Gulalives.co, SEMARANG – Menghukum anak dengan cara memukul lebih banyak dilakukan oleh orangtua zaman dulu. Namun tak dimungkiri, metode hukuman ini masih banyak diterapkan oleh orangtua di era modern seperti sekarang. Anak sering dipukul dengan harapan ia akan lebih disiplin.  Sebenarnya, pukulan menjadi bagian dari hukuman orangtua pada anak, hingga sekarang masih menuai perdebatan di kalangan guru, psikolog, dan orangtua.

memukul anakMenurut laporan dari Washington Post, sekarang ini semakin sedikit jumlah orangtua di Amerika Serikat yang menerapkan metode hukuman spank (memukul tanpa melukai) pada anak. Kondisi ini pun menjadi kontras dengan laporan bahwa mayoritas orangtua di AS tetap mendukung metode hukuman spank.

National Association of Pediatric Nurse Practitioners (NAPNA) pada tahun 2011 sempat mengangkat isu metode menghukum dengan cara memukul seperti itu. “Hukuman fisik memiliki faktor risiko penting, di mana anak-anak dapat mengembangkan pola perilaku impulsif dan anti sosial. Anak-anak yang lebih sering mengalami hukuman fisik lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku kekerasan di masa dewasa,” jelas NAPNA. Jadi, anak yang sering dipukul akan tumbuh menjadi pelaku kekerasan.

pukulHampir mirip dengan NAPNA, pada tahun 2012, American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, menyimpulkan bahwa hukuman fisik dapat mengubah perilaku anak dalam waktu singkat, meningkatkan keagresifan anak, dan dapat menurunkan moral perilaku anak.

Seorang peneliti lain, Paul Frick dari Universitas New Orleans, AS mengatakan, memukul (spanking)  bisa menyebabkan anak mengalami gangguan emosional dan perilaku. Anak-anak yang sering dipukul menunjukkan tanda-tanda depresi atau kepercayaan diri yang rendah. Anak yang kerap dipukul justru belajar bahwa setiap kali mereka kesal atau marah, mereka akan dipukul. Anak malah tidak memahami bahwa tindakannya salah dan harus memperbaiki perilakunya.

mukul-anak2Sejumlah penelitian membuktikan anak juga bisa berperilaku baik, kooperatif dan sopan tanpa pernah mendapat hukuman fisik. Kini, cara pendisiplinan anak tanpa kekerasan  dan mulai banyak digunakan adalah metode time out. Cara ini bertujuan untuk mengajarkan kemampuan mengatasi dan mengurangi tindakan negatif. Anak bisa menenangkan diri setelah menghadapi situasi tidak menyenangkan, tapi tetap harus dilakukan dengan tepat.
 
Meski begitu, sampai saat ini tidak semua keluarga beralih menggunakan time out untuk mendisiplinkan anak. Masih ada keluarga yang tetap menganut cara mendisiplin anak dengan memukul. Namun, American Academy of Pediatrics menegaskan, memukul hanya efektif ketika digunakan dalam situasi tertentu yang benar-benar sudah diseleksi sehingga tidak terlalu sering digunakan.

 

memukul dapat membuat hubungan anak dan orang tua tidak baik sumber foto: katalogbunda.com
memukul dapat membuat hubungan anak dan orang tua tidak baik sumber foto: katalogbunda.com

Sementara, Denise Cummins, Ph.D, Cognitive Scientis dan Penulis Good Thinking: Seven Powerful Ideas that Influence the Way We Think, menguraikan tiga dampak buruk pada anak yang sering mendapatkan pukulan dari orangtua sebagai berikut.

Yang pertama, mengajarkan hadapi konflik dengan kekerasan. Anda menyebutnya disiplin. Anak Anda melihatnya sebagai solusi. Pasalnya, anak akan menuruti keinginan orangtua ketika mereka menerima pukulan. Kebiasaan itu akan dia salurkan dan dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sosial.

Anak yang sering dipukul sewaktu kecil, kata Cummins, tidak memilik kendali diri dalam menghadapi konflik ketika mereka dewasa. Selain itu, anak melihat orangtua sebagai seseorang dengan tubuh yang lebih besar dari mereka. Jadi, mereka pun bakal berpikir bahwa memukul seseorang yang lebih kecil itu adalah hal yang lazim. Anak yang tumbuh menjadi penindas atau pelaku bully di sekolah, kebanyakan memiliki orangtua yang kasar dan penyiksa di rumah.

memukul akan merendahkan anak sumber foto: nisrina.co.id
memukul akan merendahkan anak sumber foto: nisrina.co.id

Kedua, anak menjadi minder dan susah percaya orang lain. Orangtua seharusnya menjadi pelindung dan pembimbing anak dalam menjalani kehidupan. Sebab, orangtua merupakan orang dewasa yang paling dekat pada anak. Nah, perilaku kasar orangtua justru membuat anak tidak percaya pada Anda. Kondisi ini pun membuat mereka semakin sulit mempercayai orang lain kala mereka dewasa. Selain itu, anak yang terbiasa disakiti dari kecil, tumbuh dengan minim rasa empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Terakhir, mereka jadi bodoh. Kekerasan tidak sebatas pukulan dan cubitan. Sebab, umpatan dan hinaan juga termasuk dalam kekerasan secara verbal. Anak yang terbiasa dibilang bodoh, tidak becus, dan malas, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak cemerlang secara akademis. Mereka juga selalu meragukan kemampuan diri sendiri. Ingat, ucapan orangtua itu adalah doa. Jadi, pastikan selalu mengutarakan kalimat positif pada si kecil sang buah hati Anda. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY