Gulalives.co, JAKARTA – Kabar duka menyelimuti Indonesia dan keluarga Pahlawan Kemerdekaan Bung Tomo. Istrinya yang bernama, Hj Sulistina Sutomo meninggal dunia pada Rabu 31 Agustus 2016 dini hari sekira pukul 01.42 WIB di RSPAD.

Kabar meninggalnya istri pembakar semangat arek-arek Suroboyo sewaktu peristiwa 10 November 1945 ini menyebar di sejumlah grup-grup sosial media. Kontan saja ucapan belasungkawa juga terus mengalir, terutama bagi warga Surabaya yang tak asing lagi dengan keluarga Bung Tomo.

Sebelumnya dia sudah menjalani perawatan di RSPAD sejak dua pekan lalu. Disebutkan, Sulistina meninggal dikarenakan paru-parunya tidak bersih, sehingga harus dibersihkan. Namun ternyata terdapat infeksi.

sulistinMenurut Bambang Sulistomo, Putra Bung Tomo, rencananya jenazah akan diberangkatkan ke Surabaya pukul 11.30 WIB dari rumah duka di Jalan Haji Muhasyim Buntu Nomer 45, Tarogong, Fatmawati, Cilandak Barat, Jakarta.

“Jenazah akan disalatkan di Masjid Al Akbar kemudian dimakamkan di TPU Ngagel, Surabaya,” tulis Bambang Sulistomo, Rabu (31/8/2016). Jenazah Hj Sulistina Sutomo ini akan dimakamkan di samping makam Bung Tomo yang sudah meninggal sebelumnya.

Sejak kabar itu menyebar, hingga saat ini ucapan turut berduka cita masih ramai di sejumlah Grup Whatsup.

Dalam grup tersebut juga diumumkan, bagi yang ingin memberi penghormatan terakhir kepada Hj Sulistina Sutomo diminta untuk datang ke Masjid Al Akbar, tempat jenazah disalatkan.

“Bagi kawan-kawan yang ingin ikut mensalatkan, memberi penghomatan terakhir dengan cara ikut menghantarkan Almarhumah, titik kumpulnya bisa di Masjid Agung pukul 14.00,” ujar AH Thony, saah satu anggota Grup Rek Ayo Rek Surabaya.

Semasa hidup, Sulistina Sutomo dikenal sebagai sosok yang inspiratif. Almarhumah menjadi pendamping setia Bung Tomo sewaktu perang mempertahankan kemerdekaan yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 November sebagai Hari Pahlawan. Almarhumah pernah meluncurkan buku yang berjudul Sulistina Sutomo “Buku Romantisme Bung Tomo” pada 2006.

Perobohan rumah radio

sulistina1Tahun lalu, Sulistina menyatakan kesedihan akibat perobohan eks rumah Radio Perjuangan Bung Tomo. Sikap sedih sekaligus kekecewaan ditunjukkan Sulistina saat ditemui Tri Rismaharini, Walikota Surabaya dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Wiwik Widayati di kediamannya di Cibubur, Jakarta, kemarin. 

Dalam pertemuan itu, Risma, sapaan wali kota,  menyampaikan perihal peristiwa perobohan rumah di Jalan Mawar nomor 10 Surabaya. Rumah itu disebut sebagai cagar budaya eks rumah Radio Perjuangan Bung Tomo. Sulistina Sutomo hanya mendengarkan dengan sikap diam dan dingin. 

Sulistina mengatakan, sudah kewajiban semua pihak untuk menjaga nilai sejarah kota Surabaya. Karena penetapan Surabaya sebagai Kota Pahlawan merupakan satu-satunya di dunia.”Sebutan itu pantas disematkan karena korban pertempuran Surabaya yang sangat besar jumlahnya,” tuturnya.

Sulistina menuturkan keikhlasan para pejuang yang mengorbankan nyawa tanpa pamrih demi mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, dia mengecam tindakan tidak bertanggung jawab generasi sekarang yang tidak mampu menjaga jejak, sejarah dan semangat kepahlawanan.

Bu Tomo juga meminta pihak yang melakukan perobohan bangunan itu untuk secara jantan mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum dan negara. Ketika disinggung mengenai lokasi rumah Radio Perjuangan Bung Tomo.

Kisah Romantisme dengan Bung Tomo

sulistinBung Tomo, pahlawan yang membakar semangat rakyat dalam peperangan 10 November 1945, wafat di Arafah, Mekah, saat wukuf. Ia wafat pada 7 Oktober 1981, atau empat hari setelah hari ulang tahunnya. Sehari sebelum wafat, Bung Tomo sempat bertanya ke Sulistina, ”Masih punya uang buat pulang, enggak?” Bung Tomo menanyakan hal tersebut karena tahu keluarganya hanya punya uang pas-pasan selama tinggal di Mekah.

Tapi Sulistina tak ambil pusing. Dia hanya menjawab, ”Sudah. Yang penting Mas Tom sembuh dulu.” Siapa sangka itu menjadi percakan terakhir antara Bung Tomo dan Sulistina.

Sebelumnya Bung Tomo terserang dehidarasi akut akibat kelelahan saat menjadi pemimpin kelompok terbang haji dadakan. Sulistina, istri Bung Tomo, ingat betul sorot mata suaminya yang semula tegas dan kerap sangar saat berpidato jadi memerah nan sayu, lengkap dengan kantong mata yang gelap. 

Bung Tomo, Sulistina bercerita, terserang dehidrasi akut. Tak jarang pria pemilik nama asli Sutomo itu merasa kepalanya berputar-putar. Tapi Bung Tomo berkukuh untuk tetap mengurus jemaah haji Indonesia yang sedang menunaikan Rukun Islam ke-5 di Baitullah, rumah Allah.

”Di tengah kesibukan itulah kondisi suami saya menurun,” ujar Sulistina. Ketika tak sadarkan diri, Si Bung akhirnya dilarikan keluarganya ke Rumah Sakit Kerajaan Arab Saudi, Jeddah, pada 3 Oktober 1981, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-61. Menurut diagnosis dokter: Bung Tomo terkena komplikasi dehidrasi akut dan stroke. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY