Gulalives.com, JAKARTA – Menggapai berat badan ideal atau berat badan ‘normal’ sudah tentu menjadi keinginan setiap orang. Untuk orang yang dari ‘sananya’ memang memiliki tubuh ideal – dalam artian metabolisme tubuhnya bekerja dengan baik – mungkin tak akan mengalami kenaikan berat badan yang memusingkan.

Untuk mengetahui apakah berat badan kita masuk kategori ideal atau kurus atau malah kelebihan berat badan hingga obesitas, umumnya digunakan pengukuran menggunakan Indeks Massa Tubuh (BMI).

BMI dihitung mendasarkan pada tinggi dan berat badan seseorang yang pada akhirnya digunakan untuk mendeteksi apakah seseorang termasuk golongan kurus, berat badan ideal, gemuk maupun obesitas.

Jika perhitungan BMI menghasilkan angka <18.5 maka dikategorikan kurus, sedangkan perhitungan BMI di rentang 18.5–24.9 masuk golongan berat badan normal atau ideal, sementara jika kalkulasi BMI menghasilkan angka 25–29.9 ini masuk kategori kelebihan berat badan. Orang yang obesitas memiliki angka BMI 30 atau di atasnya.

Berat Badan Ideal,.
Berat Badan Ideal. Berat badan ‘normal’ menjadi keinginan setiap orang. Sumber : www.shutterstock.com

Kalkulasi BMI Soal Berat Badan Ideal Dinilai Kurang Akurat

Selama ini pengukuran Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index/BMI) dijadikan patokan untuk mengetahui kategori berat tubuh seseorang: Apakah termasuk normal, kurang atau mengalami kegemukan.

Namun menurut ilmuwan gizi dari University of Pennsylvania, perhitungan BMI sebenarnya tidak akurat. Alasannya, BMI dihitung berdasarkan perbandingan berat dan tinggi badan, bukan merupakan ukuran yang akurat dari kadar lemak tubuh dan tidak memperhitungkan faktor-faktor penting yang berkontribusi terhadap kesehatan, seperti proporsi otot dan lemak, jenis kelamin dan perbedaan rasial dalam komposisi tubuh.

“Banyak penelitian bergantung pada BMI, dan kita tahu itu bukan ukuran yang sangat akurat,” kata salah satu peneliti, Dr Rexford AHIMA, seorang profesor kedokteran di University of Pennsylvania.

Hasil pengukuran BMI tidak memperhitungkan jumlah lemak perut. Padahal, lemak perut berpengaruh besar pada sejumlah penyakit serius.

Dalam studi terpisah Dr Margaret Ashwell dari Oxford Brookes University, Inggris, mengatakan selama ini BMI dianggap sebagai indikator yang paling diandalkan untuk pengkategorian lemak tubuh. Namun perhitungan tidak mempertimbangkan massa otot, sehingga tidak bisa secara tepat menentukan obesitas.

Untuk mengukur lemak secara detail dan akurat sebenarnya ada cara lain, yang melibatkan proses rumit dan mahal, seperti CT scan dan MRI, atau Dexa scan yang dapat mengukur kepadatan tulang serta lemak tubuh, demikian dilaporkan LiveScience.

Berat Badan Ideal (3)
Berat Badan Ideal dan Body Mass Index. Sumber : www.shutterstock.com

Kiat Mendapatkan Berat Badan Ideal Tidak Instan

Menurut Dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK, dokter spesialis gizi klinik yang juga pakar penurunan berat badan, secara umum ada empat pendekatan dalam terapi penurunan berat badan, yaitu terapi perubahan perilaku, pengaturan makan (diet), olahraga dan pengobatan.

“Secara teori terlihat mudah, seakan-akan keempat pendekatan itu dapat begitu saja diterapkan sama bagi setiap pasien. Ternyata aplikasinya tidaklah demikian sederhana. Setiap pasien obesitas memiliki karakteristik, motivasi dan riwayat kesehatan yang berbeda, oleh karena itu pada seminar dan kursus kali ini, kami mengajarkan tentang terapi pasien obesitas yang bersifat spesifik (individual) untuk masing-masing pasien,” ujar Samuel yang bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.

Berat badan ideal bisa dicapai antara lain mengatur pola makan agar tak kebablasan. Sayangnya kebanyakan dari kita hobi ‘melanggar’ aturan main pola makan ini. Padahal, sejatinya pola makan sehat bisa dikendalikan, dalam artian otak kita bisa dilatih menyukai makanan sehat lho.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa otak kita dapat dilatih untuk memiliki makanan sehat alih-alih makanan berkalori tinggi dengan menggunakan sistem diet yang tidak membuat orang lapar.

Berat Badan Ideal (1)
Berat Badan Ideal Tidak Bisa Instan. Sumber : www.shutterstock.com

Para ilmuwan dari Tufts University mengatakan ketagihan makanan dapat diubah dengan cara ini sekalipun jika ketagihan itu sangat kuat.

Para ilmuwan ini mempelajari bagian pusat ‘ketagihan’ atau adiksi di otak sekelompok kecil pria dan wanita.

Hasil penelitian menunjukkan adanya ketagihan terhadap makanan rendah kalori yang sehat.

Profesor Susan B. Roberts, penulis laporan dan ilmuwan nutrisi dan perilaku di Universitas Boston mengatakan, “Kita tidak memulai hidup ini dengan menyukai kentang goreng dan membenci pasta yang terbuat dari gandum.”

“Kondisi seperti ini terjadi setelah beberapa waktu sebagai tanggapan karena makan berulang kali makanan yang berkalori tinggi,” kata Profesor Roberts seperti dikutip BBC.

Ilmuwan kini juga mengetahui bahwa begitu orang mulai ketagihan makanan yang tidak sehat, biasanya tidak mudah untuk mengubah kebiasaan makan mereka dan untuk mengurangi berat badan.

Namun penelitian Profesor Roberts yang diterbitkan di jurnal Nutrition & Diabetes mengisyaratkan bahwa otak bisa belajar untuk menyukai makanan sehat.

Mereka mempelajari bagian di otak yang berkaitan dengan imbalan dan adiksi dari 13 pria dan wanita yang sangat kelebihan berat badan. Delapan dari mereka ikut ambil bagian dalam program yang dirancang khusus untuk mengurangi berat badan.

Program ini berfokus pada perubahan makanan yang disukai dengan memberikan makanan yang kaya akan serat dan protein, dan rendah karbohidrat, tapi tidak membuat peserta kelaparan karena pada saat itulah biasanya keinginan makan muncul dan makanan tidak sehat menjadi menarik. Sedangkan kelima peserta lain tidak mengikuti program pengurangan berat badan.

Ketika otak mereka dipindai menggunakan MRI pada permulaan penelitian dan setelah enam bulan, mereka yang mengikuti program pengurangan berat badan menunjukkan perubahan dalam pusat imbalan di otak mereka.

Ketika para peserta ini ditunjukkan gambar berbagai jenis makanan, makanan yang sehat dan berkalori rendahlah yang menimbulkan reaksi lebih tinggi.

Studi itu menyimpulkan bahwa hal ini mengindikasikan meningkatnya imbalan dan rasa senang akan makanan yang lebih sehat.

Menjaga Berat Badan Ideal dengan Pena dan Kertas

Pena dan kertas diyakini lebih dahsyat fungsinya ketimbang timbangan badan bagi mereka yang ingin terus memantau dan mengendalikan berat badan ideal. Kenapa demikian?

Membuat catatan harian mengenai konsumsi makanan ringan dan makanan berat adalah salah satu metode terbaik yang digunakan oleh para pelaku diet yang sukses, ungkap Dr. Christopher J. Mosunic, seorang spesialis manajemen berat badan dan diabetes di Greenwich Hospital di Greenwich, Connecticut.

“Membuat catatan dalam buku harian mengenai asupan makanan seperti layaknya olahraga, yang akan selalu bersedia membantu Anda menurunkan berat badan jika Anda melakukannya secara konsisten,” katanya.

“Saya dapat membagi pasien saya dalam dua kelompok. Mereka yang teratur membuat catatan harian dan yang tidak. Mereka yang rutin membuat catatan dalam buku harian biasanya sangat sukses dan saya bekerja dengan mereka selama sekitar 12 pekan. Sementara mereka yang tidak membuat buku harian adalah mereka yang kadang saya jumpai selama bertahun-tahun,” catat Mosunic.

Pelaku diet yang membuat catatan harian lebih sukses karena mereka bersedia mengakui setiap gigitan makanan yang mereka makan, yang dapat menunjukkan dengan jelas seberapa banyak kalori yang mereka konsumsi setiap hari, ujarnya.

Selain itu, catatan harian juga dapat membantu para ahli gizi untuk melacak dan mengetahui pola makan seseorang.

“Salah satu pola makan kunci yang dapat kami identifikasi adalah bagaimana makan besar terjadi,” kata Mosunic. “Kita bisa melihatnya dengan mengamati sesuatu yang sederhana, seperti apa yang dimakan untuk sarapan, mengapa glukosa darah rendah dan mereka akhirnya menggantinya dengan makan besar pada siang hari.”

Adalah penting untuk membuat catatan sederhana mengenai asupan makanan, yaitu selalu catat bahkan untuk jumlah makanan yang terkecil sekalipun, dan yang terbaik untuk selalu berbagi hasil catatan Anda dengan ahli gizi untuk mengetahui apakah asupan gizimu sudah cukup dan program penurunan atau menjaga berat badan sudah sesuai.

Berat Badan Ideal. Body Weight Loss Plan.
Asupan Makanan Perlu Dicatat Demi Capai Berat Badan Ideal. Sumber : www.shutterstock.com

Mencapai Berat Badan Ideal Pasca-Melahirkan

Perempuan setelah melahirkan biasanya memiliki program utama untuk menurunkan berat badan guna mendapatkan berat ideal seperti sebelum hamil. Namun, tak sedikit para ibu ini bingung memilih langkah yang terbaik untuk menyusutkan ukuran lingkar pinggang mereka.

Sebenarnya ada empat cara sehat yang dapat dilakukan tanpa obat untuk mendapatkan berat badan ideal seperti sebelum hamil, karena obat pelangsing dapat mempengaruhi ASI.

Para peneliti menyebutkan bahwa kehamilan menjadi salah satu penyebab utama bertambahnya berat badan wanita. Hal ini telah dipelajari secara ilmiah selama dua dasawarsa terakhir.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Obesity pada 2000 ini menemukan fakta 6 persen wanita mengalami penambahan berat badan setelah melahirkan anak pertamanya. Penelitian ini diikuti oleh 1.300 wanita sehat yang melahirkan antara 1980-1990.

“Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa wanita yang mempertahankan berat badan mereka setelah kehamilan akan membuat mereka gemuk, dan memiliki resiko kesehatan seperti diabetes atau jantung,” kata Prof Raul Artal, MD, ketua Bidang Obstetri dan Ginekologi dan Kesehatan Perempuan di Saint Louis University Medical School, seperti dilansir Sheknows.

Dr. Artal mengatakan tidak ada rumus ajaib untuk menurunkan berat badan setelah melahirkan. Peningkatan berat badan selama kehamilan terjadi secara bertahap, sehingga pengurangan harus dilakukan secara bertahap pula sehingga dapat menjaga berat badan ideal untuk waktu yang lama.

Ada empat cara yang diberikan Dr. Artal dalam hal menurunkan berat badan setelah melahirkan:

1. Menyusui

Banyak rumor beredar tentang pengaruh menyusui pada tubuh perempuan, seperti payudara menjadi turun atau meninggalkan tanda guratan. Namun rumor ini tidak benar, karena menyusui adalah cara yang mudah dan sehat untuk menurunkan berat badan.

Dr. Artal mengatakan menyusui tidak hanya bermanfaat bagi bayi yang baru lahir, tetapi juga untuk sang ibu. Rata-rata, wanita yang sedang menyusui bisa membakar lebih dari 600 kalori per hari.

2. Bergerak

Melakukan aktivitas fisik tidak terbatas hanya dengan olahraga, seperti di pusat kebugaran, bermain tenis atau basket. Tapi berjalan kaki, bersepeda atau merawat bayi setiap juga dapat membantu membakar kalori.

Jika perempuan memberikan ASI eksklusif dan mengurus bayi sendiri, maka dua kegiatan ini akan sangat membantu si ibu menurunkan berat badan.

3. Memikirkan makan hanya untuk diri sendiri

Berat Badan Ideal. Memikirkan makan hanya untuk diri sendiri.
Asupan Makan Untuk Diri Sendiri. Sumber : www.shutterstock.com

Setelah bayi lahir, si ibu harus segera menghapus pikiran mengenai perlunya asupan makanan untuk dua orang (ibu dan bayi), karena pikiran ini hanya akan menambah berat badan.

Dr. Artal merekomendasikan wanita yang baru melahirkan untuk merayakan kehadiran sang buah hati dengan makanan padat gizi seperti sayuran, daging tanpa lemak dan karbohidrat kompleks yang akan membuat mereka merasa kenyang lebih lama.

4. Mintalah bantuan profesional

Jika Anda tetap belum mampu menurunkan berat badan meskipun sudah melakukan langkah-langkah di atas, Dr. Artal menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan Anda atau ahli gizi.

Hal ini penting karena para ibu yang menyusui harus mendapatkan gizi yang baik sehingga kebutuhan gizi bayi tetap terpenuhi.

Berat badan ideal (8)

Makin Tua, Berat Badan Cenderung Bertambah

Apakah Anda pernah mendengar komentar bahwa pertambahan berat badan memang tak terelakkan dengan bertambahnya umur? Hal ini dapat terlihat seperti itu ketika berat badan naik meskipun sudah mengatur pola makan alias berdiet dan bahkan berolahraga.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa berbagai pilihan gaya hidup – bukan hanya jumlah kalori dalam diet, mempengaruhi berat badan Anda seiring pertambahan usia, demikian dikatakan ahli nutrisi dari MayoClinic, Katherine Zeratsky, R.D.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 100.000 pria dan wanita yang berada dalam kesehatan yang baik dan tidak obesitas. Berat badan, kebiasaan diet dan gaya hidup mereka dilacak sampai 20 tahun. Pertambahan berat tampaknya merayap, dengan kenaikan berat badan kurang dari 2 pon setiap 4 tahun.

Yang mengejutkan para peneliti adalah bahwa makanan tertentu secara independen terkait dengan kenaikan berat badan, yaitu keripik kentang, kentang, daging merah yang yang tidak diproses, dan daging olahan.

Berat badan ideal (6)

Di sisi lain, mengonsumsi lebih banyak sejumlah makanan, seperti sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan dan biji-bijian, justru dikaitkan dengan penurunan berat badan.

Kalori cair merupakan biang kerok lainnya. Minuman beralkohol dan jus buah dikaitkan dengan peningkatan kecil tapi bertahap terhadap berat badan. Minuman bergula adalah kontributor utama penambahan berat badan yang mungkin tak diketahui banyak orang, kata Zeratsky.

Faktor gaya hidup juga mempengaruhi kenaikan berat badan. Tidak mengherankan, aktivitas fisik penting untuk mengendalikan berat badan.

“Jadi batasi waktu nonton televisi. Tidur juga termasuk faktor yang berperan dalam berat badan. Orang-orang yang tidur antara 6-8 jam mengalami kenaikan berat badan terendah dibandingkan orang yang tidur kurang dari 6 jam atau melebihi 8 jam,” kata Zeratsky.

Berat badan ideal (7)

Berat Badan Ideal: Kurangi Secara Bertahap

Kegemukan bukan hanya soal estetika, namun bisa mencakup masalah kesehatan yang lebih serius. Sebuah pedoman baru untuk penurunan berat badan menyarankan orang-orang untuk “mengurangi bobot secara bertahap” untuk bertahan hidup telah dirilis di Inggris.

The National Institute for Health and Care Excellence (NICE) ingin orang yang mempunyai berat badan berlebih mengurangi sekitar 3% berat badannya mereka dalam waktu satu tahun – dan menghindari diet “yo-yo” (turun naik berat badan akibat pola diet yang salah).

Tapi NICE mengatakan mengurangi sedikit saja berat badan – mungkin hanya beberapa kilogram – akan mengurangi risiko tekanan darah dan diabetes tipe-2 dan beberapa jenis kanker.

Seseorang dengan berat badan 10 pon perlu mengurangi lebih dari enam pon untuk menghilangkan sekitar 3 persen bobot dari berat badan mereka.

Indeks massa tubuh (BMI) mereka akan turun menjadi 35-33. Siapapun yang memiliki BMI lebih dari 30 ini digolongkan sebagai obesitas.

Prof Mike Kelly, direktur pusat kesehatan masyarakat NICE, mengatakan pedoman itu berisi tentang sebuah perubahan hidup yang lebih baik dibanding metode diet “yo-yo”, ketika berat badan menumpuk kembali setelah berhasil menguranginya di awal.

Dia mengatakan bahwa pencapaian tujuan sangat dibutuhkan. “Kami ingin menawarkan solusi yang cepat, ambisi yang jauh lebih besar jika Anda suka, tapi sangat penting untuk diingat bahwa pada kenyataannya ini sulit. ”

“Ini bukan hanya masalah demi kebaikan kendalikan diri Anda dan kurangi bobot 6 kg – itu tidak akan berhasil,” ujarnya.

“Orang-orang merasa sulit untuk melakukannya – ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan hanya bangun di pagi hari dan memutuskan bahwa saya harus kehilangan 10 pon (setara 5 kg), dibutuhkan penyelesaian dan dorongan,” tandas Prof Kelly. (VW)

LEAVE A REPLY