Cinta Tak Sekedar dari Mata Turun ke Hati, Tapi ada Zat Kimiawi
Ilustrasi Cinta. (Foto: Shutetrstock)

Gulalives.com, SEMARANG – Untuk para wanita, ungkapan yang selama ini kita dengar tentang cinta atau jatuh cinta adalah ungkapan dari mata turun ke hati, memang ada benarnya. Namun, ternyata jatuh cinta bukan sesederhana itu saja, sebab ada zat kimiawi yang turut berperan dalam proses jatuh cinta.

Adalah feromon, zat yang berasal dari bau yang dikeluarkan tubuh turut berperan dalam proses jatuh cinta. Feromon merupakan zat kimia yang dikeluarkan dari tubuh individu, yang dapat memengaruhi respon sosial. Feromon berbeda dengan hormon lain yang biasanya hanya memengaruhi individu itu sendiri. 

Dilansir Gulalives.com dari berbagai sumber kesehatan, sebuah penelitian yang dilakukan  mengungkap, di balik keringat yang mendominasi di bawah lengan manusia, terdapat zat tidak berbau yang mengandung feromon. Feromon diketahui melatari berbagai perilaku hewan dari spesies yang sama, misalnya untuk mengikuti jejak makanan, menandai daerah yang ditempati, kondisi waspada, hingga daya tarik seksual.

Nah, pada manusia, feromon sangat berbeda dengan hewan. Feromon sangat tergantung secara individual dan sering tidak disadari. Hingga kini, masih dilakukan berbagai penelitian feromon pada manusia dan perannya terhadap daya tarik seksual.

Menurut salah satu teori yang dikemukakan, yaitu saat seseorang tertarik atau merasa jatuh cinta, kemungkinan hal itu dipengaruhi oleh bau yang dikeluarkan tubuh. Bau tubuh yang dianggap menarik dan menyenangkan akan dipilih tanpa kita sadari.

Yang unik, biasanya bau yang dianggap menarik adalah bau yang memiliki imunitas terhadap penyakit yang berbeda. Hal ini kemudian dapat bermanfaat jangka panjang, yaitu keturunan yang lebih kuat dan sehat. Bahkan, sebuah penelitian melakukan ujicoba terhadap sekelompok orang menggunakan feromon buatan. Hasilnya, tampak peningkatan aktivitas fisik termasuk memeluk,mencium, hingga hubungan seksual.

Selanjutnya, para ahli kemudian menemukan adanya kemungkinan daya cium juga memengaruhi perilaku sosial dan seksual pada manusia. Studi mengatakan bahwa wanita yang melakukan hubungan seksual sebagai rutinitas memiliki siklus menstruasi yang lebih teratur, dibandingkan wanita yang hanya sesekali melakukan hubungan seksual. 

Kemudian, para wanita itu juga lebih subur karena penundaan penurunan estrogen. Peneliti kemudian menemukan penyebabnya yaitu feromon yang dihasilkan oleh para laki-laki, yang ternyata mempengaruhi naik turunnya estrogen wanita.

Menurut sebuah penelitian berbeda di Amerika Serikat, menghubungkan mengapa siklus menstruasi wanita bisa hampir sama karena adanya bau yang tidak disadari. Sekelompok wanita diminta untuk membaui keringat dari wanita lain. Hasilnya, wanita tersebut mengalami percepatan atau justru melambat, sesuai dengan kondisi dari  wanita yang dibauinya. Tindak lanjut dari hasil penelitian tersebut yaitu mengenai kemungkinan penggunaan feromon yang dikombinasikan dengan terapi medis, untuk dimanfaatkan dalam  progam kehamilan.

Ada berbagai hal selain feromon yang menjadi alasan jatuh cinta. Meski demikian, tak tertutup kemungkinan ketertarikan Anda pada seseorang saat ini dilatari oleh kecocokan feromon antar dua pria dan wanita yang saling mencintai. (DP)

 

LEAVE A REPLY