Gulalives.co, JAKARTA – Charleston, Carolina Selatan adalah sebuah kota yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Menurut Penghargaan Pilihan Pembaca Conde Nast Traveler ke-29, kota bagian selatan Negeri Paman Sam di mana Perang Saudara AS dimulai ini sekarang merupakan kota yang paling ramah di dunia.

“Semakin banyak orang yang datang ke Charleston,” kata wakil editor digital Conde Nast, Laura Redman kepada CNN, dikutip Selasa (23/8/2016).

“Orang-orang Eropa sedang menuju ke Charleston karena mereka telah mendengar tentang makanan dan arsitektur. Ini semakin banyak diliput, dan menjadikannya momentum.”

Sementara, kota Sydney berada di posisi kedua, diikuti oleh Dublin di tempat ketiga.

Conde Nast, majalah tentang ulasan tempat wisata dunia, yang baru saja menerbitkan daftar kota-kota ramah di dunia, menyusun satu daftar gabungan untuk CNN. Lebih dari 100.000 pembaca menanggapi survei majalah travel tersebut tentang kota, hotel, resor, pulau-pulau, penerbangan, jalur pelayaran, dan tujuan perjalanan masa depan. Adapun untuk tahun keempat berturut-turut, pembaca dapat megikuti survei kota paling ramah di dunia.

charUntuk wisatawan yang baru saja tiba di tempat tujuan, sebuah kota bisa mendapatkan reputasi dari keramahan melalui penduduk setempat dan penampilan.

Charleston, Savannah dan Nashville, seluruh kota di selatan AS, menonjol sebagai tempat di mana penduduk setempat dinilai cepat untuk menawarkan keramahan dan bantuan lainnya. Survei juga menunjukkan bahwa penduduk setempat berbicara satu sama lain.

Charleston adalah kota tertua dan terbesar kedua di negara bagian Carolina Selatan, Amerika Serikat. Awalnya kota ini bernama Charles Towne. Pada tahun 2009, diperkirakan Charleston memiliki jumlah penduduk sebesar 124.593 jiwa. “Mereka tidak kehilangan pesona selatan mereka,” kata Redman.

Staf hotel atau resor yang memberikan salam pada tamu pada saat kedatangan dengan proses check-in yang mudah dan minuman yang menyegarkan, yang kadang-kadang dikhususkas untuk anak-anak, juga menjadi tambahan nilai.

charlesRedman menambahkan, kota-kota yang mudah dinavigasi dan menawarkan para tamu kesempatan untuk merasa seperti penduduk lokal juga dinilai ramah kepada wisatawan.

Pada 2011 dan 2013, Charleston menjadi kota paling ramah di dunia versi majalah yang berkantor pusat di Kota New York tersebut. Mereka yang pernah berkunjung ke Charleston tidak akan pernah bisa melupakan kecantikan kota tersebut. Baik itu tata kotanya maupun arsitektur klasik bangunan di sana.

Kota berpenduduk sekitar 132 ribu jiwa tersebut memiliki banyak taman. Atau, setidaknya area teduh yang ditumbuhi pepohonan rindang. Kecantikan dan keklasikan Charleston sukses menjadi magnet kuat yang tidak pernah berhenti menarik pengunjung.

Selain punya daya tarik fisik yang kuat, Charleston tenar karena keramahan penduduknya. Rata-rata turis yang datang ke kota itu terkesan dengan kebaikan penduduk lokal.

Selain ramah, warga setempat ringan tangan. Belakangan, sorotan media terhadap hal-hal positif di Charleston ikut memunculkan sisi kelam kota tersebut. Di balik keelokannya, kota yang dulu bernama Charles Town itu juga menyimpan segudang masalah. Terutama masalah gelandangan alias tunawisma.

’’Arus pendatang ke kota ini sangat deras. Angka tunawisma pun terus meningkat,’’ terang Anthony Haro, direktur eksekutif Lowcountry Homeless Coalition.

Saat ini, menurut Haro, ada sedikitnya 450 tunawisma di Charleston. Separo di antaranya benar-benar hidup menggelandang lantaran tidak punya tempat yang tetap untuk sekadar tidur dan beristirahat.

’’Hanya ada satu tempat penampungan darurat yang bisa dimanfaatkan para tunawisma,’’ ungkapnya. Kapasitas tempat penampungan bagi pria dan perempuan itu hanya sekitar 250 orang.

Haro menyebutkan, dirinya menemukan sekitar 120 gelandangan di bawah jalan layang yang tidak digunakan lagi. Mereka tinggal di lokasi tersebut sejak Maret lalu.

Selama ini pemerintah hanya memindahkan para gelandangan itu ke kawasan utara. Padahal, seharusnya pemerintah membangun lebih banyak tempat penampungan.

charlestonMeski dihuni banyak tunawisma, bagi Haro, Charleston tetap menjadi kota yang menarik. Sebagai pendatang yang kini sudah mengantongi kartu penduduk tetap, dia jatuh cinta pada kota tersebut sejak kali pertama menginjakkan kaki di Charleston.

Tingginya angka tunawisma bukan satu-satunya masalah serius di Charleston. Mengingat sejarahnya sebagai salah satu kota perbudakan, isu rasial juga mewarnai kota tersebut sampai sekarang.

Apalagi, Louisiana tercatat sebagai salah satu negara bagian paling rasial di AS. Salah satu kekerasan rasial yang pecah di Charleston dan menjadi bagian kelam sejarah AS adalah kerusuhan Red Summer pada 1919. Tahun lalu Dylan Roof dengan santainya menembak mati sembilan warga kulit hitam sembari berjalan di pusat kota. Dia memang bukan warga Charleston.

Tetapi, aksi rasialnya menorehkan catatan negatif di kota majemuk tersebut. Tahun ini tidak ada insiden bersenjata yang rasial di Charleston.

Berikut 10 Kota Paling Ramah versi Conde Nast Traveler

1. Charleston, South Carolina, AS
2. Sydney, Australia
3. Dublin, Irlandia
4. Queenstown, New Zealand
5. Park City, Utah, AS
6. Galway, Irlandia
7. Savannah, Georgia, AS
8. Krakow, Polandia
9. Bruges, Belgia
10. Nashville, Tennessee, AS

(DP)

loading...

LEAVE A REPLY