Wisata di Dubai. (Foto: Google Images)

Gulalives.com, NEW YORK – Sektor pariwisata mencatatkan rekor pada tahun 2015. Adalah jumlah wisatawan internasional yang meningkat 4,4 persen di seluruh dunia pada 2015, atau 1,18 miliar, yang merupakan rekor. Angka tersebut di luar perkiraan, mengingat kekhawatiran akan serangan kaum ekstremis, demikian dinyatakan Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO).

Prancis tetap menjadi destinasi wisata paling populer, disusul Amerika Serikat, Spanyol, dan Tiongkok dengan menghitung jumlah wisatawan yang menginap di destinasi internasional tersebut. “Hasil 2015 itu dipengaruhi nilai tukar, harga minyak, dan bencana alam serta buatan di sejumlah negara,” ujar kepala badan PBB tersebut, Taleb Rifai, sebagaimana dilansir Guardian, Sabtu (23/1/2016).

Turunnya harga minyak memang berakibat turunnya ongkos transportasi, tapi di sisi lain mengakibatkan permintaan untuk bepergian di negara-negara pengekspor minyak turun. Sementara melemahnya nilai tukar euro membuat angka perjalanan dari Amerika ke Eropa semakin sering. Dunia pariwisata pada 2015 ditandai ancaman ekstremisme dalam bentuk serangan maut di Mesir, Prancis, Libanon, Tunisia, Mali, dan negara-negara lain. “Yang sedang kita hadapi sekarang, terkait keselamatan dan keamanan, merupakan ancaman terhadapat dunia,” kata Rifai, yang merupakan mantan menteri pariwisata Yordania.

“Kita tak bisa lagi bilang ini masalah Mesir atau Prancis atau Tunisia atau Turki atau Thailand atau Indonesia,” katanya, mengacu pada negara-negara yang tahun lalu mendapat serangan yang diklaim kelompok jihad Negara Islam.

“Kita harus tetap bepergian. Jangan pernah biarkan alasan keselamatan dan keamanan mengekang dan membalikkan sikap kita untuk membuat dunia lebih terbuka.”

Menurut UNWTO, 2015 adalah tahun ke-enam berturut-turut dengan pertumbuhan di atas rata-rata pada pariwisata dunia sejak krisis ekonomi. Awalnya diprediksi kedatangan wisatawan internasional akan meningkat 3-4 persen pada 2015.  Pariwisata global pernah terpukul keras oleh krisis keuangan global pada 2009, sehingga menurun 4 persen. Flu burung ikut berkontribusi membuat orang tetap tinggal di rumah. Namun sejak itu angkanya meningkat tiap tahun.

Badan PBB ini memprediksi kedatangan wisatawan internasional akan meningkat 4 persen pada 2016. Dan angka wisatawan yang menginap di luar negeri akan mencapai 1,4 miliar pada 2020. Serangan tahun lalu “tak akan memberi akibat jangka menengah dan panjang” terhadap pertumbuhan angka perjalanan, kata Rifai.

Sejumlah destinasi mengalami penurunan angka pengunjung tahun lalu karena kekhawatiran serangan tersebut. Jumlah pengunjung internasional ke Tunisia, yang diguncang serangan di museum Bardo di Tunis, menyusul kemudian di resort Sousse yang menewaskan 59 wisatawan, turun menjadi 5,2 juta tahun lalu dari 7,2 juta pada 2014.

Kedatangan wisatawan ke Afrika Utara secara keseluruhan turun 8 persen tahun lalu. Di Afrika sub-Sahara angkanya turun 1 persen akibat ketakutan merebaknya Ebola.

Eropa, sebagai kawasan yang paling banyak dikunjungi, Asia dan Pasifik, serta Amerika, semua mencatat pertumbuhan sekitar 5 persen dalam jumlah kedatangan internasional tahun lalu. Tiongkok, sekali lagi jadi penyumbang utama wisatawan internasional, yang menguntungkan destinasi-destinasi di Asia, seperti Jepang dan Thailand, juga Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.

Wisatawan Tiongkok juga pembelanja terbesar tahun lalu. Tiongkok mencatat pertumbuhan dua digit dalam pengeluaran pariwisata setiap tahun sejak 2004. Sebaliknya, pembelanjaan wisatawan Rusia dan Brasil menurun “signifikan” tahun lalu “mencerminkan kendala ekonomi di kedua negara, depresiasi rubel, serta kenyataan yang sama terjadi terhadap hampir semua mata uang lainnya,” pungkasnya. (DP)

LEAVE A REPLY