Hanya 47 Persen Siswa SD di Indonesia yang Memahami Materi
Hanya 47 Persen Siswa SD di Indonesia yang Memahami Materi

Gulalives.com, JAKARTA – Sebuah studi dari Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) tahun 2014 menunjukkan hanya 47,2% siswa sekolah dasar yang mampu membaca dan mengerti materi yang dibaca. Studi ini dilakukan terhadap 4.812 siswa sekolah dasar. Dari angka tersebut, sebesar 20,7% tidak dapat memahami isi dari materi yang dibaca. Sebesar 5,8% sisanya tidak dapat membaca.

Dilansir dari Geotimes, kemampuan memahami bacaan juga berpengaruh kepada tingkat ekonomi sebuah negara. Sebuah studi dari UNESCO pada 2014 mengatakan peningkatan 10% jumlah pelajar yang memiliki kemampuan membaca akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebuah negara sebesar 0,3%. Sementara itu, peningkatan 10% jumlah pelajar yang mampu membaca dan memahami akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebuah negara yang lebih tinggi yaitusebesar 1,3%.

Selain itu berdasarkan studi UNESCO pada 2013 mengatakan sebanyak 23% anak-anak yang tidak mampu memahami bacaan akan menghadapi permasalahan di jenjang pendidikan berikutnya. Hal tersebut akan mengakibatkan banyak anak yang tidak mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat universitas.

Psikolog anak, Rahajeng Ika mengatakan perlu adanya pemahaman mengenai bagaimana kemampuan seorang anak berpikir. “Seorang anak kelas 2 sekolah dasar belum mampu untuk berpikir logis. Maka, perlu adanya metode pengajaran yang cocok untuk menjelaskan sesuatu,” ujarnya.

Menurut Rahajeng selama ini sistem pengajaran yang diberikan oleh guru di sekolah maupun orang tua di rumah hanya sampai tahap menghapal. Padahal, perlu adanya penjelasan yang dipahami oleh anak. “Untuk usia sekolah dasar sangat diperlukan menyertakan contoh nyata dalam metode pengajaran. Sehingga saat membaca mereka juga dapat menggunakan pengetahuan dan logika yang didapatkan dari guru atau orang tua mereka,” tambahnya.

Studi ACDP juga menemukan bahwa hanya 29% yang mampu mengajarkan cara memahami bacaan. Sebagian guru hanya sebatas mengajarkan cara membaca tanpa memberikan penjelasan dalam memahami bacaan tersebut. Selain itu, fasilitas pendukung seperti perpusatakaan dan waktu membaca untuk anak tidak disediakan di sekolah. (DP)

LEAVE A REPLY