Gulalives.com, JAKARTA – Sudah pernah diving di laut Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali? Unik dan indah kan taman bawah lautnya?

Tahu gak? 16 tahun lalu, terumbu karang di bawah laut Buleleng rusak parah. Nelayan seenaknya membom dan merusaknya demi mendapatkan ikan. Tapi itu cerita dulu. Sekarang, taman laut Buleleng tumbuh indah dan juga unik.

Dibalik keindahan terumbu karang itu, ada tangan-tangan dingin yang mampu mengembalikan kekayaan biota laut Buleleng. Salah satunya adalah Agung Prana. Berkat kegigihan Agung, Buleleng menjadi satu dari sekian tempat diving yang dicari di dunia.

“Sebelum tahun 1989, terumbu karang di Pemuteran, Buleleng, rusak total. Masyarakat pun tambah miskin karena hasil tangkapan ikan jadi sedikit,” ungkap Agung kepada Gulalives di sela jumpa pers Bali Buleleng Dive Festival 2015 di Jakarta, Kamis (15/10).

Agung Prana, penyelamat terumbu karang di Buleleng
Agung Prana, penyelamat terumbu karang di Buleleng

Merasa terpanggil, praktisi pariwisata itu mendorong nelayan agar tidak lagi merusak terumbu karang. Bersama-sama, mereka membuat sebuah model rehabilitasi karang laut. “Dibantu teknolog asal Jerman, kami membuat proyek Bio Rock untuk tempat tumbuh terumbu karang dan ini berhasil membuat pertumbuhan terumbu krang 6-8 kali lebih cepat,” cerita Agung.

Bio rock itu dibuat dari besi yang dirangkai, didesain sedemikian rupa. Ada yang berbentuk sepeda, bentuk lingkarang, dan lain-lain. Di dalam laut, bio rock lalu dipasang listrik dengan katub anoda dan katoda. “Gunanya agar karang-karang tertarik datang dan tumbuh di bio rock,” jelas Agung.

Gak tanggung-tanggung, proyek Bio Rock itu digarap di laut seluas 3 hektar. Perlahan tapi pasti, proyek itu berhasil. Terumbu karang pun tumbuh kembali di laut Desa Pemuteran, Buleleng. Hebatnya, proyek sejenis ketika diterapkan di sejumlah negara, termasuk di Filipina, tidak berhasil. “Di Buleleng berhasil karena partisipasi masyarakatnya sangat kuat,” kata Agung bangga.

taman-laut-buleleng-menggunakan-bio-rock-sebagai-media-tumbuh

Gak cuma bikin taman bawah laut Buleleng jadi indah, tumbuhnya terumbu karang juga berdampak pada kesejahteraan nelayan. “Kalau dulu nelayan hanya bisa menangkap puluhan kilogram ikan, kini bisa ratusan kilogram ikan. Nelayan sekarang juga bisa menyekolahkan anaknya, bangun rumah, dan beli mobil,” kata Agung bangga.

Dari sisi pariwisata, kembalinya keindahan terumbu karang juga berdampak pada meningkatnya jumlah wisatawan yang datang. Bahkan, pemerintah kabupaten Buleleng pun berani menggelar Bali Buleleng Dive Festival.

“Jumlah wisatawan yang ke Buleleng terus naik. Tahun 2014 ada 663.826 wisatawan terdiri atas 372.814 domestik dan 291.012 wisawatan asing. Jumlah tersebut naik dibanding 2013 sebanyak 638.147 wisatawan yang terdiri atas 349.981 domestik dan 288.166 asing,” ungkap Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana.

Tentu saja, kata Putu, masyarakat juga ikut merasakan dampak ekonominya. “Sekarang banyak penduduk menjadikan rumahnya sebagai homestay. Penduduk yang dulunya suka berantem dan mabok, sekarang aktif mempromosikan pariwisata Buleleng,” kata Putu.(SY)

LEAVE A REPLY