Ilustrasi ibu dan anak.

Gulalives.com, PACITAN – Selalu ada yang menarik dan menginspirasi dari sosok ibu. Ibu adalah pelita kegelapan. Dan tepat hari ini, Selasa (22/12) seluruh masyarakat Indonesia sedang memperingati hari penuh sejarah, yakni hari ibu ke 87. Banyak inspirasi yang bisa diambil dari sosok ibu, termasuk salah seorang ibu yang juga novelis kenamaan, Eni Wulansari atau dikenal dengan nama pena Shabrina Ws.

Eni adalah satu diantara banyak novelis di Indonesia yang juga berprofesi sebagai ibu rumah tangga di Surabaya. Tak main-main, Eni adalah seorang novelis produktif tanah air, yang hingga kini telah melahirkan 9 karya novel yang bisa di dapatkan di toko buku seperti Gramedia, Toga Mas dan berbagai toko buku lainnya.

Novel yang sudah terbit diantaranya Kerlip Bintang-Bintang (juara harapan Depag 2003), Sketsa Negeri Para Anjing ( Zikrul 2006), Pelari Cilik (Bestari 2010), Petualangan Ciki Kelinci (Bestari 2010), Sakti dan Sapi Rebo (Leutika 2011).

Kemudian Eni juga sudah menerbitkan novel Ping A Message from Borneo (Bentang 2012), Always be in Your Heart (Mizan 2013), Betang: Cinta yang Tumbuh dalam Diam (Quanta 2013), Lesus dan Kisah Becak (Andi Publisher 2014), Deling (EraIntermedia 2014) dan Rahasia Pelangi (Gagas Media 2015). Beberapa cerpen yang pernah dimuat di media massa juga bisa dilihat di blog pribadinya di www.shabrinaws.blogspot.co.id.

Shabrina WS dan putrinya. (Foto: DP)
Shabrina WS dan putrinya. (Foto: DP)

Saat berbincang dengan wartawan, Selasa (22/12), Eni mengisahkan bagaimana dirinya mampu memanajemen antara dirinya yang novelis dan ibu rumah tangga. “Meski saya mencintai menulis, namun yang nomor satu tetaplah kewajiban saya sebagai ibu,” katanya.

Untuk memanajemen antara menulis dan kebersamaan bersama keluarga, wanita yang lahir di Pacitan, 1 Juli 1982 tersebut membagi waktu menulis dan bersama keluarga.

“Saya menulis waktu anak-anak sekolah, setelah rumah beres, biasanya jam 09-11.30, kemudian lanjut jemput anak, nah kalau anak-anak di rumah gak buka laptop, kemudian main sama mereka, nonton CD, atau baca sama mereka, nulis lagi dini hari, antara jam 3-4, biasanya malam sebelum tidur dapur juga harus beres juga. Karena setelah subuh ambil waktu buat olahraga” terang wanita yang hobi membaca puisi ini.

Dengan memanajemen antara hobi, profesi dan hubungan keluarga, menurut Eni yang kini berdomisili di Kabupaten Sidoarjo itu, adalah sebuah perjuangan seorang ibu.

“Karena menjadi ibu itu amanah, nah, menjaga amanah nggak selalu mudah. Ada ujiannya. Di situ perjuangan kita, sehingga perlu juga menyediakan waktu buat me time, yang nggak harus mahal, misalkan melakukan hal-hal kecil yang kita suka, yang penting bikin kita bahagia, soalnya kalau ibu stress, dampaknya ke anggota keluarga,” pungkas Eni.

Para ibu dimanapun berada, sudahkah Anda menyediakan me time bersama keluarga seperti Eni Wulansari? Apapun itu, jadilah ibu terbaik bagi anak-anak Anda. Jadilah madrasah ilmu dan jembatan cinta bagi keluarga. Selamat hari ibu. (DP)

 

 

LEAVE A REPLY