Sambal petai

Gulalives.com, JAKARTA – Meskipun memiliki aroma yang menyengat, namun petai alias Parkia speciosa punya manfaat besar untuk kesehatan lho.

Bagi beberapa orang, makan petai berarti memetik manfaat gizi dan kesehatan. Meskipun saat buang air kecil, yaaa…tahu sendirilah baunya.

Sayuran yang masuk jenis kacang-kacangan ini diyakini efektif dalam mengobati beberapa gangguan kesehatan termasuk depresi, sindroma pramenstruasi (PMS), tekanan darah, diabetes, obesitas dan sembelit.

Manfaat kesehatan petai telah lama dikaitkan dengan penderita diabetes. Studi konklusif untuk memverifikasi klaim ini masih belum jelas. Tidak ada unsur unik dari petai yang telah diidentifikasi secara khusus efektif untuk pengobatan diabetes, demikian dilaporkan Science Buzz.

Namun biji petai kaya akan karbohidrat kompleks. Ini agak berbeda dibandingkan sayuran lain seperti kacang hijau, brokoli dan bayam yang mengandung pati lebih sedikit tetapi lebih banyak serat.

Serat dibagi menjadi dua kategori: larut dan tidak larut. Sementara serat tidak larut melewati saluran pencernaan relatif tidak berubah, serat yang larut bisa melarut untuk membentuk gel lembut.

Makan serat tambahan dalam makanan bisa memperlambat penyerapan karbohidrat dalam sistem pencernaan sehingga kita merasa kenyang lebih lama dan lebih kecil kemungkinannya untuk terus menerus makan sepanjang hari. Nah, bagus untuk diet bukan?

Asupan serat makanan yang tinggi telah terbukti bermanfaat terutama untuk penyandang diabetes. Ketika mereka mengonsumsi makanan dengan kandungan serat tinggi yang larut, penyerapan makanan yang dicerna terjadi pada tingkat lebih lambat.

Hal ini mencegah lonjakan glukosa darah dan tidak mengakibatkan kelebihan produksi insulin oleh pankreas.

Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa serat larut seperti konjac glucomannan memang memperlambat respon insulin dan kenaikan kadar glukosa darah setelah makan. Gula diet seperti karbohidrat dan pati ‘terjebak’ di dalam gel yang dibentuk oleh serat larut dalam usus kita. Akibatnya, gula diserap ke dalam aliran darah lebih lambat yang mencegah kenaikan tajam dalam glukosa darah yang biasanya dialami oleh penderita diabetes setelah makan.

Kegagalan  untuk mengontrol fluktuasi yang cepat dalam glukosa darah dapat menyebabkan banyak tekanan pada pankreas dan dapat menyebabkan memburuknya banyak gejala dan komplikasi yang terkait dengan penyakit ini. (VW)

 

 

LEAVE A REPLY