Gulalives.com, JAKARTA – Tahun 2016 udah di depan mata nih. Hayoo, apa resolusi anda menjelang pergantian tahun nanti? Gulalives sih udah menyiapkan resolusi. Dari seabrek mimpi dan harapan, harus ada dong cita-cita yang segera bisa anda realisasikan.

Eh iyaaa, pas banget tuh sama musim liburan. Siapa yang pengin banget keliling dunia? Siapa yang mupeng untuk bisa plesiran ke tempat-tempat wisata keren di Eropa? Apalagi kamu-kamu yang masih sekolah. Pasti kamu punya keinginan dong bisa mengisi liburan menyenangkan bersama keluarga lalu menceritakan pengalaman jalan-jalan seru kamu di luar negeri.

Pengin sih, tapi jalan-jalan ke luar negeri kan mahal? Pengin backpacker-an, takut nyasar. Mau pakai jasa tour and travel, biayanya selangit. Buat kamu yang lagi galau mikirin rencana liburan sekolah atau anda yang lagi pusing 7 keliling mikirin mahalnya biaya untuk keliling dunia, tenang aja deh. Gulalives kenalin nih sama master solo traveling Indonesia, Deni Aprianto.

Di usianya yang masih sangat muda, 25 tahun, Deni Aprianto telah mengunjungi 52 negara dan 100 kota yang tersebar di berbagai belahan dunia lho. Pria kelahiran Kediri 25 April 1990 ini bakal berbagi cerita pengalaman gokilnya bisa mengelilingi dunia dengan bujet miring. Caranya?

Upsss, udah pada nggak sabar aja nih hehe. Sebelum berangkat, Deni Aprianto lebih dulu menyusun itinerary atau detail sebuah rencana perjalanan.

“Betul, traveling itu nggak hanya asal jalan-jalan. Coba deh tulis itinerary yang matang sesuai rute perjalanan yang ingin anda tuju. Hal ini akan memudahkan traveler menyusun agenda dan tempat-tempat mana saja yang mau dikunjungi. Sebaik mungkin arah rutenya dipilih yang sejalur untuk memangkas cost berlebih. Jangan lupa browsing untuk mendapatkan tiket pesawat murah dan tempat penginapan yang terjangkau. Setelah semuanya siap, boleh deh berangkat,” papar Deni Aprianto ke Gulalives.

Intip Kisah Deni Aprianto, Keliling Dunia Sendirian Selama 6 Bulan 1

Berbeda dari kebanyakan traveler yang pergi dengan teman atau rombongan, alumnus Fakultas Hukum Universitas Jayabaya ini terbilang nekat. Ia pergi seorang diri. Bahasa kekiniannya itu solo traveling. Deni Aprianto pernah berpetualang selama setengah tahun lebih di luar negeri!

“Saya pernah 6 bulan nggak pulang-pulang ke Indonesia. Padahal saya nggak banyak membawa uang. Teman-teman saya bingung. Mereka bertanya bagaimana cara saya bertahan hidup di negara orang? Di luar negeri, banyak orang yang membuka lebar-lebar rumahnya untuk disinggahi para traveler dari berbagai negara. Gratis pula. Orang lokal suka kalau mereka dapat teman baru. Mereka dengan senang hati mengenalkan budayanya dan mereka pun tertarik untuk mengetahui budaya Indonesia,” urai pria yang berdomisili di Kelapa Gading, Jakarta Utara itu.

Intip Kisah Deni Aprianto, Keliling Dunia Sendirian Selama 6 Bulan 2

Lalu, makan sehari-hari gimana dong? Terus adaptasi bahasanya di tiap negara seperti apa? “Tuan rumah juga menyajikan masakan kok untuk para tamunya. Terus kalau mau apa-apa, saya bisa membeli perlengkapan bahan masakan di supermarket terdekat dan masak di rumah mereka. Biaya sekali makan di restoran sama dengan biaya saya beli keperluan masak untuk 2 hari. Kalau di negara mereka sedang ada acara atau festival, saya pasti diajak. Kalau adaptasi bahasa sih, yang penting apa yang saya obrolin nyambung sama mereka. Gitu aja kok hehe,” canda Deni.

Pria yang hobi main sepakbola ini membuka rahasianya bagaimana ia melatih komunikasinya dengan orang asing. “Pertama kali ketemu bule di Bali, saya nggak bisa ngomong. Repot juga kalau mau ke luar negeri tapi nggak bisa bahasa Inggris. Udah gitu saya nggak pernah kursus bahasa asing secara formal. Jawabannya ya bisa karena terbiasa. Semakin sering ketemu orang asing, ya saya dituntut untuk bisa berkomunikasi. Intinya sih percaya diri aja,” beritahu Deni.

Tuh kan, keliling dunia itu ternyata murah bukan? Ya itu tadi, tinggal bagaimana anda pintar menyiasati perjalanan panjang dengan memaksimalkan pengetahuan dan meminimalisir biaya.

Intip Kisah Deni Aprianto, Keliling Dunia Sendirian Selama 6 Bulan 3

“Biaya penginapan kita bisa atur. Bagaimana caranya? Yang harusnya saya bermalam di hotel, saya siasati dengan transit ke destinasi selanjutnya. Saya tidurnya di bus, kereta, dan pesawat. Dari 6 bulan perjalanan ke 17 negara, saya cuma bayar hostel untuk 4 malam. Artinya 183 hari lainnya, saya nggak bayar penginapan,” beritahu penggemar klub sepakbola Chelsea itu.

Nggak pernah takut kehabisan uang di jalan ya? “Selalu ketemu aja kok caranya. Sambil jalan-jalan, selama 3 minggu saya pernah nyambi jadi volunteer di Kamboja. Seorang teman di sana meminta saya mengajar Bahasa Inggris untuk masyarakat sebuah desa di sana. Jaraknya 2 jam dari ibukota. Ada hal yang membuat saya terkejut. Semangat masyarakat untuk belajarnya sangat tinggi. Bayangkan jam setengah 6 pagi, 60 orang sudah berkumpul dan siap menimba ilmu,” ungkap Deni.

Simak petualangan menyenangkan sekaligus bikin dag-dig-dug selama keliling ke 52 negara dari Deni Aprianto setelah ini ya. (VD)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY