Wanita membaui aroma mawar

Gulalives.com, JAKARTA – Tahu nggak kalau ternyata hidung manusia bisa mendeteksi satu triliun aroma berbeda atau jauh lebih banyak dari yang kita duga?

Hingga saat ini, manusia diyakini ‘hanya’ bisa mendeteksi 10.000 aroma saja. Angka 10.000 itu berasal dari dokumen pada 1927 dan tidak pernah diselidiki secara keilmuan.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Science mengindikasikan bahwa hidung manusia jauh lebih unggul dibandingkan mata dan telinga dalam membedakan rangsangan.

Para ilmuwan di Rockefeller University Amerika Serikat mengatakan kita hanya menggunakan bagian kecil saja dari kemampuan indra pencium. Pengetahuan umum mengenai bagaimana kita bisa mendeteksi aroma didasarkan pada “legenda urban”, kata penulis penelitian Dr Leslie Vosshall.

“Ini adalah tes pertama tentang betapa hebatnya manusia,” kata Vosshal seerti dikutip situs BBC. “Orang-orang berasumsi bahwa hewan adalah pencium yang lebih baik dari kita. Padahal manusia sangat mahir dalam mendeteksi aroma.”

Ia mengatakan hewan memang dua atau tiga kali lebih baik dari manusia dalam penciuman. Namun bagaimanapun, kekuatan indera penciuman manusia tidak boleh dianggap enteng.

Kemampuan Mendeteksi Ancaman

Penelitian terkini mengungkap, indera penciuman bisa membaui ancaman kematian, bahkan mesti tubuh tak menyadarinya.

Ketika hewan mati mereka melepaskan bau yang tidak menyenangkan yang diciptakan sebagian oleh putrescine, suatu senyawa kimia yang dihasilkan dari pemecahan asam lemak dalam jaringan mayat yang membusuk. Penelitian baru menunjukkan bahwa kita manusia, seperti halnya binatang, memahami dan menanggapi aroma ini sebagai ancaman.

“Ini adalah hasil pertama yang menunjukkan bahwa senyawa kimia tertentu (putrescine) dapat diproses sebagai sinyal ancaman,” tulis Dr Arnaud Wisman,  penulis dan psikolog di University of Kent, dan Dr. Ilan Shrira, penulis dan asisten profesor psikologi di Arkansas Tech University. “Sejauh ini, hampir semua bukti sinyal kimia  ancaman datang dari orang-orang yang dipancarkan oleh keringat tubuh,” imbuh  penulis.

“Kita tidak tahu mengapa kita suka (atau tidak suka) bau seseorang, dan kita biasanya tidak menyadari bagaimana aroma mempengaruhi emosi, preferensi, dan sikap kita,” kata Wisman dan Shrira seperti dilansir Medical Daily. “Sulit untuk memikirkan aroma sebagai hal yang menakutkan. ”

Namun, dalam kerajaan hewan, aroma merupakan hal mendasar untuk kelangsungan hidup dan berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa putrescine bertindak sebagai sinyal chemosensory kuat yang memicu hewan untuk meninggalkan atau menghindari daerah tertentu.

Manusia juga serupa dalam menanggapi ancaman yang jelas, yang umumnya meningkatkan kewaspadaan dan mempertajam reaksi kita, mempersiapkan kita untuk melawan-atau-menghindar (fight or flight),  jelas para peneliti.

Meskipun ada kepercayaan popular bahwa “melawan” adalah reaksi yang lebih umum untuk ancaman, kedua penulis mengatakan bahwa “menghindar” sebenarnya tanggapan manusia yang lebih disukai dalam banyak kasus. Untuk menggarisbawahi poin ini, para peneliti mengutip sebuah studi di mana orang dihadapkan dengan orang asing yang mengancam, yang memilih untuk menjauhkan diri dan hanya menjadi agresif (dan ini termasuk lisan serta agresi fisik), jika pilihan menjauh atau menghindar tidak tersedia. (VW)

LEAVE A REPLY