Remaja mengunyah permen karet

Gulalives.com, JAKARTA – Waktu kecil, mungkin kita pernah diwanti-wanti untuk tidak menelan permen karet karena bisa membikin usus lengket. Saran ini kita pegang teguh dan sangat dipercaya, sehingga jika tanpa sengaja permen karet tertelan, kita was-was bukan main.

Bukan cuma permen karet yang membuat kita kebat kebit takut usus lengket. Ada yang bilang terlalu banyak makan kacang hijau membuat kita cenderung buang gas yang aromanya aduhai.

Menarik mengkaji sejumlah mitos yang beredar di masyarakat sejak lama. Kami sajikan sejumlah ulasan terkait mitos ini seperti dirangkum webste kesehatan Webmd.com berikut ini:

1. Permen karet.

Permen karet kemungkinan bisa tinggal lama di perut karena tidak larut di mulut seperti halnya makanan lain dan perut tak bisa memecahnya seperti makanan lain, namun klaim permen karet bikin usus lengket otu tidak benar. Yup, permen karet tidak akan lengket di usus, sistem saluran cerna tetap akan bekerja dan seperti biasa akan meneruskannya ke bagian usus besar, dan selanjutnya dibuang bersama feses setelah beberapa hari.

2. Kacang hijau dan kentut.

Meskipun banyak lelucon tentang kacang dan kentut, namun kacang bukanlah pelaku utama pembentukan gas dalam perut.  Yang benar adalah, produk susu juaranya, terutama dengan pertambahan usia dan tubuh kita kurang mampu menyerap gula dalam susu (laktosa). Jadi jika merasa perut ‘penuh’ atau begah setelah mengonsumsi produk susu, banyak orang yang mengalaminya. Untuk mengatasi hal ini, carilah produk bebas laktosa atau konsumsilah enzim laktase yang dijual bebas sebelum memutuskan makan produk susu.

3. Serat dan diare.

Di permukaan, tampaknya berlawanan dengan intuisi bahwa serat, yang sangat terkenal untuk meningkatkan sembelit, juga bisa membantu sisi kebalikannya, diare. Tapi ini benar adanya. Mengonsumsi makanan kaya serat membantu melembekkan tinja sehingga tidak terlalu keras atau terlalu lembek. Serat dalam tubuh bekerja dengan baik menarik lebih banyak air dari usus besar untuk melunakkan kotoran (untuk sembelit) atau menyerap beberapa cairan yang ada di usus untuk memadatkan tinja (untuk diare).

4. Makanan pedas.

Di masa lalu, makanan pedas dianggap meningkatkan risiko berkembangnya  ulkus (borok/luka) pada lambung. Tapi ini tidak lagi dianggap benar. Mayoritas borok lambung disebabkan oleh infeksi dengan bakteri yang disebut Helicobacter pylori (H. pylori) atau dengan menggunakan obat nyeri seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen, (NSAID). Makanan pedas dapat memperburuk borok yang ada pada beberapa orang, tetapi makanan pedas itu tidak menyebabkan bisul.

5. Angkat beban berat.

Mengangkat benda berat bukanlah satu-satunya penyebab hernia. Hernia disebabkan oleh kombinasi dari tekanan dan pembukaan atau kelemahan pada otot yang melapisi rongga perut. Sebuah jaringan organ atau lemak akan menonjol keluar melalui pembukaan tersebut. Jenis yang paling umum dari hernia adalah: inguinal (selangkangan bagian dalam), femoral (pangkal paha luar), (pusar) pusat, dan hiatal (perut bagian atas).

6. Sakit maag dan posisi tidur.

Tidak ada dukungan medis untuk mengklaim bahwa penderita sakit maag harus duduk di tempat tidur untuk menghindari gejala sakit maag keesokan harinya. Namun, untuk meredakan sakit maag mungkin bisa dicoba dengan meninggikan posisi kepala dan dada antara 4-6 inchi (10-15 cm), dengan bantal di bawah kepala.

7. Sirosis hati.

Kita memang dapat mengaitkan alkohol dan sirosis – suatu kondisi di mana sel-sel sehat dalam hati menjadi rusak dan digantikan oleh jaringan parut. Memang benar bahwa alkoholisme adalah penyebab paling umum dari kasus sirosis di Amerika Serikat, tetapi ada penyebab lain juga. Dan meskipun konsumsi alkohol yang berlebihan hampir selalu menyebabkan sejumlah kerusakan hati, namun tidak selalu menyebabkan sirosis. Penyebab sering lain dari sirosis adalah hepatitis B dan C. (VW)

LEAVE A REPLY