Gulalives.com, JAKARTA – Heran deh kalo melihat orang-orang yang hobi menerobos palang pintu perlintasan kereta api. Entah mau mengejar waktu atau sekadar uji nyali, aksi nekat menerobos ini jelas sangat berbahaya. Korban jiwa telah banyak berjatuhan, tetapi kesadaran masyarakat untuk mematuhi rambu perlintasan kereta api masih sangat minim. Nyawa itu nggak ada isi ulangnya!

Apa pun alasannya, para pejalan kaki atau para pengendara kendaraan bermotor harus berhenti ketika sirine telah berbunyi dan palang pintu perlintasan kereta api sudah tertutup. Berangkat dari kegelisahan ini, sejumlah aktivis yang tergabung di Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) melakukan kampanye keselamatan kereta api pada Kamis (15/10) kemarin di PJL 02 Jalan Madiun, Menteng, Jakarta Pusat. Aksi turun ke jalan ini pun didukung penuh oleh PT Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta.

Cegah Budaya Menerobos, Ini yang Dikampanyekan PT KAI 1

“Kegiatan ini kami laksanakan sebagai bentuk dari tanggung jawab kami sebagai sebagai pecinta kereta api. Kami ingin menyadarkan masyarakat betapa bahayanya menerobos perlintasan kereta api. Meski sudah banyak korban berjatuhan, nampaknya masyarakat masih menganggap ini masalah enteng. Ini yang mendorong kami untuk mengadakan kampanye ini dan Alhamdulillah Humas PT KAI Daop 1 mensupport kampanye ini,” lontar Ketua IRPS, Budi Bahariawan Sofyan.

Sekadar ilustrasi, saat ini ada 533 lokasi perlintasan kereta api yang ada di daerah Jakarta. Perlintasan yang dijaga oleh PT KAI ada 158 lokasi. Selebihnya? Ada 35 lokasi yang dijaga oleh pihak luar, 106 lokasi tidak ada penjagaan, 186 lokasi masih liar, dan 488 lokasi di flyover/underpass. Sudah dijaga saja masih banyak pengendara dan pejalan kaki yang menerobos, apalagi nggak ada yang menjaga?

Kalau anda sayang dengan nyawa, tentu anda nggak akan gegabah menerobos palang pintu kereta api. Masyarakat juga harus mengetahui UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan. Dalam pasal 114 UU tersebut dijelaskan pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib berhenti ketika sinyal telah berbunyi dan palang pintu kereta api sudah tertutup. Mungkin ada baiknya PT KAI kembali mengkaji pasal 296 UU tersebut yang hanya memberikan denda 750 ribu rupiah dan kurungan maksimal bulan buat siapapun pelanggarnya. Punishment ini rasanya nggak membuat efek jera yang cukup.

Cegah Budaya Menerobos, Ini yang Dikampanyekan PT KAI 2

Ayo lah sama-sama membantu tugas PT KAI yang telah berupaya semaksimal mungkin menyediakan lampu sirine, palang perlintasan, bahkan menyediakan tenaga khusus untuk menjaga perlintasan. Ini sebagai bentuk tanggung jawab, rasa aman dan nyaman masyarakat, khususnya pengguna jasa kereta api.

“Idealnya perlintasan sebidang itu tidak ada. Mestinya dibangun flyover atau underpass untuk menyelesaikan masalah. Kami menyambut rencana baik Pemda DKI untuk menghilangkan perlintasan sebidang secara bertahap. Tugas kami adalah menyelamatkan perjalanan kereta api. Jika terjadi sesuatu di perlintasan, kereta api tidak bisa berhenti untuk melakukan pengereman secara mendadak. Itu sebabnya UU memberikan prioritas pada kereta api untuk lebih diutamakan,” terang Senior Manager Corporate Communications PT KAI Daop 1 Jakarta, Bambang S Prayitno, kepada Gulalives.

Sejauh mana kampanye ini menumbuhkan kesadaran terhadap masyarakat? IRPS sebagai komunitas pelestari kereta api nggak akan berhenti memperjuangkan kampanye keselamatan kereta api ini.

Cegah Budaya Menerobos, Ini yang Dikampanyekan PT KAI 3

“Kegiatan ini nggak hanya sekali kami adakan. Kami akan terus mengadakannya secara berkala, khususnya di titik-titik perlintasan sebidang kereta api yang rawan. Kami akan mengajak pecinta kereta api di mana pun untuk bergabung bersama kami,” janji Budi Bahariawan Sofyan.

Selain Jakarta, kampanye ini akan bergerak ke kota-kota lain. Salah satunya yaitu hari Senin (19/10) esok di daerah Tambun, Bekasi. (VD)

LEAVE A REPLY