foto: mediawirausaha.com

Gulalives.com, JAKARTA – Tak ada cinta yang dapat menandingi cinta ibu kepada anaknya. Dari mulai membuka mata hingga memejamkan mata, ibu berjuang untuk mengurus, merawat dan mendidik anak-anaknya. Jadi nggak heran dong, kalau kalimat ‘kasih sayang ibu sepanjang masa’ itu pas banget buat menggambarkan perjuangan seorang ibu.

Tapi terkadang, rasa lelah berjuang membuat seorang ibu juga bisa mengeluh dan ingin berhenti berjuang, serta tidak ingin direpotkan oleh segala macam tingkah laku sang buah hati, lho. Nah, jika kamu seorang ibu sudah berpikir seperti itu, lebih baik pikiran itu dibuang jauh-jauh ya! Karena untukmu yang sedang berjuang menjadi ibu, ada beberapa hal yang patut kamu syukuri.

Bersyukurlah, karena banyak wanita yang merindukan predikat sebagai seorang ibu

foto: abiummi.com
foto: abiummi.com

Hey ladies, perlu kamu ketahui banyak wanita diluaran sana yang begitu merindukan dirinya dipanggil ibu oleh sang buah hati. Namun apa daya, sang buah hati yang diimpikan tidak jua dianugerahkan oleh Allah SWT. Belum lagi, tuntutan dari lingkungan sekitar yang selalu menanyakan ‘sudah isi belum?’. Ditambah gelagat suami yang ingin menikah lagi demi mendapatkan keturunan. Akhirnya, rasa stress pun mulai menggerogoti kebahagian hidup.

Beda lagi nih, dengan wanita yang satu ini. Jangankan buah hati, calon suami yang akan menjadi jodohnya pun tak kunjung datang. Padahal, usia sudah tidak bisa dikatakan muda lagi. Pertanyaan basi yang sering dilontarkan dan membuat hati wanita ini menangis adalah ‘kapan nikah?’.

Nah, maka bersyukurlah kamu mempunyai suami dan darinya kamu memperoleh anak. Bersyukurlah karena kamu masih bisa merasakan sulit dan lelahnya menjadi seorang ibu. Karena wanita lain yang mendambakan dirinya menjadi seorang ibu, akan mengorbankan apa pun untuk berada di posisi kamu saat ini.

Walaupun merasa payah di atas payah saat mengandung, walaupun merasa sakit di atas sakit saat melahirkan, tapi dibalik kesulitan itu semua, sejatinya adalah keberuntungan yang patut disyukuri.

Kerepotan berbuah pahala

foto: topbaru.com
foto: topbaru.com

Ketika si kecil masih bayi, maka sang ibu akan direpotkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup si kecil. Mulai dari pemberian ASI, mengganti popok, mencuci bekas pipis-nya, hingga menenangkankan tangisannya. Kadang kala, ibu juga tidak tidur atau terbangun untuk menenangkan si kecil yang bangun tengah malam dan menangis.

Tugas sebagai seorang ibu tidak sampai di situ saja. Ketika sang anak telah memasuki usia bermain, justru lebih membutuhkan perhatian ekstra, karena ia belum bisa dilepas secara mandiri. Malah terkadang, ibu tidak hanya mengawasi sang anak bermain, tapi juga ikut terjun bermain bersama anak.

Namun, wahai ibu, ingatlah! Bahwa kerepotan demi kerepotan yang menghiasi hari-harimu, tidak akan pernah lupt dari catatan pahala Robb-mu. Kerepotanmu dalam mengurus anak bernilai ibadah yang buahnya kelak dapat dipetik di akhirat sana.

Berbuah kebahagiaan dengan segala tingkah laku buah hati

foto: muslimahcorner.com
foto: muslimahcorner.com

Nggak cuma di akhirat, perjuangan seorang ibu dalam repotnya membesarkan anak akan dibayar pula di dunia. Bayaran tersebut berupa rasa bahagia ketika melihat segala macam tingkah laku buah hati yang lucu dan mengundang tawa. Hari-hari ibu akan lebih menyenangkan karena dipenuhi canda tawa si kecil.

Coba bandingkan dengan keseharian seorang istri yang sudah bertahun-tahun menikah tapi belum juga dikaruniai buah hati. Pasti, hari-harinya terasa sunyi senyap tanpa gelak tawa si kecil. Maka bersyukurlah dengan nikmat ini.

Allah titipkan kunci surgaNya padamu

foto: muslimahcorner.com
foto: muslimahcorner.com

Allah SWT memberikan kedudukan yang istimewa bagi seorang ibu. Sampai-sampai ketika ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siapakah ia harus berbakti, maka Rasulullah menjawab: ibumu…ibumu…ibumu…kemudian ayahmu.

Kata ibu disebutkan sebanyak tiga kali saking mulia dan tingginya kedudukan seorang ibu bagi seorang anak. Ini berarti, ibu ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT tiga tingkat lebih atas dibanding ayah. Betapa tidak, ibulah yang mengandungnya selama 9 bulan dalam kondisi kepayahan. Ditambah rasa sakit yang harus dideritanya ketika melahirkan. Lalu pengorbanan demi pengorbanannya mengurus setelah ia lahir.

Maka jika anak yang telah dilahirkan dan diasuhnya berhasil menjadi anak shaleh yang mendo’akan kedua orang tuanya, anak tersebut bisa menjadi jalan baginya untuk masuk syurga. Dengan kata lain, anak yang dianugerahkan pada seorang ibu sama dengan kunci syurga dari Allah SWT yang dititipkan dalam genggaman tangannya.

Tapi, hal itu tinggal bagaimana seorang ibu memanfaatkan titipan tersebut. Apakah titipan tersebut akan dijaga dengan sungguh-sungguh hingga ia benar-benar bisa menjadi jalanmu ke syurga-Nya ataukah kamu sia-siakan dan kamu biarkam berlalu begitu saja.

Setiap untaian do’a dari lisanmu, selalu dirindukan anak-anakmu

foto: ukhtiindonesia.com
foto: ukhtiindonesia.com

Do’a yang keluar dari lisan seorang ibu, akan menjadi anugerah atau justru musibah bagi anak-anaknya. Do’a yang tulus dipanjatkan seorang ibu bagi anak-anaknya adalah sejata ampuh yang mustajab. Mudah dan sulitnya hidup seorang anak bisa berhubungan dengan ridha dari lisanmu.

Maka dari itu, sang anak haruslah berhati-hati dalam memperlakukan seorang bu. Jangan sampai seorang ibu tersakiti, yang menyebabkan bergeraknya lisan ibu dalam mendo’akan kejelekan bagi sang anak. Jadi tidak heran, jika Islam mengajarkan bahwa seorang anak haruslah berbakti pada ibunya. Do’a seorang ibu yang mendo’akan kebaikan harus pula selalu dimintanya jika ingin berbagai kesulitan hidupnya hilang. Begitu pula ketika memulai suatu usaha, maka mohonlah agar sang ibu berkenan mendo’akan kelancaran usaha tersebut.

 

So, bersyukurlah dan jangan berhenti berjuang wahai para ibu dipenjuru dunia. Tetaplah berjuang dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Insya Allah, segala pedih dan lelahmu dalam berjuang akan berbuah manis kelak. Berbuah kebahagian yang kekal abadi yang membuat orang lain cemburu pada predikat seorang ibu.

LEAVE A REPLY