi, maka bisa menjadi sumber maslah psikologis pada orang itu selain masalah fisik.

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini tidak dapat mendiagnosis depresi klinis atau gangguan kesehatan mental lainnya. Tapi nilai yang didapatkan bisa menjadi indikator adanya tekanan psikologis secara umum.

Para peneliti berpikir bahwa tingkat stres yang tinggi nantinya akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, hormon dan sistem kardiovaskular. Jika berlangsung terus menerus bisa menimbulkan efek jangka panjang yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik.

Cara Mengatasi Penyakit Kulit Gatal

Bagi kamu yang pernah merasakan gangguan gatal-gatal ini dan tak ingin ini terjadi lagi, berikut ada beberapa cara untuk mengatasinya:

1. Jangan menggunakan air untuk mandi yang terlalu panas.

2. Hindari memakai pakaian ketat, karena ini dapat mengiritasi kulit.

3. Konsumsi antihistamin untuk membantu mengurangi gatal-gatal dan gejalanya.

4. Kasus gatal-gatal ringan mungkin tidak membutuhkan pengobatan apapun.

5. Untuk kasus gatal-gatal berat mungkin memerlukan pengobatan darurat dengan epinefrin. Konsultasikan keluhan ini dengan dokter, Ladies! (VW)

LEAVE A REPLY