Di Sejumlah Negara, Tikus Jadi Hidangan Lezat. Foto: Wired

Gulalives.com, JAKARTA – Bayangkan, tikus yang buat sebagian orang dianggap sebagai hewan menjijikkan, di sejumlah negara malah digemari sebagai santapan lezat. Harga daging tikus bahkan bisa lebih mahal dibandingkan daging ayam.

Padahal kalau di Indonesia, bakso yang menggunakan campuran daging tikus dijamin bakal dijauhi pelanggan. Namun di sejumlah negara, tikus menjadi hidangan eksotis yang dianggap lumrah sebagai santapan.

Setiap tahun pada 7 Maret misalnya, di sebuah desa terpencil di perbukitan di timur laut India, suku Adi merayakan Unying-Aran, festival unik yang manjadikan daging tikus sebagai bintangnya.

Nah, salah satu makanan favorit Adi adalah sup bernama bule-bulak oying, yang terbuat dari perut, usus, hati, testikel, dan janin tikus. Semua itu direbus jadi satu bersama dengan ekor dan kaki tikus, ditambah garam, cabai, dan jahe, demikian seperti dilaporkan BBC.

Daging tikus siap diolah jadi beragam menu. Foto: Blogodisea
Daging tikus siap diolah jadi beragam menu. Foto: Blogodisea

Semua jenis tikus diterima oleh komunitas ini, dari tikus rumahan yang sering terlihat di permukiman sampai tikus hutan.

Kaki dan buntut tikus sangat dihargai karena rasanya yang enak, kata Victor Benno Meyer-Rochow, di Universitas Oulu, Finlandia, yang mewawancarai beberapa anggota suku Adi untuk sebuah penelitian tentang tikus sebagai sumber makanan.

Jawaban yang dia peroleh memberikan gambaran berbeda tentang hama ini. Para responden mengatakan pada Meyer-Rochow bahwa daging tikus adalah daging terbaik dan terenak yang bisa mereka bayangkan. Nah.

Bahkan, mereka ini sampai bilang…‘Tak ada pesta, tak ada kebahagiaan jika tanpa daging tikus: untuk menghormati tamu penting, pengunjung, atau kerabat, untuk merayakan acara khusus; semuanya hanya bisa dilakukan jika ada daging tikus.’”

Saking disukainya, daging tikus bukan hanya menjadi menu. “Hadiah berupa tikus, (yang sudah) mati tentu saja, juga penting untuk memastikan bahwa keluarga mempelai perempuan tetap senang meski anak perempuan mereka meninggalkan keluarga dan bergabung dengan keluarga suami,” kata Meyer-Rochow.

Di hari pertama festival Unying-Aran, atau Hari Aman Ro, anak-anak akan menerima hadiah dua tikus mati, sama halnya seperti anak-anak mendapat kado Natal.

Aneka olahan daging tikus. Foto: Dailymail
Aneka olahan daging tikus. Foto: AFP/Getty Images

Masih sedikit informasi tentang bagaimana atau kapan orang-orang Adi menyukai daging tikus, namun Meyer-Rochow yakin tradisi ini cukup panjang, dan bukan karena mereka kekurangan pilihan daging untuk makanan.

Di hutan di sekitar desa, ada banyak hewan seperti kijang, kambing, dan kerbau. Namun suku Adi lebih suka pada rasa daging tikus. “Mereka bilang, tak ada yang mengalahkan daging tikus,” katanya.

Meski seorang vegetarian, namun Meyer-Rochow kemudian mencoba daging tikus, rasanya sama seperti daging-daging lain yang pernah dia coba, hanya baunya yang berbeda. “Saya jadi teringat saat pertama di laboratorium menjadi mahasiswa zoologi, membedah tikus untuk belajar tentang anatomi tulang belakang,” katanya.

Melebihi Harga Daging Ayam

Bukan hanya di India tikus menjadi menu makanan. Pembawa acara TV Inggris Stefan Gates sudah pergi keliling dunia dan bertemu dengan orang-orang yang menggunakan sumber makanan tak biasa.

Di luar kota Yaounde, di Kamerun, dia menemukan peternakan kecil tikus tebu, spesies yang menurutnya, “mirip seperti anjing kecil, pemarah, dan buas”. Buas, tapi juga lezat. Menurut Gates, tikus ini adalah hidangan spesial karena lebih mahal dari ayam atau sayuran.

Tikus sebagai santapan karena minimnya pilihan. Foto: Wired
Tikus bukan lagi dianggap hama. Foto: Wired

Di negara bagian Bihar di India, Gates menghabiskan waktu dengan kasta Dalit, salah satu kasta termiskin di India. Orang-orang yang dia temui, oleh warga setempat, dijuluki ‘pemakan tikus’. Mereka menggarap lahan milik juragan tanah yang kaya dan berasal dari kasta lebih tinggi agar bisa menangkap tikus yang menjadi hama lahan.

Sejarah manusia makan tikus sudah ada sejak beberapa abad lalu. Menurut penelitian akademis dari Universitas Nebraska, Lincoln, tikus menjadi makanan pada Dinasti Tang (618-907 M) dan disebut “rusa rumahan”.

Salah satu hidangan khas Dinasti Tang adalah anakan tikus yang diisi dengan madu sehingga, menurut penulis, “bisa dengan mudah diambil menggunakan sumpit”.

Sampai 200 tahun lalu, kiore atau Rattus exulans, kerabat dekat tikus rumah, dimakan oleh banyak etnis Polynesia, termasuk bangsa Maori dari Selandia Baru. “Di masa pra-Eropa, Pulau Selatan Selandia Baru adalah sumber utama kiore, yang diawetkan dan dimakan dalam jumlah besar, terutama pada musim dingin,” kata Jim Williams, peneliti dari Universitas Otago di Selandia Baru.

Menurut Ensiklopedia Selandia Baru, kiore adalah hidangan untuk menjamu tamu, dan bahkan digunakan sebagai mata uang, ditukarkan pada upacara pernikahan. Tikus juga secara reguler dimakan di Kamboja, Laos, Myanmar, sebagian Filipina dan Indonesia, Thailand, Ghana, Cina, dan Vietnam, kata Grant Singleton, dari Institut Penelitian Beras Internasional, IRRI, di Filipina. (VW)