Gulalives.com, JAKARTA – Kamu kerap merasakan pusing, leher kencang tanpa sebab? Hati-hati, bisa jadi itu ciri-cri darah tinggi.

Hipertensi alias tekanan darah tinggi tak selalu ditandai dengan leher kencang atau kepala pusing. Kondisi ini bisa muncul tanpa gejala, atau mungkin muncul sedikit namun diabaikan, yang bisa berakibat fatal.

Menurut laman kesehatan Mayoclinic.org, kebanyakan orang yang memiliki tekanan darah tinggi tidak memiliki tanda-tanda atau gejala, bahkan jika ternyata setelah ditensi tekanan darahnya mencapai level tinggi yang berbahaya.

Meskipun demikian, beberapa orang dengan tekanan darah tinggi tahap awal mungkin akan memiliki ciri-ciri berikut ini, yaitu sakit kepala, pusing atau mimisan.

Tanda-tanda dan gejala tersebut biasanya terjadi ketika tekanan darah tinggi sudah parah – bahkan pada tahap yang mengancam jiwa.

Dipaparkan Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular  Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Ekowati Rahajeng, tak seperti demam yang selalu tanda yang spesifik, kebanyakan gejala hipertensi alias hipertensi tak menunjukkan gejala.

Mimisan _ www.solusisehatku.com
Mimisan _ www.solusisehatku.com

Rutin Cek Tekanan Darah

Karena jarang menunjukkan gejala, namun bisa berakibat fatal bahkan kematian, hipertensi kerap disebut silent killer. Untuk mengenali kemungkinan adanya risiko hipertensi, hal yang bisa dilakukan adalah melakukan pengecekan tekanan darah secara teratur.

Ekowati menyarankan, apabila seseorang memiliki faktor risiko hipertensi, di atas usia 40 tahun disarankan melakukan pengecekan tekanan darah sebulan sekali walaupun mungkin tak merasakan gejalanya.

“Sakit atau tidak, semua orang harus cek hipertensi. Ini karena pada umumnya tak ada gejala khusus mengenai penyakit hipertensi, dan hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan medis melalui tekanan darah,” imbuhnya.

Jangan terkecoh dengan hipertensi. Kondisi ini bukan monopoli orang lanjut usia. Pasalnya tren tekanan darah tinggi kini merambat ke usia lebih muda.

Hipertensi bisa dibedakan menjadi dua, karena keturunan (yang memang diwariskan) dan gaya hidup yang tidak sehat.

Anak-anak bisa mengalami hipertensi karena keturunan. Namun kasus semacam ini meskipun ada, jumlahnya tidaklah banyak.

Yang dominan adalah hipertensi karena gaya hidup yang tidak sehat, seperti pola hidup yang tidak aktif (sedentary lifestyle alias gaya hidup santai), jarang olahraga, merokok, dan hobi makan siap saji.

Faktor gaya hidup yang tidak sehat inilah yang memicu kejadian hipertensi pada kaum muda.

Terkait dengan meningkatnya penyakit kardiovaskular akibat hipertensi maka semua orang harus bisa menjaga pola hidupnya dengan mengubah perilaku ke arah yang lebih baik.

Data Riset Kesehatan Dasar 2013 menemukan bahwa lebih dari 25 persen orang Indonesia menderita hipertensi. Namun, tak sampai kurang dari 10 persen yang mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi.

Cegah Hipertensi, Gunakan Rumus CERDIK

Mimisan _ viminim.blogspot.com
Mimisan _ viminim.blogspot.com

Dalam upaya mencegah hipertensi, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan saat ini  gencar mengajak masyarakat berperilaku ‘CERDIK’, yaitu cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok dan polusi udara lainnya, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup dan kelola stres.

Perilaku CERDIK ini, kata Eko, harus terus ditingkatkan, terutama sosialisasi ke daerah-daerah sub-urban. Hal itu karena pengetahuan yang cukup mengenai hipertensi, merupakan bagian penting dari pencegahan penyakit hipertensi di masyarakat.

Laman Webmd.com menyarankan, satu hal yang perlu dilakukan untuk mencegah hipertensi adalah periksa tekanan darah (tensi) secara rutin: Untuk usia 18 tahun atau lebih periksa setiap dua tahun sekali.

Bahkan, anak usia tiga tahun dan lebih biasanya diperiksa tekanan darahnya sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan tahunan sebagai upaya deteksi dini hipertensu pada anak-anak.

Bagi yang sudah terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi, pemeriksaan akan lebih sering sesuai dengan petunjuk dokter. (VW)

 

LEAVE A REPLY