Kepedulian terhadap kanker payudara
source : www.shutterstock.com

Gulalives.com, JAKARTA – Pengakuan aktris Hollywood Angelina Jolie bahwa dia terkena kanker payudara dan mengambil langkah-langkah radikal untuk mengatasinya, banyak membuat khalayak terkejut.

Bahkan ada yang bilang, istri aktor Brad Pitt ini terlalu paranoid dan cemas berlebihan. Namun Angelina Jolie tampaknya tak mau mengambil risiko yang bisa dia cegah sedini mungkin.

Awal tahun ini, Jolie mengaku sudah menjalani operasi pengangkatan indung telur dan tuba fallopii sebagai upaya untuk mencegah kanker.

Jolie menulis di New York Times bahwa dia memutuskan untuk melalukan operasi tersebut karena memiliki gen yang membuatnya memiliki risiko 50 persen terkena kanker rahim.

Sebagai informasi, ibunda Jolie meninggal akibat kanker payudara.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Dua tahun lalu Jolie telah melakukan mastektomi ganda (pengangkatan kedua payudara) untuk mengurangi risiko terkena kanker payudara. “Tidak mudah mengambil keputusan ini. Namun mungkin untuk mengendalikan dan menangani masalah kesehatan apa pun,” ujarnya mantap.

Tulisannya diberi judul Angelina Jolie Pitt: Diary of Surgery,  di mana ia bercerita tentang prosedur operasi yang baru dijalaninya.

“Operasi yang kurang rumit dibanding masektomi namun dampaknya lebih buruk. Membuat seorang perempuan terpaksa memasuki menopause,” tulisnya.

Jolie, yang juga menjabat Direktur dan utusan khusus badan PBB untuk pengungsi (UNHCR), kini akan melakukan terapi hormon pengganti.

Dia memutuskan agar indung telur dan tuba fallopii diangkat setelah pemeriksaan kesehatan memperlihatkannya bersih dari pengembangan kanker rahim tahap awal namun tetap memiliki risiko menderita penyakit yang juga menyebabkan kematian nenek dan bibinya.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

“Dokter menyarankan agar saya sebaiknya menjalani operasi pencegahan sekitar 10 tahun lalu, sebelum serangan kanker tahap awal di garis perempuan keluarga saya,” ujarnya.

Meski awalnya disikapi sebagai hal ‘lebay’, namun pengakuan Jolie mengenai upayanya melawan kanker payudara ternyata menginspirasi banyak perempuan, dan meningkatkan kepedulian mereka terhadap kanker payudara.

Lembaga amal untuk kanker payudara melaporkan adanya lonjakan empat kali lipat pada wanita yang bertanya tentang pengangkatan payudara (mastektomi), langkah berani yang dilakukan Jolie beberapa waktu lalu untuk mengurangi risiko terkena kanker payudara.

“Kita kini tahu tentang gen (penyebab kanker payudara) tersebut, kita tahu bagaimana melakukan tes kanker payudara dan kita bisa memberikan perempuan opsi apa yang harus dilakukan. Dalam beberapa kasus, perempuan akan memutuskan melakukan operasi dan itu akan menurunkan risiko dalam jumlah yang signifikan,” kata Kat Arney, dari Cancer Research.

Jolie telah melakukan operasi mastektomi ganda setelah dia mengetahui dirinya membawa gen BRCA1 (gen penyebab kanker payudara). Gen ini membuat dia berpeluang 87 persen terkena kanker tersebut. Diketahui, kurang dari satu persen perempuan membawa gen BRCA1 atau BRCA2.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Gen-gen tersebut meningkatkan risiko perempuan terkena kanker payudara antara 40-90 persen. Gen ini juga terkait dengan risiko kanker ovarium. Perempuan dengan riwayat keluarga kanker payudara disarankan untuk melakukan screening genetik yang dilakukan melalui tes darah, demikian Daily Mail.

Sungguh, kanker payudara bisa menyerang siapa saja. Tanpa pandang bulu. Tak peduli kaya atau miskin, terkenal atau tidak, bisa berpeluang terkena penyakit yang bila terlambat diketahui bisa merenggut nyawa.

Menurut laman Mayoclinic.org, kanker payudara adalah kanker yang terbentuk di dalam sel-sel payudara. Ada beberapa jenis kanker payudara, tetapi kanker yang berawal dari saluran susu (saluran karsinoma) adalah jenis yang paling umum.

Setelah kanker kulit, kanker payudara adalah kanker yang paling umum didiagnosis pada perempuan di Amerika Serikat.

Kanker payudara dapat terjadi pada perempuan juga laki-laki, meskipun kasusnya lebih banyak terjadi pada kaum hawa.

Sedangkan menurut laman Kalahkankanker.com, kanker payudara adalah suatu kondisi yang ditandai dengan terjadinya pertumbuhan sel-sel abnormal secara tidak terkontrol pada kelenjar dan jaringan payudara.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Sel-sel tersebut membelah diri lebih cepat dan diluar kendali, sehingga jumlahnya berlebihan dan dapat menyebar ke organ tubuh lainnya.

Secara umum, kanker payudara terbagi berdasarkan status ada tidaknya protein tubuh (reseptor), yang dihasilkan gen maupun hormon dan mempengaruhi pertumbuhan sel kanker payudara, yaitu:

1. Endokrin reseptor (reseptor estrogen dan progesteron) positif.

Pertumbuhan kanker payudara dipengaruhi oleh hormon estrogen atau hormon progesteron yang berlebihan.

2. HER2 positif

Pertumbuhan kanker payudara dipengaruhi oleh protein HER2/neu yang berlebihan. Kanker payudara tipe ini cenderung lebih agresif dan tumbuh dengan lebih cepat.

3. Tiga negatif (triple negative)

Tidak adanya reseptor estrogen, reseptor progesteron, maupun HER2 protein yang berlebihan.

4. Tiga positif (triple positive) atau positif ada reseptor estrogen, progesteron dan HER2

Pemeriksaan jaringan patologi anatomi adalah pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui tipe kanker payudara seorang pasien.

Tipe kanker payudara seorang pasien merupakan informasi yang sangat berharga bagi dokter untuk menentukan terapi yang paling tepat dan efektif.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Tanda dan Gejala Kanker Payudara

Perempuan dapat mencurigai adanya kanker melalui tanda dan gejala yang kasat mata. Apa saja? Berikut di antaranya:

1. Benjolan pada payudara atau terdapat penebalan di sekitarnya yang terasa berbeda dari jaringan di sekitarnya.

2. Keluar darah dari puting susu.

3. Perubahan bentuk atau ukuran payudara.

4. Perubahan pada kulit di daerah payudara, seperti lesung pipi (melesak ke dalam).

5. Puting susu masuk ke dalam.

6. Pengelupasan atau pengerasan puting susu atau kulit payudara.

7. Kemerahan atau celuk atau lubang pada kulit di daerah payudara, seperti kulit jeruk.

Walaupun mayoritas perubahan pada payudara tidak berubah menjadi kanker, temuilah dokter jika kamu menemukan benjolan atau perubahan lain pada payudara. Bahkan itu berlaku meski kamu telah melakukan mamografi dengan hasil normal pun, tetap penting untuk menemui dokter untuk mengevaluasi perubahan yang terjadi.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Apa sih Penyebab Kanker Payudara?

Sejauh ini tidak jelas apa yang menyebabkan kanker payudara. Dokter mengetahui bahwa kanker payudara terjadi ketika sejulah sel-sel payudara berkembang secara tidak normal. Sel-sel ini membelah diri lebih cepat dibandingkan dengan sel-sel yang sehat.

Nah, akumulasi sel-sel tersebut membentuk sebuah tumor yang bisa menyebar (bermetastasis) melalui payudara, menuju kelenjar getah bening atau ke bagian-bagian tubuh lainnya.

Kanker payudara paling sering diawali dengan sel-sel yang membelah diri pada kelenjar produksi susu. Dokter menyebut jenis kanker ini sebagai Kanker Payudara Saluran Karsinoma Invasif.

Kanker payudara juga dapat berawal pada kelenjar susu itu sendiri yang disebut sebagai Lobular Karsinoma Invasif di dalam payudara.

Penelitian telah menemukan hal-hal yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Namun masih belum jelas mengapa sebagian orang tidak memiliki faktor risiko penyebab kanker, sementara sebagian orang lainnya tidak mengalaminya.

Sepertinya kanker payudara disebabkan oleh interaksi kompleks dari faktor genetis dan faktor lingkungan.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Kanker Payudara Diturunkan?

Dokter memperkirakan hanya 5 – 10 persen saja kanker payudara yang terhubung dengan mutasi gen melalui keturunan keluarga. Sejumlah gen turunan cacat yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena kanker payudara telah diidentifikasi.

Gen kanker payudara yang paling umum adalah gen 1 (BRCA 1) dan gen 2 (BRCA 2). Kedua gen itu dapat meningkatkan risiko terhadap kanker payudara dan kanker indung telur.

Apabila kamu mempunyai riwayat kuat keluarga yang mengidap kanker payudara atau kanker lainnya, tes darah dapat membantu mengidentifikasi BRCA cacat atau gen lainnya yang diwariskan oleh keluarga.

Pertimbangkan untuk meminta dokter agar memberikan referensi ke seorang konselor genetik, yang dapat mengkaji riwayat kesehatan keluargamu.

Konselor genetik dapat juga membahas mengenai keuntungan, risiko dan batasan-batasan tes genetik ini dengan pasien. Penting untuk mengingat bahwa tes genetik dapat membantu mengindentifikasi risiko tinggi pribadi dan keluarga terhadap kanker, tetapi tes tersebut tidak dapa menduga secara pasti siapa yang akan terkena atau tidak terkena kanker payudara di dalam keluarga.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Faktor Risiko Kanker Payudara

Perlu diketahui, faktor risiko adalah sesuatu yang membuat seorang individu terkena penyakit tertentu. Namun memiliki satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti kamu mengidap kanker. Banyak perempuan yang mengidap kanker payudara tidak memiliki faktor risiko yang dikenal jika dibandingkan sebagian perempuan lain.

Faktor-faktor yang terkait dengan peningkatan risiko kanker payudara terdiri dari:

* Jenis kelamin perempuan.

* Perempuan lebih rentan terkena kanker payudara dibandingkan dengan pria.

* Bertambah usia.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

* Risiko kanker bertambah seiring bertambahnya umur. Perempuan umur lebih dari 55 tahun memiliki risiko yang lebih besar dibanding dengan wanita yang lebih muda.

* Riwayat pribadi terkena kanker payudara.

* Jika pernah mengalami kanker payudara di salah satu payudara, risiko terkena kanker payudara di payudara lainnya lebih besar.

* Riwayat keluarga terkena kanker payudara.

Apabila anggota keluarga seperti ibu, saudara perempuan atau anak terkena kanker payudara, maka risiko terkena kanker payudara meningkat. Tetapi, mayoritas wanita yang didiagnosis mengidap kanker payudara malah tidak memiliki anggota keluarga yang mengidap kanker payudara.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

* Gen turunan yang meningkatkan risiko kanker.

Beberapa mutasi gen dapat meningkatkan risiko kanker payudara yang bisa diturunkan dari orangtua ke anaknya. Mutasi gen yang paling umum adalah seperti BRCA 1 dan BRCA 2. Gen-gen ini akan sangat meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker lainnya, namun gen-gen tersebut tidak membuat risiko kanker tak terelakkan.

* Terpapar radiasi.

Jika pernah melakukan pengobatan radiasi di bagian dada ketika kecil atau beranjak dewasa, maka lebih mungkin terkena kanker payudara dalam hidupnya.

* Obesitas alias kegemukan.

Berat badan berlebih meningkatkan risiko kanker payudara karena jaringan lemak memproduksi estrogen yang dapat menjadi ‘bahan bakar’ dari beberapa jenis kanker tertentu.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

* Menstruasi pertama pada usia dini.

Menstruasi pertama sebelum umur 12 tahun dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

* Mulai menopause di usia lanjut.

Jika menopause dimulai setelah usia 55, risiko terkena kanker payudara meningkat.

* Memiliki anak pertama di usia lanjut.

Perempuan yang melahirkan anak pertamanya pada usia di atas 35 tahun memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

* Terapi hormon pasca-menopause.

Wanita yang melakukan terapi atau pengobatan hormon pasca menopause dimana terapinya mengombinasikan estrogen dan progesteron untuk mengurangi tanda dan gejala menopause memiliki risiko terkena kanker payudara.

* Minum alkohol.

Minum alkohol meningkatkan risiko kanker payudara. Para ahli menyarankan untuk minum alkohol tidak lebih dari satu jenis minuman beralkohol dalam satu hari bagi wanita.

Faktor risiko lainnya yang mesti dipertimbangkan adalah jangan main-main dengan pertumbuhan kanker payudara termasuk pemakaian bra yang ketat, deodoran, implan payudara dan bekerja shift di malam hari. (VW)

 

LEAVE A REPLY