Gulalives.co, SEMARANG – Banyak yang menganggap anak yang bertubuh gemuk cenderung lebih sehat ketimbang anak dengan bobot yang biasa saja. Padahal anak yang gemuk dan cenderung obesitas menyimpang risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.

Orangtua mana yang tidak senang melihat buah hatinya tumbuh menjadi balita yang gemuk nan menggemaskan. Seringkali balita gemuk juga menjadi objek pujian, karena dianggap sehat dan bergizi baik. Padahal, dibalik pipi gemuk yang menggemaskan dari balita bertubuh gemuk, ada risiko kesehatan yang mengintainya jika tak diintervensi sejak dini.

bayiSebagaimana dikutp Gulalives.co dari berbagai sumber kesehatan, anak yang gemuk mengalami penumpukan sel lemak di bawah kulit maupun jaringan organ. Kondisi ini pada gilirannya dapat mengundang berbagai risiko penyakit seperti diabetes, jantung hingga stroke saat anak tumbuh dewasa.

Menimbang banyaknya resiko kesehatan didapat dari kegemukan, maka terjadinya kegemukan sejak bayi sebenarnya tidak boleh terjadi. Karena gemuk sejak bayi akan menyebabkan pola dan ukuran sel-sel lemak tubuh anak akan telanjur terbentuk salah. Selain jumlah sel-sel lemaknya terbentuk lebih banyak dari anak normal, ukurannya pun lebih besar, sehingga upaya untuk mencapai berat badan normal akibat gemuk sejak bayi lebih sulit daripada yang mengalami kegemukan di usia remaja atau dewasa.

bayi gemukKegemukan terjadi lantaran kalori yang masuk lebih banyak dari yang dipakai. Pada situasi normal, tanpa mengurangi makan, dengan kegiatan yang cukup, akan dibuang cukup banyak kalori hingga terjadi keseimbangan kalori tubuh yang negatif (negative energy balance). Namun, akibat terbentuknya kesalahan pola makan yang membuat perilaku makan anak menjadi berlebihan (over-eating) kelebihan kalori yang berujung pada kegemukan semakin sering ditemui.

Kelebihan kalori ini lantas disimpan menjadi lemak dan gajih di bawah kulit. Sel-sel lemak tubuhnya pun menjadi besar-besar, selain jumlahnya lebih banyak dari anak normal.

Ada dua kategori kelebihan berat badan yang perlu diketahui. Pertama kelebihan berat badan (overweight) dan kedua, kegemukan (obese). Sementara ukuran untuk mengetahui apakah seseorang kelebihan berat badan adalah dengan menggunakan formula BMI (Body Mass Index). Alat BMI ini berbentuk seperti kompas, untuk menunjukkan tinggi dan berat badan.

anak gemukDengan mencocokkan tinggi dan berat badan, kita akan mengetahui ukuran tubuh kita, apakah kita termasuk kurus, normal, kegemukan, obesitas, atau obesitas ekstrem. Cara menghitungnya: berat (kg) dibagi tinggi (meter) pangkat dua. Idealnya pada kisaran indeks 20-25. Mereka yang indeksnya 25-30 tergolong overweight atau kelebihan berat badan, sedang yang 30-40 sudah tergolong kegemukan.

Ini sebabnya penyakit kardiovaskular tidak lagi diderita orang berusia 50-an ke atas. Usia-usia muda juga sudah ada yang terkena stroke, diabetes atau penyakit jantung. Risiko penyakit yang mengintai anak-anak obesitas, bahkan lebih besar dibandingkan risiko yang dialami mereka yang memiliki masalah obesitas pada usia dewasa. Jika pada anak penumpukan sel lemaknya yang banyak sehingga menyebabkan obesitas. Sementara usia dewasa, volume selnya yang besar sehingga lebih mudah untuk diturunkan.

Penelitian menunjukkan, anak sulung dalam keluarga ternyata lebih cenderung lebih gemuk dibanding adiknya.
Penelitian menunjukkan, anak sulung dalam keluarga ternyata lebih cenderung lebih gemuk dibanding adiknya.

Sebelum risiko tersebut mengintai, orangtua harus secara rutin menimbang berat badan dan mengukur tinggi buah hatinya. Dan yang terpenting, biarkan anak bergerak secara aktif di luar rumah agar penumpukan lemak bisa dicegah. Pada anak-anak, seharusnya bergerak setidaknya 60 menit dalam sehari. Bentuk aktivitas fisiknya pun tak perlu terlalu berat, seperti berjalan santai, bersepeda, berkebun, main lompat tali, basket, atau sepak bola.

Apabila dibiarkan, kelebihan berat badan anak yang tidak terkontrol dapat menyebabkan anak mengalami obesitas. Nah, saat dewasa hal ini akan meningkatkan potensi anak mengidap berbagai penyakit. Beberapa waktu lalu Menteri Kesehatan RI, Profesor Dr dr Nila Moeloek, SpM(K)  menyayangkan masyarakat menganggap anak gemuk itu lucu dan menggemaskan. Padahal kegemukan pada anak memiliki risiko diabetes.

Tidur-lebih-cepat-cegah-kegemukan-pada-anakDiabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 bisa dialami oleh anak-anak. Apalagi jumlah pasien diabetes tiap tahunnya meningkat. “Sekarang diabetes tipe 1 pada anak-anak tinggi. Jangan menyangka diabetes itu hanya pada orang tua,” kata Menkes Nila.

Anak gemuk atau bahkan sampai obesitas bisa karena dua hal. Pertama adalah saat ibu mengandung  tak mengontrol konsumsi makanan sehingga gula darahnya naik drastis dan memengaruhi perkembangan janin. Kedua, saat sudah lahir anak dipaksa untuk banyak makan melebihi porsi wajar sehingga berat badannya juga bertambah.

Yang paling disarankan, anak memiliki berat badan yang normal. Untuk itu pastikan anak mendapat asupan yang memiliki nilai gizi seimbang. Selain itu pastikan pula anak melakukan olah fisik agar tidak terbiasa dengan gaya hidup sedentari yang pada akhirnya juga bisa mengundang datangnya aneka penyakit. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY