Gempa Nepal_www.firstpost.com

Gulalives.com, KATHMANDU – Kondisi tidak kondusif terjadi di Nepal pasca terjadinya gempa bumi pada akhir April 2015 lalu yang semakin membuat proses evakuasi dan tanggap bencana menjadi semakin tidak menentu. Lebih jauh diberitakan telah terjadi perselisihan antara Nepal dan sejumlah lembaga internasional atas penanganan bantuan yang masuk ke negara itu.

Secara khusus masing-masing pihak menyalahkan yang lain sehingga menimbulkan kebingungan dan penangguhan pemberian bantuan kepada para korban, hal ini sebagaimana diaporkan oleh Kantor berita Reuters. Lebih dalam usaha-usaha pertolongan telah berjalan lambat mencapai banyak orang yang terkena dampak oleh bencana paling buruk di Nepal dalam lebih 80 tahun, menyebabkan orang-orang yang tak diketahui berapa jumlahnya terdampar, luka-luka dan kelaparan selama berhari-hari.

Gempa Nepal_www.lionsroar.com
Gempa Nepal_www.lionsroar.com

Secara umum Gempa bumi berkekuatan 7,8 skala Richter yang melanda 10 hari lalu, telah merenggut lebih 7.500 jiwa dan menyebabkan ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal. Secara lebih mendalam bantuan semula bertumpuk di bandar udara sementara para pejabat bea cukai Nepal mengecek tiap kiriman untuk mencegah supaya barang-barang komersial tidak lolos.

Para pejabat senior pemerintah mengatakan pengecekan bea cukai diperlukan sebab mereka tidak tahu barang apa yang masuk ke negara itu. Pasokan-pasokan, termasuk barang-barang tak diperlukan Nepal dan banyak pekerja pertolongan tiba tanpa dokumen-dokumen memadai masuk ke negara itu, memperumit usaha-usaha menggerakkan upaya bantuan, kata para pejabat.

“Banyak donor mengirim bahan-bahan bantuan bahkan tanpa berkonsultasi dengan kami tentang apa yang kami perlukan,” kata Laxmi Prasad Dhakal, seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri.

Beberapa pekerja pertolongan, sementara itu, mengatakan mereka frustrasi dengan apa yang mereka saksikan terkait penundaan-penundaan birokrasi dan kurangnya koordinasi oleh pemerintah. Seperti contoh, Huijbrechts Marcel dari tim “Urban Search and Rescue” Belanda berada di Nepal bersama tim-tim dari empat negara lainnya, termasuk tentara Nepal, di satu rumah untuk mencari penyintas. “Ketika kami tiba di sini sama sekali tak ada koordinasi,” ujar Marcel.

Frustrasi karena penundaan-penundaan dan kurangnya koordinasi, beberapa donor mengelakkan pemerintah dan mengirim langsung bantuan melalui lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk pendistribusian, dengan menambahkan ketaksetujuan, kata seorang pembantu Perdana Menteri Sushil Koirala. “Ada perbedaan-perbedaan antara pemerintah dan beberapa donor soal ini,” kata pembantu itu. (ant/DP)

LEAVE A REPLY