Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)

Gulalives.co, NEW YORK – Nara Masista Rakhmatia, nama ini dalam beberapa hari terakhir banyak diperbincangkan para netizen lantaran karena keberaniannya memarahi pemimpin 6 negara yang mengecam Indonesia. Nara Masista dengan tegas membalas pidato yang dilontarkan oleh Presiden Nauru, Presiden Kepulauan Marshall dan empat perdana menteri negara-negara Pasifik dalam sidang umum PBByang menyangkut pelanggaran HAM yang terjadi di Papua danPapua Barat. Pada Sidang Umum PBB itu, 6 pemimpin negara tersebut menyerukan kemerdekaan Papua.

Nara membalasnya pernyataan para pemimpin negara tersebut karena dianggap bermotif politik dan tidak mengerti persoalanPapua dan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Terlepas dari keberanian dan kecakapannya dalam Sidang Umum PBB.

Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)
Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)

Dilansir dari ABC News, Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Manasseh Sogavare, mengatakan adanya dugaan pelanggaran hak asasi manusia di beberapa provinsi Indonesia yang terkait dengan dorongan kemerdekaan. Nara lantas merespon dengan keras dan mengatakan kritik yang disampaikan para kepala pemerintahan tersebut bermotif politik dan sudah didesain untuk mengalihkan perhatian dari masalah-masalah yang terjadi di negara-negara mereka sendiri. 

“Penyampaian yang bermotif politik tersebut telah didesain untuk mendukung kelompok-kelompok separatis di provinsi-provinsi tersebut, yang secara konsisten telah terlibat dalam menghasut kekacauan publik serta dalam serangan teroris bersenjata,” katanya dalam sidang Majelis Umum PBB. 

Profil singkat Nara

Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)
Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)

Lalu, siapa sosok Nara Masista Rakhmatia? Wanita kelahiran 1982 ini diketahui lulusan SMA Negeri 70 Jakarta yang melanjutkan pendidikannya ke FISIP UI jurusan Hubungan Internasional. Tidak salah rasanya dia ditunjuk sebagai juru bicara Indonesia dalam Sidang Umum PBB, karena memang sederet prestasi dan pengalaman yang dimiliki wanita ini.

Setelah lulus kuliah pada tahun 2002, Nara, mengawali karirnya sebagai peneliti di CERIC (Center for Research on Inter-group Relations and Conflict Resolution) dan juga Center for East Asia Cooperation Studies yang merupakan lembaga dibawah naungan alamamaternya, FISIP UI.

Ia melanjutkan pendidikannya di Universitas St Andrews, Inggris, dengan mengambil studi tentang Peace and Conflic, lulus tahun 2011, kemudian di Georgetown University jurusan Communication and Media pada tahun 2012.

Banyak karya jurnal yang pernah dibuat Nara, salah satunya mengenai kebijakan luar negeri seperti Intrastate Conflict Management: The Twin Track Approach, the United Nations and ASEAN in Myanmar pada tahun 2010.

Nara bekerja di Kementrian Luar Negeri dan ditempatkan di Direktorat Kerjasama Antar Kawasan pada Direktorat Jenderal Urusan Asia Pasifik dan Afrika. Ia pernah menjabat Head of Section for Budget and Management Committe (BMS) APEC sebelum dikirim ke New York untuk menjadi Diplomat di PBB.

Sederet Pengalaman Nara

Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)
Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)

Perhatian Nara banyak terfokus pada isu-isu seputar kesenian dan kebudayaan, anak-anak, hak sipil dan aksi sosial, pendidikan, HAM, politik, penanggulangan kemiskinan, layanan sosial dan gender empowerment. Selain memiliki kompetensi dalam hubungan internasional dan diplomatik Nara juga mahir dalam berbahasa Inggris dan Mandarin.

Diplomat muda yang cantik ini merupakan alumni FISIP UI jurusan Hubungan Internasional. Dia juga pernah menjadi peneliti di CERIC (Center for Research on Inter-group Relations and Conflict Resolution) dan Center for East Asia Cooperation Studies. Nara Masista Rakhmatia kemudian melanjutkan studinya di University of St. Andrews pada tahun 2009-2010 dan kemudian di Georgetown University pada tahun 2012.

Saat ini menjabat Sektetaris II (second secretary) di Permanent Mission di Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk PBB. Jabatan ini baru dipegang Nara sejak April 2016. Sebelumnya dia menjabat sebagai Sekretaris III (third secretary), masih di tempat yang sama.

Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)
Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)

Jika merujuk pada tingkatan gelar diplomatik yang berlaku sama di dunia internasional, maka posisi Nara saat ini berada di bawah minister, minister counsellor, counsellor, dan first secretary, serta berada di atas third secretary dan attache.

Sebelum bekerja di Kementerian Luar Negeri, yang dimulai sejak 2014, Nara sempat mengabdi di almamaternya, Jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia, sebagai asisten peneliti (2006-2007) dan asisten dosen (2005-2006).

Lulusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia tahun 2006 ini aktif di Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia sebagai Head of Legislative Issues (2005-2006). Sebelumnya Nara mengambil studi Diploma III di bidang Media dan Komunikasi Masa, masih di Universitas Indonesia.

Nara melanjutkan pendidikan di University of St. Andrews dimana dia meraih gelar Master of Letters (M. Litt) dalam studi perdamaian dan konflik pada 2010 serta Studi Komunikasi dan Media di Georgetown University pada 2012.

Paparan gagah dari Diplomat Nara

Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)
Nara Masista Rakhmatia. (Foto: facebook.com/nara.rakhmatia)

Indonesia menjawab dan mengkritik sikap enam negara yang menuding pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua dalam forum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), di New York, Amerika Serikat.

Dalam Sesi ke-71 KTT PBB yang digelar 13-26 September itu, pemimpin enam negara Pasifik mendesak respons PBB terhadap keadaan di Papua. Mereka membahas soal kekhawatiran akan keadaan dan pelanggaran HAM yang terjadi di Papua Barat. Indonesia kemudian mengirim utusannya bernama Nara Masista Rakhmatia, untuk menyampaikan hak jawab di forum tersebut.

Dalam paparannya, Nara menyampaikan bahwa Indonesia jauh lebih baik soal penegakan HAM dibanding enam negara yang coba mengusik Indonesia lewat Papua.

Diplomat muda berparas cantik ini juga menutup pidatonya dengan sebuah pepatah, bahwa “Ketika seseorang menunjukkan jari terlunjuknya pada orang lain, jari jempolnya otomatis menunjuk pada wajahnya sendiri.”

Berikut isi pidato lengkap Nara yang diambil dari video Youtube, saat mewakili Indonesia di forum PBB. “Bapak Presiden, Indonesia hendak menggunakan hak jawab kami terhadap penyataan yang disampaikan Perdana Menteri Kepulauan Solomon dan Vanuatu.

Juga disuarakan Nauru, Kepulauan Marshall, Tuvalu dan Tonga. Terkait masalah-masalah di Papua, provinsi di Indonesia. Indonesia terkejut mendengar di sidang yang penting ini, di mana para pemimpin bertemu di sini untuk membahas implementasi awal SDGs (The Sustainable Development Goals).

Transformasi dari tindakan kolektif kita, dan tantangan global lainnya seperti perubahan iklim, di mana negara Pasifik yang akan paling terdampak. Para pemimpin tersebut memilih untuk melanggar piagam PBBdengan mengintervensi kedaulatan negara lain dan melanggar integritas teritorialnya.

Kami menolak mentah-mentah sindiran terus menerus dalam pernyataan mereka. Itu jelas mencerminkan ketidakpahaman mereka terhadap sejarah dan situasi saat ini serta perkembangan progresif di indonesia, termasuk di Provinsi Papua dan Papua Barat, serta manuver politik yang tidak bersahabat dan retoris.

Pernyataan bernuansa politik mereka itu dirancang untuk mendukung kelompok-kelompok separatis di provinsi-provinsi tersebut, yang begitu bersemangat mengganggu ketertiban umum dan melakukan serangan teroris bersenjata terhadap masyarakat sipil dan aparat keamanan.

Pernyataan negara-negara itu benar-benar melanggar tujuan dari piagam HAM PBB dan melanggar prinsip hukum internasional tentang relasi persahabatan antar negara serta kedaulatan dan integritas teritori suatu negara. Saya ulangi, itu sudah melanggar kedaulatan dan integritas teritori suatu negara. Hal itu sangat disesalkan dan berbahaya bagi negara-negara untuk menyalahgunakan PBB, termasuk sidang umum ini. Selamat Nara. (DP)

 

loading...

LEAVE A REPLY