Gulalives.com, JAKARTA – Kita kerap dengar istilah gula darah, namun sejauh ini belum begitu paham apa makna sebenarnya. Dalam ilmu kedokteran, keberadaan gula atau zat glukosa dalam darah disebut gula darah.

Kadar gula darah yang normal pada tubuh penting bagi kinerja dan kesehatan tubuh. Namun lain halnya dengan gula darah tinggi, alias hiperglikemia yang umumnya mempengaruhi orang-orang yang memiliki diabetes mellitus atau kencing manis.

Beberapa faktor dapat berkontribusi terjadinya hiperglikemia pada penderita diabetes, termasuk makanan dan pilihan aktivitas fisik, penyakit, obat nondiabetes, atau melewatkan atau tidak minum obat penurun gula darah yang memadai, demikian menurut laman Mayoclinic.org.

 

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Sangat penting untuk mengobati gula darah tinggi alias hiperglikemia ini. Karena bila dibiarkan saja, gula darah tinggi dapat menjadi parah dan menyebabkan komplikasi serius yang memerlukan perawatan darurat, seperti koma diabetes.

Dalam jangka panjang, gula darah tinggi yang persisten atau berlangsung terus-menerus – bahkan jika tidak parah – dapat menyebabkan komplikasi yang mempengaruhi mata, ginjal, saraf dan jantung.

Gula darah tinggi umumnya tidak menimbulkan gejala sampai nilai glukosa secara signifikan meningkat – di atas 200 miligram per desiliter (mg/dL), atau 11 milimol per liter (mmol/L).

Gejala gula darah tinggi berkembang secara perlahan selama beberapa hari atau minggu. Semakin lama kadar gula darah tinggi, maka gejala yang terjadi kemungkinan menjadi lebih serius. Namun, beberapa orang yang pernah memiliki diabetes tipe 2 untuk waktu yang lama mungkin tidak menunjukkan gejala apapun meskipun kadar gula darah tinggi.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Tanda dan Gejala Gula Darah Tinggi

Mengenali gejala awal gula darah tinggi dapat membantu mengatasi kondisi tersebut segera. Nah, perhatikan bila Anda mulai mengalami gejala seperti sering buang air kecil, sering merasa haus, penglihatan kabur, kelelahan, juga sakit kepala.

Ketahui Juga: Gejala Penyakit Darah Tinggi

Apabila gula darah tinggi atau hiperglikemia tidak diobati, maka dapat menyebabkan asam beracun (keton) yang terbentuk dalam darah dan urine – yang disebut dengan istilah medis ketoasidosis. Tanda dan gejala termasuk napas beraroma buah-buahan (manis), mual dan muntah, sesak napas, mulut kering, kelemahan, kebingungan, koma, juga sakit perut.

Selama proses pencernaan berlangsung, tubuh kita memecah karbohidrat dari makanan – seperti roti, nasi dan pasta – menjadi berbagai molekul gula. Salah satu molekul gula tersebut adalah glukosa, sumber energi utama bagi tubuh.

Glukosa yang diserap langsung ke dalam aliran darah setelah kita makan, tetapi bahan ini tidak dapat masuk ke dalam sel sebagian besar jaringan tubuh tanpa bantuan insulin – hormon yang disekresikan oleh pankreas.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Ketika tingkat glukosa dalam darah meningkat, itu sinyal bagi pankreas untuk melepaskan insulin. Insulin, pada gilirannya, membuka sel tubuh sehingga glukosa dapat masuk dan memberikan bahan bakar sel yang dibutuhkan tubuh untuk bisa berfungsi dengan baik. Kelebihan glukosa disimpan dalam hati dan otot dalam bentuk glikogen.

Proses ini menurunkan jumlah glukosa dalam aliran darah dan mencegahnya mencapai tingkat yang membahayakan. Saat tingkat gula darah kembali normal, begitu juga dengan sekresi insulin dari pankreas.

Nah, diabetes secara drastis mengurangi efek insulin pada tubuh kita, baik karena pankreas tidak dapat memproduksi insulin yang cukup (diabetes tipe 1) atau karena tubuh tahan terhadap efek insulin atau tidak memproduksi insulin yang cukup untuk mempertahankan tingkat glukosa normal (diabetes tipe 2).

Akibatnya, glukosa cenderung untuk terbangun dalam aliran darah sehingga memunculkan gula darah tinggi alias hiperglikemia dan dapat mencapai tingkat tinggi yang berbahaya jika tidak ditangani dengan baik. Untuk mengatasi hal ini, digunakan insulin atau obat lain untuk menurunkan kadar gula darah.

source : www.shutterstock.com
source : www.shutterstock.com

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gula darah tinggi

Banyak faktor yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya gula darah tinggi, antara lain:

1. Tidak menggunakan cukup insulin atau obat diabetes oral.

2. Abai menyuntikkan insulin dengan benar atau menggunakan insulin kedaluwarsa.

3. Tidak mengikuti rencana makan diabetes yang telah ditetapkan.

4. Gaya hidup santai alias tidak aktif.

5. Memiliki penyakit atau infeksi.

6. Menggunakan obat tertentu, seperti steroid.

7. Memiliki luka atau menjalani operasi.

8. Mengalami stres emosional, seperti konflik keluarga atau tantangan kerja.

Yang perlu kita tahu nih, penyakit atau stres dapat memicu gula darah tinggi atau hiperglikemia karena hormon yang diproduksi untuk memerangi penyakit atau stres juga dapat menyebabkan gula darah meningkat.

Bahkan orang-orang yang tidak memiliki diabetes dapat mengembangkan gula darah tinggi selama sakit parah. Orang-orang dengan diabetes mungkin perlu untuk mengambil obat diabetes ekstra untuk menjaga glukosa darah mendekati normal selama sakit atau stres. (VW)

 

LEAVE A REPLY