Gulalives.co, SEMARANG – Depresi bisa menyerang siapa saja. Namun, para penderita jantung sebaiknya lebih waspada akan depresi. Pasalnya, para peneliti menemukan adanya hubungan depresi dengan peningkatan angka kematian para penderita gagal jantung.

Di era modern seperti saat di media sosial sudah berubah tidak hanya sebagai situs fasilitas komunikasi online namun juga sebagai jembatan dalam berbagai kegiatan masyarakat maya. Mulai dari keperluan bisnis hingga membentuk komunitas semuanya bisa dilakukan melalui media sosial seperti Facebook,#Twitter maupun situs lainnya.

Pamer Kemesraan di Socmed, Ciri Bahagia atau Tidak Pede
Pasangan yang sedang berfoto selfie dengan handphone (foto : Shutterstock.com)

Namun tahukah Anda bahwa mempunyai kebiasaan mengakses situs media sosial selama berjam-jam dalam sehari bisa menjadi indikasi bahwa kita sedang mengalami masa depresi. Hal ini secara resmi diungkap oleh kelompok peneliti dari Kanada lewat sebuah studi terhadap pengaruh penggunaan #media sosial. Hasilnya ternyata mayoritas pengguna media sosial yang notabenenya masih tergolong usia muda, mengalami masalah berat atau pun depresi dalam berbagai bentuk.

Pengalaman negatif berinteraksi melalui media sosial, Facebok misalnya, seperti dibully atau kesalahpahaman berujung pertengkaran hingga kontak teman yang tak disukai terbukti bisa meningkatkan risiko depresi.

facebook_bestonlinetricks.com
facebook_bestonlinetricks.com

“Berinteraksi melalui media sosial memang penting, tetapi jangan berpikir tak ada dampak dari pengalaman berinteraksi secara virtual itu bagi seseorang,” ujar asisten peneliti epidemiologi dari Brown University’s School of Public Health, Rhode Island, Samantha Rosenthal.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam Journal of Adolescent Health itu  peneliti melakukan survei pada 264 orang di tahun 2013 dan 2014. 8 dari 10 orang ternyata mengalami pengalaman negatif saat ber-Facebook-an, yakni dibully, menjadi korban kesalahpahaman hingga memiliki kontak orang yang tak diinginkan.  

facebook video_www.enkivillage.com
facebook video_www.enkivillage.com

Sebanyak 63 persen partisipan bahkan mengaku mengalami hal buruk itu di awal menggunakan layanan sosial itu. Hasil studi menunjukkan, gejala depresi ringan hingga sedang muncul pada seperempat partisipan. Risiko depresi lebih tinggi 3,2 kali di antara mereka yang mendapatkan pengalaman negatif saat berinteraksi melalui Facebook.

Mereka yang dibully bahkan berisiko 3,5 kali lebih tinggi terkena depresi dibandingkan yang tidak. Sementara undangan pertemanan yang tak diinginkan menyumbang sekitar 2,5 kali risiko depresi. Peneliti mengatakan, risiko depresi yang lebih tinggi setidaknya terjadi empat kali atau lebih menjadi korban kesalahpahaman. Sementara satu hingga tiga kasus bullying berhubungan dengan risiko depresi yang lebih tinggi.  

dulu dan sekarang
www.newsth.com

Mereka yang lebih sering mengalami hal-hal buruk itu tentu berisiko lebih tinggi merasakan gejala-gejala depresi. Studi lain, sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Pittsburg menunjukkan bahwa oreang-orang yang sering menggunakan media sosial memiliki risiko 2,7 kali lebih tinggi terkena depresi daripada orang-orang yang tidak terlalu sering memeriksa akun media sosial mereka.

Selain itu, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa orang-orang yang paling sering menggunakan media sosial memiliki risiko 1,7 kali lebih tinggi terkena depresi. Media sosial yang dipelajari dalam studi ini adalah Facebook, YouTube, Twitter, Google Plus, Instagram, Snapchat, Reddit, Tumblr, Pinterest, Vine dan LinkedIn. 

Galau Karena Facebook, Tinggalkan Dia
Ilustrasi perempuan bermain facebook. (Foto: Shutterstock)

Studi ini diikuti oleh 1.787 responden dengan rentang umur 18 hingga 32 tahun. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa durasi penggunaan media sosial rata-rata adalah 61 menit per hari dan tingkat kunjungan rata-rata ke media sosial adalah 30 kali per minggu.

CNET menyebutkan, dengan banyaknya studi yang menghubungkan antara penggunaan media sosial dan depresi, membuat banyak orang berasumsi bahwa menggunakan media sosial justru membuat Anda sedih.

Sebuah penelitian di tahun 2013 dari University of Michigan menyebutkan, Facebook secara aktif merusak kesehatan dewasa muda. Di tahun 2009, Stony Brook University melakukan riset yang memiliki kesimpulan bahwa Facebook membuat remaja perempuan depresi.

Capai Pengguna 1 M, Facebook Makin Tak Tertandingi
Capai Pengguna 1 M, Facebook Makin Tak Tertandingi

Namun, kepala penelitian Lui yi Lin mengatakan bahwa meski terlihat ada hubungan yang kuat antara media sosial dan depresi, tapi, kemungkinan, ada hubungan diantara keduanya tidak sesederhana yang dibayangkan.

“Mungkin, orang-orang yang depresi menggunakan media sosial untuk membuat hidupnya tidak terasa hampa,” kata Lui di situs universitasnya. Selain itu, dia menambahkan, tidak tertutup kemungkinan, media sosial menyebabkan depresi yang membuat penderitanya semakin kecanduan menggunakan media sosial.

Facebook Video Jadi Rival Terberat Youtube
Facebook Video Jadi Rival Terberat Youtube

Director of Pitt’s Center for Research on Media, Technology and Health Brian Primack menegaskan bahwa tidak semua interaksi di media sosial adalah sama.

“Penelitian di masa depan harus meneliti apakah penggunaan media sosial yang berbeda – aktif versus pasif – menimbulkan risiko depresi yang berbeda. Ataukah risiko depresi dipengaruhi oleh sifat interaksi: interaksi bersifat konfrontasi dan interaksi yang mendukung,” katanya. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY