Proyek Properti

Gulalives.com, JAKARTA – Banyak yang bilang, ekonomi Indonesia melemah. Kata mereka, pelemahan itu ditunjukkan oleh banyak indikasi atau tanda. Selain menurunnya nilai tukar Rupiah, tanda pelemahan itu juga ditunjukkan oleh rendahnya daya beli. Di properti, pelemahan ditandai dengan terjungkalnya pasar kelas menengah-atas.

Uniknya, pelemahan itu tak serta merta menurunkan irama kerja pengembang. Bukan hanya domestik, irama kerja pengembang asing pun tetap menderu. Bahkan, sejumlah pengembang manca negara semakin agresif menancapkan bisnis properti di lahan-lahan Indonesia.

Konsultan properti Chusman & Wakefield menyatakan, pengembang asing tersebut berasal dari negara – negara, yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi cukup bagus. Selain Asia, mereka juga datang dari Eropa. Senior Associate Direktur Investment Chusman & Wakefield, Andi Loe mengatakan, dari Asia, terdapat konsorsium pengembang Tiongkok dan Hongkong, yang akan masuk ke kawasan Jakarta Utara, Barat, dan area central business district (CBD) .

Di samping Tiongkok dan Hongkong, pengembang Asia juga ada yang berasal dari Jepang. Negeri Matahari Terbit itu memang rajin mengirimkan pengembangnya ke Indonesia. Saat ini terdapat tiga pengembang besar asal Jepang, yang mulai meramaikan industri properti Tanah Air. Yakni Tokyu Land, Mitsubishi, dan Toyota Housing.

Setelah ini, akan masuk lagi pengembang Jepang, guna menyusul kesuksesan koleganya. “Tokyu Land,Mitsubishi, masuk top five di Jepang. Sedangkan yang mau masuk, masuk top ten di Jepang,” ujar Andi.

Selain Asia, juga ada pengembang dari Swiss (Eropa). Pengembang ini menggarap proyek rumah tapak di kawasan Serpong, Tangerang. Dari Eropa, kata Andi, sementara ini baru Swiss yang masuk. “Baru pengembang Swiss yang paling siap dan paling berani mengambil risiko untuk pengembangan properti. Dia mau mengembangkan kawasan, bukan hanya investasi keuangan,” jelas Andi.

Lokasi mana yang paling digandrungi para pengembang asing? Soal ini, kata Andi, ada cara pandang prospektif yang menjadi pertimbangan utama dalam menentukan lokasi. Para pengembang asing menggunakan tren pembangunan infrastruktur sebagai acuan penentuan lokasi proyek. Pilihan lokasi mempertimbangkan arah perkembangan infrastruktur.

“Kalau soal lokasi, lebih baik mengikuti perkembangan infrastruktur. Infrastrukrur arahnya kemana, itu yang kami sarankan. Contohnya, sejak Tol Cipali terhubung, sekarang pasar properti terbuka sampai Cirebon. Namun, sementara ini kami masih merekomendasikan dari Bekasi sampai Subang,” ujar Andi.

Koridor yang membentang antara Bekasi sampai Subang merupakan kawasan prospektif. Kendati enggan menyebut kawasan ini sebagai sunrise property, namun menurut Andi, faktannya kawasan tersebut akan lebih berkembang daripada kawasan lain. Kawasan lain, infrastrukturnya agak stagnan dan harga lahannya sudah terlalu tinggi. (AA)

LEAVE A REPLY